Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Gunawan

Pengamat Politik & Sosial Kemasyarakatan follow @GUNAWANug https://www.facebook.com/gunawankompasianer PIN BB 7961DB9F

Jokowi Haji atau Enggak Tetap Banyak yang Suka

OPINI | 08 February 2014 | 09:42 Dibaca: 567   Komentar: 10   6

Jokowi dan Istri sedang berihrom (Sumber: Merdeka.com)

Jokowi dan Istri sedang berihrom (Sumber: Merdeka.com)

Kemarin artikel tentang H.Joko Widodo Bukan Haji dihujani komentar yang  bertubi-tubi. Pada intinya bahwa pak Jokowi dinilai bukan dari titel hajinya tapi dari kinerjanya. Malah banyak pejabat dan anggota dewan yang bertitel haji malah tersangkut kasus korupsi.

Berhubung isu ini diangkat lagi ke permukaan jadinya banyak yang penasaran apakah memang jokowi sudah haji apa belum? Dalam banyak hal kebiasaan orang Indonesia yang selalu bangga dengan titel, maka perlu diberikan pelabelan huruf H didepan nama orang yang sudah melaksanakan ibadah haji. Sehingga dengan demikian orang tersebut akan mendapatkan penghormatan lebih dibanding warga biasa.

Masalahnya untuk Pak Jokowi bukan karena haji atau belumnya. Melihat sepak terjang Jokowi selama ini. Banyak orang yang simpati dan merasa tertarik dengan sosok pemimpin yang satu ini. Bahkan sampai media asingpun menuliskan tentang jokowi yang hobi blusukan.

Banyak komentar dari para pendukung jokowi yang di kompasiana ini lazim disebut sebagai jokowi Lovers merasa memberikan dukungan kepada Jokowi bukan karena titel hajinya tapi karena kinerjanya selama ini. Jadi gak ngaruh apa jokowi sudah haji atau belum.

Seperti yang diungkapkan mas Elde  alias Darsem yang sampai dua kali berkomenrtar dengan nada yang sama bahwa dia menyukai Jokowi bukan karena titel hajinya tapi karena sikap dan kinerja jokowi selama ini. Jadi sepertinya isu murahan ini gak laku untuk mas Elde dan rekan-rekannya seperti pak Ahmad Jayakardi dan juga mas Gatot Swandito.

Namun masalahnya untuk kalangan agamis  masalah ini sangat krusial, menyangkut simpati dari warga karena embel-embel H itu sangat relegius dan bersifat sebagai nilai tambah dari orang yang punya titel itu. lihat saja caleg-caleg yang sudah haji pastilah titel hajinya tak lupa untuk dicantumkan besar-besar dalam balihonya.

Jadi tergantung para konstituen dalam pemilu, mau memilih caleg atau capres yang punya titel haji atau tidak tak jadi maslah buat saya. Yang masalah buat caleg dan capresnya. Sudah jamak di negeri ini titel merupakan barang mewah yang harus dikejar sampai titik darah penghabisan…..

Salam Kompasiana…..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sudah Saatnya Dokter Membuang Hidroquinon …

Dainsyah Vormula Da... | | 04 May 2015 | 07:44

Tips Betah Lama di Kompasiana: Tekun, Sabar, …

Gaganawati | | 04 May 2015 | 19:17

Kalau Bisa Ditutup Kenapa Dibiarkan Terbuka? …

Sugianti Bisri | | 04 May 2015 | 20:08

Kepada Gerimis …

Handy Pranowo | | 04 May 2015 | 20:36

Blog Competition “Keriaan KAA …

Kompasiana | | 22 April 2015 | 16:49


TRENDING ARTICLES

Saya (Masih) Percaya Polisi, Ini Alasannya …

Aldy M. Aripin | 7 jam lalu

Prof Yusril Memutus Rantai Cinta Segitiga …

Sri Mulyono | 13 jam lalu

Sisi Lain Prestasi Walkot Bandung Ridwan …

Ashwin Pulungan | 13 jam lalu

Tempo dan Paradigma Baru Media: Dari Negara …

Sang Pujangga | 14 jam lalu

Dendam Kesumat Polri 3B dan Dendam Politik …

Imam Kodri | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: