Purnawan_ea

| 13 July 2014 | 09:31



5803
Dibaca
22
Komentar
5
Rating

Kerusuhan Pada Tanggal 22 Juni 2014 Nanti?


Banyak teman saya terutama dikalangan pengusaha yang resah. Keresahan mereka berpangkal pada ketakutan terjadinya kerusuhan setelah nanti hasil resmi Pilpres KPU diumumkan. Tentu saja keresahan ini wajar karena faktanya kelompok Koalisi Merah Putih tidak menerima hasil Quick Count dari lembaga- lembaga  survey independen bahkan menunjukkan perlawanan frontal, seperti tampak apda  jawaban-jawaban Prabowo ketika diwawancara BBC.

Saya tidak resah karena meyakini bahwa keadaan akan tenang, KPU akan menghasilkan nilai suara yang sejalan dengan Quick-count yang memenangkan Jokowi-JK dan Prabowo-Hata bisa menerima dengan legowo.

Inilah pertimbangan saya:

a. Faktor SBY. Sampai saat ini yang memegang instrumen kekuatan secara legal konstitusional  adalah SBY. TNI/Polri, intelejen, PPATK dll dalam kendali SBY sebagai Presiden RI. SBY adalah model leader non heroik, punya kecenderungan terlalu  hati-hati dan lebih memikirkan pencitraan  diri di dunia Internasional. Apalagi SBY sangat berambisi menjadi Sekjen PBB selepas masa jabatan Presiden RI berakhir. Peluang untuk menjadi Sekjen PBB juga besar karena pusaran politik dunia sekarang sedang berada di centrum Asia Timur. Jadi SBY dapat diduga akan berusaha sekuat tenaga untuk mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden dengan cantik, dalam tepuk tangan gemuruh di panggung  Internasional. Oleh karena itu sekuat tenaga ia akan mengawal hasil Pemilu sebersih-bersihnya. Maka seperti sudah terlihat, TNI/Polri + KPU berusaha keras menampilkan hasil setransparan mungkin  perolehan suara yang dihasilkan oleh Pilpres 9 Juli 2014 yang lalu.

Ada yang mengisuekan SBY takut dijerat hukum, takut besannya masuk penjara dan takut anaknya dijerat KPK. Menurut pengamatan saya,  SBY bukan type pemimpin heroik yang rela berkorban secara konyol untuk pengikutnya, maka ia akan memilih rekan dan kerabatnya masuk penjara dibanding kalau harus mengorbankan citranya. Saya yakin  kalau Ibas masuk KPK, SBY justru  akan lebih melenggang menjadi Sekjen PBB karena merupakan tokoh yang “tidak pandang bulu”. Jadi isue yang menyatakan bahwa SBY akan bermain untuk mengaduk suasana, demi suasana  chaos yang menghasilkan status-quo tidak bisa saya terima. SBY tidak akan pernah mengorbankan citra dirinya di mata  Internasional !

b. TNI/Polri plus intelejen jaman sekarang sudah sangat beda dengan era Orde Baru. Tentara/Polisi sekarang sudah tidak punya lagi nyali “pejuang kemerdekaan” (justru baik karena lebih profesional) sehingga tidak berani lagi melakukan pembunuhan terhadap rakyatnya sendiri seperti th 1965 atau 1998. Mereka lebih sadar sebagai manusia biasa yang bekerja sebagai Tentara/Polisi bukan lagi seperti jaman Orde Baru dimana Tentara/Polisi adalah alat kekuasaan dan sekaligus menjadi Warganegara Utama sampai anak cucunya. Dijaman ini Kopasus yang menyerang penjara saja bisa diadili, tidak mungkin keadaan  ini bisa terjadi di jaman Orde Baru. Pimpinan TNI/Polri masa kini sudah ciut nyalinya kalau harus berhadapan dengan rakyat. Jadi isue yang menyatakan TNI/Polri akan menginfiltrasi untuk “ikut bermain” juga tidak bisa saya terima. TNI/Polri akan menjalankan perintah atasan dan para atasan TNI/Polri juga takut pada hukum dan people power. Mereka sangat sadar bukan jaman Orde Baru lagi ,dimana saat  pensiunpun masih angker karena punya sisa  kuasa. Mereka sadar sesadarnya, ketika pensiun, kekuasaannya sirna, bahkan kalau salah sebagai penguasa masih bisa di jerat KPK !

c. Prabowo adalah type pemimpin heroik, artinya model yang berani melanggar rambu demi anak buah, impulsif dan kalau merasa benar tidak akan pakai basa basi lagi langsung melabrak. Kondisi saat ini ia dikelilingi para “Sengkuni”  yang terus-menerus  men-suply tepuk tangan palsu dan kebohongan terselubung. Contoh paling jelas adalah ketika Prabowo menuduh Jokowi tidak setuju Koperasi. Karena sibuk kampanye, Prabowo  menjadi tidak mampu melakukan re-check (Ia juga model pemimpin yang percaya pada inner circlenya, percaya inner circlenya tidak akan mencelakainya, seperti ketika ia percaya Habibi tidak akan cidra janji untuk mengangkatnya sebagai Panglima ABRI ), sehingga ada  berita (sebetulnya black campaign) yang menyatakan  “Jokowi tidak setuju Koperasi” ia segera menjadikan dasar acuan untuk menyerang Jokowi. Sebelum debat terakhir itu , semua media kelompok  anti Jokowi  menyiarkan  “Jokowi tidak setuju Koperasi”, dan berita ini saling dikloning oleh sesama media dalam kelompok itu, sampai semua timses Prabowo jadi percaya dan Prabowopun percaya bahwa Jokowi punya “titik lemah” yakni terlanjur menyatakan  tidak setuju koperasi ketika kampanye di Indramayu ( diberita-berita blackcampaign, Indramasyu yang mana, tanggal berapa, tidak ada yang menyebutkan). Senjata makan tuan karena Prabowo terlalu percaya pada mesin perangnya sendiri, sementara para “sengkuni” sudah kehabisan akal untuk menyerang Jokowi.
Seandainya tidak ditiup oleh timses bahwa lembaga QC yang memenangkan Jokowi-Jk dibiyai Asing, dan nasib Bangsa Indonesia ditangan asing, Prabowo sebetulnya sudah legowo menerima, tetapi karena Machfud MD ikut meyakinkan bahwa lembaga survey yang memenangkan Jokowi melancarkan serangan opini publik, maka heroisme Prabowo berontak, apalagi ketika Mega memproklamirkan kemenangan Jokowi, para “sengkuni” makin punya makanan empuk untuk disuapkan kepada Prabowo, dan Prabowopun bernyala-nyala ketika diminta  pidato di TV One pada tanggal 9 Juli 2010 malam.

Pada dasarnya Prabowo adalah seorang yang punya pola pikir barat (seperti Habibi dll yang lama hidup di dalam kebudayaan Barat) Ia fair (asal merasa punya dasar rasional),  sulit berbasa basi, dan impulsif  sehingga  mudah mengulurkan tangan kalau merasa lawan lebih benar. Itulah sisi positif Prabowo Subianto

d. Koalisi Merah Putih adalah koalisi transaksional, dan merupakan koalisi elite bukan koalisi masa seperti pendukung Jokowi. Koalisi ini harus dibiayai dan difasilitasi serta sangat kental memikirkan untung rugi. Jadi koalisi ini tidak akan berani bikin ricuh kalau tidak ada biaya untuk ricuh dan ricuh menguntungkannya. Saya meyakini, dengan “membeli waktu” sampai tanggal 22 Juli nanti, SBY berhasil menurunkan syahwat perusuh, apalagi para perusuh sudah dalam keadaan kurang gizi. Para perusuhpun juga  tahu TNI/Polri serius mengamankan negeri ini ( lihat (a) dan (b) diatas)

e. Sosial media terus mengawal dan menelanjangi kecurangan lembaga survey yang tidak jujur.Mendorong KPU jadi transparan melalui internet, sehingga dasar argumen para “sengkuni” agar  Prabowo  ngotot mempertahanakan kemenangan semu  jadi buyar. Prabowo bukan pengecut, dia pemberani dan mencintai Indonesia menurut caranya sendiri.

Jadi saya sangat nyenyak tidur, dan meyakini lahirnya  Indonesia Baru yang memiliki Pimpinan Nasional yang merakyat, yang sungguh-sungguh hanya  bekerja untuk semua rakyat,  yang tidak lagi dibatasi oleh kaidah-kaidah kelompok. Hanya ada satu rakyat dalam Indonesia Baru. Bukan seperti jaman yang lalu: rakyatnya Sukarno lebih utama dari rakyatnya PSI/Masyumi, rakyatnya Gokar lebih utama dari rakyatnya PPP/PDI. Dalam Indonesia Baru yang dicanangkan Jokowi hanya ada satu rakyat yakni : RAKYAT INDONESIA yang bersatu padu menyongsong era emas mendatang ! Generasi Muda Indonesia sangat sanggup mengawalnya, menuju pintu gerbang keemasan seperti yang dicanangkan para pendiri republik ini di dalam sidang Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUKI) pada  th 1945

Tags: pilpres2014

Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..

Kotak Suara 2014 berisi berita dan opini warga seputar hiruk-pikuk Pemilu 2014 dengan tag "pileg2014", "pilpres2014",atau "serbaserbipemilu"

Tulis Tanggapan Anda
Guest User