Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Arya Fidel

urip mati kagem Gusti :)

Yang Tersisa dari Pemilu Legislatif 2014

OPINI | 09 April 2014 | 17:23 Dibaca: 67   Komentar: 0   0

Terik matahari pada 9 april 2014 ini seakan ingin menggambarkan panasnya persaingan antara calon legislatif yang bersaing untuk mendapatkan tempat sebagai wakil rakyat. Segala usaha dilakukan para calon untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat.

Kampanye, merupakan salah satu cara yang banyak dilakukan dari calon yang maju pada pemilu legislatif kali ini. Dengan iming – iming berbagai janji mereka para calon berlomba untuk meraih suara terbanyak. Partai yang menjadi naungan para calon ini juga selalu siap mendukung bakal wakil rakyat nantinya.

Tanggal 16 Maret – 5 April 2014 merupakan waktu dimana partai dan calon legislatif melakukan kampanye terbuka. Waktu yang dirasa cukup untuk menarik perhatian melalui baliho, poster , maupun bendera serta berretorika mengenai visi misiya.

Namun, pada kenyataanya hari ini 9 April 2014, tepat dihari pemungutan suara dilakukan masih ada beberapa sisa – sisa atribut kampanye yang belum dibersihkan, padahal sudah jelas tertulis dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum No. 15 tahun 2013, Pasal 17 ayat 2. “Peserta Pemilu wajib membersihkan alat peraga kampanye paling lambat 1 (satu) hari sebelum hari/tanggal pemungutan suara”.

Namun, pada kenyataanya beberapa partai dan calon anggotanya tidak mengindahkan pertaturan yang sudah dibentuk oleh KPU. Seperti yang tampak disepanjang Jalan Pemuda Ds. Teruman Kersen, Bantul. Terdapat atribut dari beberapa partai yang tidak dibersihkan. Bahkan salah satu diantaranya ada yang memasang atribut kampanye berdekatan dengan sekolah dan tempat ibadah, suatu tindakan yang notabenya dilarang oleh KPU.

Poster yang Menempel di Jalan Pemuda Ds. Teruman Kersen, Bantul

Poster yang Menempel di Jalan Pemuda Ds. Teruman Kersen, Bantul

Poster yang Menempel di Depan Taman Kanak - Kanak

Poster yang Menempel di Depan Taman Kanak - Kanak

Pasal 17 ayat 1, “alat peraga kampanye tidak ditempatkan pada tempat ibadah, rumah sakit atau tempat-tempat pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan - jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman dan pepohonan”.

Ironis memang, para calon wakil rakyat yang seharusnya menjadi contoh untuk rakyat nantinya justru tidak memberi citra yang positif bahkan dari yang hal terkecil yaitu mengenai atribut kampanye. Selain telah melanggar peraturan, pemasangan atribut mulai dari poster hingga baliho tersebut dapat merusak estetika daerah dan kota itu sendiri.

Adanya fenomena money politic juga merupakan salah satu pelanggaran lain dimana dengan amplop berisi kruang lebih Rp. 20.000,- kita diharapkan mau untuk berbelot pada seorang caleg (calon legislatif). Kejujuran pada dasarnya tidak dinilai dengan rupiah, keinginan yang tulus adalah hal yang lebih baik “dijual” kepada publik daripada harus merogok kocek untuk satu suara.

Fenomena Money Politik

Fenomena

Berbagai pelangaran yang disisakan ini merupakan “pr” (pekerjaan rumah) bagi bangsa Indonesia. Disinilah kita sebagai masyarakat yang cerdas seharusnya bisa memposisikan diri dan ikut aktif dalam pemilu legislatif 2014 ini. Selain ikut melakukan pemungutan suara, sudah selayaknya kita bisa menjaga ketertiban bersama.

Adanya Bawaslu (Badan Pengawasan Pemilu), sebenarnya dibentuk untuk mengatasi segala pelanggaran yang terjadi, namun dengan bantuan dari kita, masyarakat ,ketertiban akan lebih mudah dicapai sehingga nantinya dapat meminimalisir angka pelanggaran dan menciptakan Indonesia yang lebih baik bersama – sama.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 13 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: