Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ben Baharuddin Nur

Pernah menjalani beragam profesi antara lain sebagai pegawai negeri sipil, jurnalis, pengelola NGO dan Direktur selengkapnya

Quick Count Pemilu Legislatif 2014

HL | 09 April 2014 | 11:45 Dibaca: 626   Komentar: 22   7

RRI saja dengan infrastrukturnya bisa menghitung cepat | foto: www.rri.co.id

Radio Republik Indonesia saja dengan infrastrukturnya bisa lakukan hitung cepat | foto: www.rri.co.id

Sebentar lagi mata dan telinga jutaan warga Indonesia akan tersedot ke suatu metode penghitungan suara yang disebut Quick Count. Namanya juga quick count yang berarti perhitungan cepat, dia harus hadir segera menyajikan informasi, meskipun bukan informasi resmi.

Seberapa akurat hasil hitung cepat ini sebenarnya? Berdasar pada pengalaman hitung cepat pada perisitiwa yang sama, perbedaan antara hitungan resmi dan hitungan cepat di Pemilu 2009 lalu, ternyata hanya nol koma sekian persen, akurasi yang patut diacungi jempol sebenarnya mengingat besaran jumlah suara yang harus dihitung.

Bagaimana cara mereka mendapatkan informasi yang begitu akurat? Bayangkan kalau anda mau menghitung perolehan suara di daerah pemilihan (dapil) anda sendiri lalu mengutus sejumlah orang yang anda percaya ke semua TPS di dapil anda itu. Setelah TPS ditutup dan penghitungan suara rampung, pasti sudah didapatkan data akurat dari tiap hitungan resmi di TPS. Selanjutnya orang kepercayaan anda mengirim info perolehan suara di setiap TPS kepada anda yang kemudian anda tabulasi. Saat itu juga anda sudah punya pegangan, apakah partai anda menang atau kalah di dapil anda itu, lengkap dengan angkanya.

Nah bayangkan kalau semua partai melakukan itu melalui bantuan kadernya masing-masing, maka seharusnya semua partai sudah punya pegangan mengenai kemenangan dan kekalahan partainya dari semua daerah pemilihan di Indonesia sesaat setelah semua TPS rampung melakukan perhitungan suara.

Kalau partai yang mengumumkan kepada publik, pasti tingkat kepercayaannya kurang karena rakyat berpikir pasti si partai yang mengumumkan ada kepentingan di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan lembaga survey independen untuk melakukan pekerjaan itu dengan menggunakan tenaga sukarelawan mereka sendiri.

Semakin besar jumlah sukarelawan dari sebuah lembaga survey, berarti semakin banyak TPS yang bisa dilaporkan. Jadi sebenarnya mereka tidak lagi mengambil sekedar sampel, bahkan cenderung mengambil data dari populasi dimana sekali lagi saya katakan sangat tergantung pada jumlah dan sebaran sukarelawannya.

Karena adanya perbedaan waktu, jumlah pemilih, dan kendala lokal lainnya, tidak semua TPS dapat merampungkan perhitungan pada waktu yang bersamaan. Makanya pada saat tayang di televisi, biasanya terjadi perlombaan perolehan suara yang tampak kejar-kejaran antara satu parpol dengan parpol lainnya. Semakin banyak suara yang masuk dari sukarelawan, maka semakin mengerucut kepada sejumlah partai yang dominan, dan semakin lama semakin jelas berapa persen perolehan dari masing-masing partai.

Masing-masing parpol tinggal mencocokkan dengan hasil hitungan masing-masing. Protes dari Parpol terhadap quick count biasanya dilakukan oleh partai kecil yang sukarelawannya terbatas dimana mereka biasanya memiliki data yang cakupan sumbernya terbatas yang berpotensi berbeda dengan cakupan lembaga survey.

Sesaat lagi kita akan melihat quick count di Metro TV, TV One dan stasiun TV lainnya. Selamat menikmati Quick Count Pemilu Legislatif 2014. Salam Kompasiana (ben369).

————————— @ben369 ————————–

Tags: quick count

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 4 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 6 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: