Adriano Jacatra

| 04 April 2014 | 15:12



185
Dibaca
8
Komentar
1
Rating

Prabowo: Mengapa Aku Ragu Memilihmu!


Sesungguhnya dari semua calon presiden, secara gestur aku lebih suka Jendral Prabowo. Saya suka akan body language-nya yang memperlihatkan sikap tegas, percaya diri dan mumpuni. Saya mengikuti secara dekat melalui berbagai pemberitaan baik dari media cetak maupun media elektronik maupun melalui iklan-iklan kampanye beliau. Saya suka dengan cara bicaranya yang tegas dan tidak klemar-klemer seperti Jokowi. Sikap beliau yang secara spontan merespon setiap pertanyaan, menandakan bahwa beliau punya konsep sehingga dengan mudah menerka kemana arah pertanyaan

Memang masa lalu beliau tidaklah bagus. Karirnya di TNI melesat, lebih disebabkan karena terkait dengan keluarga Suharto. Tanpa dukungan keluarga Suharto, mungkin Prabowo pensiun dengan pangkat kolonel. Mengapa? Karena lebih banyak teman-teman angkatan Jendral Prabowo yang lebih greget dan tangkas sebagai perwira tapi karena gak punya dukungan yang kuat seperti Prabowo, semuanya pada memble dan tertinggal karirnya dibelakang.

Keterlibatan Prabowo dalam menculik para mahasiswa yang anti Suharto, juga merupakan masalah tersendiri yang sampai saat ini belum jelas, dimana tulang belulang pahlawan reformasi itu dibenamkan Prabowo. Walaupun para penculik (Tim Mawar) sudah di hukum tapi Prabowo hanya dikenakan tindakan indisipliner dan tidak harus tinggal dibalik jeruji besi penjara. Memang begitulah, budaya hukum Indonesia, tajam kebawah tapi tumpul keatas.

Dari sisi keluarga, Prabowo tidak dapat dibilang sukses. Setelah bercerai dengan putri mantan presiden Suharto, katanya ┬ásampai saat ini masih men-jomblo. Agak repot juga kalau kita mempunyai presiden tanpa ada First Lady yang mendampinginya. Walaupun Jendral Mao Tse Tung, juga tidak pernah didamping First Lady secara resmi, tapi ladies simpanannya cukup banyak. Tapi seorang presiden selayaknya mempunyai pendamping agar dalam acara-acara kenegaraan tidak mendamping istri wakil presiden…wkwkwkwkwk.

Tapi sudahlah, itu semua masa lalu dan tidak perlu di ungkit-ungkit dan diperdebatkan karena setiap orang punya masa lalu yang mungkin tidak sebaik yang kita harapkan. Jendral Prabowo-pun sebenarnya tidak ingin melalui itu semua dan semua yang dihadapinya adalah pilihan-pilihan yang sulit. Oleh karena itu marilah kita melihat kedepan. Toh, yang akan kita nilai adalah apa yang dapat dilakukan Jendral Prabowo sebagai presiden sekaligus kepala negara, untuk meningkatkan derajat bangsa Indonesia masuk sebagai negara dengan kekuatan ekonomi dan militer yang disegani.

Semua itu pasti ada ukuran. Kita bisa pakai MDG (Millenium Development Goal) dari PBB. Kita bisa juga menggunakan CDI (Competitive Development Index) dan Social Progress Index (SPI) yang dibentuk dan dibangun oleh Michael Porter, Havard Business Professor Emeritus. Melalui ukuran tersebut, apakah Prabowo bisa membawa kita ketingkat yang lebih baik atau hanya OMDO alias Omong Doang. Dengan menggunakan indeks tersebut, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan karena semua itu berdasarkan data dan fakta yang di kumpulkan secara sistimatis dan dengan uji validitas yang memadai. Tinggal kita mau pake atau tidak! Prabowo setuju apa tidak?!!

Okelah, kita tidak perlu mengungkit masa lalu dan mempersoalkan ukuran keberhasilan, karena masa lalu adalah masa lalu, yang sudah menjadi bagian sejarah. Sementara, kita melihat kedepan. Ukuran keberhasilan sudah tersedia,siap pakai dan tinggal menunggu komitmen apakah Prabowo bersedia diukur kinerjanya atau tidak. Tapi ada satu hal lagi yang sangat mengganjel yaitu apakah Prabowo tidak mencampur-adukkan antara urusan kenegaraan dengan urusan bisnis keluarga??????? Inilah yang paling saya khawatirkan dan paling kritikal karena apabila Prabowo menang…., pertanyaan adalah hutang kepada Hasyim Djojohadikusumo, harus dibayar pakai apa? ┬áDi dunia bisnis terkenal dengan istilah: Nothing is Free Lunch!!!!. Sampai sejauh mana kebijakan politik dan ekonomi negara tidak terpengaruh dengan kepentingan bisnis Hasyim???Pengalaman selama ini menunjukkan kentalnya hubungan antara kekuasaan dan kekayaan!!

Persoalan inilah membuat saya tidak tertarik memilih calon lain seperti Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Win-HT dan PKB-Rusdi Kirana. Hanya ada satu calon yang tidak terkait langsung dengan konglomerat,…JOKO WIDODO. Kalaupun ada para konglomerat mendukung Jokowi, tidak lain karena mereka takut tidak ada faktor pengimbang dari calon partai lain, yang kongmeratnya langsung terjun sebagai key player di masing-masing partai politik. Inilah yang menyebabkan Jokowi mempunyai daya tarik sendiri bagi para pemilih. Barangkali!

Wass.

AJ.

Tags: pilpres2014

Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..

Kotak Suara 2014 berisi berita dan opini warga seputar hiruk-pikuk Pemilu 2014 dengan tag "pileg2014", "pilpres2014",atau "serbaserbipemilu"

Tulis Tanggapan Anda
Guest User