Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Black.madhan

Saya Rizky Ramadhan. Cuma nulis dan baca di sini, Kompasiana.

Tekanan Terhadap Risma Itu Perlu!

OPINI | 14 February 2014 | 00:22 Dibaca: 149   Komentar: 2   2

Sederet prestasi yang dimiliki oleh walikota Surabaya, Tri Rismaharini ternyata membuat segelintir orang merasa harus menggoyangnya. Risma mendapat tekanan, begitu kiranya bila mengacu pada pernyataannya kepada Najwa Shihab dalam sebuah acara tanyajawab di salah satu televisi Nasioal. Teranyar, Wakil sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto menyatakan bila saat ini Risma, yang diusung oleh partai berlambang Banteng bermoncong putih itu, tengah galau akibat mendapat tekanan dari gubernur Jawa Timur.

Betul, Risma sedang galau. Di tengah gonjang-ganjing mengurus Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang terus menerus kehilangan satwa-nya. Kini Risma juga harus menghadapi kenyataan pembangunan Jalan tol tengah Surabaya yang dengan keras ia tolak karena tidak memberikan dampak signifikan kepada kota yang ia pimpin.

Namun demikian, Gubernur Jawa Timur Soekarwo membantah telah menekan walikota Surabaya dalam pembangunan jalan tol tengah seperti yang dikatakan oleh Hasto. Menurut Soekarwo pembangunan tersebut sudah ada dalam rancangan pembangunan Nasional, ia mengaku tidak pernah bersentuhan langsung dengan proyek pembangunan tersebut. “Proyek itu murni masuk dalam Rencana Tata Ruang Nasional sehingga seluruhnya berhubungan langsung dengan Kementerian Pekerjaan Umum,” ujar Soekarwo (13/2/2014)

Tekanan seperti apa dan oleh siapa yang tengah dirasakan Risma?

Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu. Yang pasti, tekan menekan dalam politik merupakan hal yang lumrah terjadi. Bukan Risma saja yang merasakan, sebelumnya Joko Widodo juga pernah terlibat konflik dengan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo akibat silang pandangan mengenai pembangunan pusat perbelanjaan yang mengorbankan situs cagar budaya pabrik Es Krim Saripetojo karena menurut Jokowi hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Daerah. Jokowi bisa dikatakan lolos dari tekanan itu, meski akhirnya lahan cagar budaya tinggal tersisa sekitar 400 meter saja, karena selebihnya direncakan akan dibangun hotel bintang empat pada 14.000 meter lahan bekas pabrik Es Krim tersebut.

Sebagai walikota yang lahir dari rahim yang sama, yakni PDI-P, sudah sepantasnya Risma tetap kuat dan tetap pada hati nuraninya memimpin masyarakat Surabaya. Tidak berniat untuk membandingkan, namun keduanya hampir sama dalam kepemimpinan, keduanya berlandaskan kepada pengabdian penuh kepada masyarakat, keduanya juga sering blusukan, serta sama-sama penyandang gelar Insinyur.

Tekanan demi tekanan baik itu dari pemerintah kota, provinsi maupun pusat merupakan hal yang biasa. Hikmah dari semua itu adalah lahirnya seorang pemimpin yang benar-benar teruji niat baiknya. Jokowi sudah berada dalam level tersulit saat ini, ia diuji oleh puji-pujian yang -bisa dibilang- berlebihan sehingga membuat tanggungjawabnya terasa lebih berat karena menyisakan celah bagi para pencibir untuk menjatuhkannya.

Sementara itu Risma, hanya perlu menguatkan niatnya untuk tetap menjadi abdi rakyat yang jujur dan bersih. Tanpa harus takut kepada mereka yang merasa lebih tinggi jabatannya atau memiliki back up dari orang kuat yang menekannya. Seperti yang ia tuturkan saat melaporkan dugaan korupsi yang terjadi di KBS ke KPK. “Saya ini kan enggak punya kekuatan, kan mereka katanya saya ini akan kalah lah. Di dalam itu kan ada kubu-kubu yang merasa yakin saya akan kalah karena saya gak punya kekuatan. Untuk itu perlu korrdinasi hukum (dengan KPK),” turur Risma.

Percayalah, pernyataan Risma tersebut bakal tercabut dengan sendirinya karena kini sebagian besar masyarakat -bukan hanya Surabaya- Indonesia masih memiliki hati nurani untuk berada di belakang Tri Rismaharini.




Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | | 23 September 2014 | 11:04

Billboard, Sarana Sosialisasi Redam Gepeng …

Cucum Suminar | | 23 September 2014 | 16:30

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Lelaki Pengingatku …

Edrida Pulungan | | 23 September 2014 | 17:11


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 9 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 11 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kemana Peghuni Eks Bongkaran Tanah Abang dan …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Usia Orang Kota Lebih Pendek Dari Orang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi Oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Waspadai Caries Gigi …

Amallya Luckyta | 8 jam lalu

Kunci Sukses itu Sesungguhnya Ada di Tangan …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: