Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Gajah Mada

Selamatkan Bangsa dari Media Darling

Jokowi Boneka Kapitalis

OPINI | 06 February 2014 | 14:39 Dibaca: 1230   Komentar: 14   2

13916722411705600456

Karikatur Jokowi Sumber: Facebook

Puja-puji  Jokowi Lovers (JL) dan media pendukungnya (Kompas grup) tentang nasionalisme gubernur Jakarta itu, hampir setiap hari kita dengar. Di samping mencitrakan Jokowi  sebagai seorang nasionalis sejati. JL juga menuduh tokoh-tokoh lainnya sebagai antek asing, neolib dan kapitalis.

Salah satu sasaran tembak JL adalah Gita Wiryawan (GW),  yang kebetulan sebagai menteri perdagangan. Yang merupakan palang pintu terakhir kebijakan ekspor-impor.

Saat GW memberikan izin impor. Ramai-ramai para JL menghujatnya sebagai antek asing, neolib dan kapitalis. Lebih-lebih ketika ribut masalah beras impor Vietnam. Para JL seolah tidak mau mengerti. Bahwa beberapa komoditas memang harus dicukupi dengan mekanisme impor, karena produksi dalam negeri belum mencukupi. Para JL tidak peduli kalaupun ada kesalahan dalam kebijakan impor tesebut bukan sepenuhnya salah GW.

Begitulah  para JL. Sangat pintar menyalahkan orang lain. Dan sangat jago mencitrakan Jokowi sebagai tokoh yang sempurna.

Tapi ternyata. Setelah ditelusuri. Citra nasionalis yang dibangun para JL untuk Jokowi hampir semuanya palsu belaka. Citra itu  terbalik 180 derajat dari keadaan sebenarnya.

Seperti komentar para akademisi Australia. Salah satunya adalah Greg Fealy pada ABC Australia, yang menyatakan akan sangat tidak baik jika GW terpilih menjadi presiden. Akan berimbas negatif buat negeri Kanguru tersebut.

Australia trauma dengan beberapa kebijakan GW  yang tidak sesuai dengan kepentingan Australia. Seperti kebijakannya yang pernah menghentikan impor sapi Australia.

GW dianggap sebagai sosok yang bermasalah bagi negara-negara Barat. Karena GW kerap dilihat sebagai figur yang terlalu “vokal” apabila menyangkut isu Australia dan Amerika Serikat.

Pakar lainnya dari Monash University, Prof. Greg Barton. Menyatakan kekhawatiranya. Sejumlah nama Capres yang muncul di Indonesia akan membuat perdagangan bebas terhambat. Karena cendrung dengan kebijakan proteksionisme.

Tapi para akademisi asing masih punya harapan. Agar kekhawatiran-kekhawatiran di atas tidak terjadi. Bilamana yang menjadi presiden adalah Jokowi. Karena Jokowi kebetulan saat ini memiliki elektabilitas yang paling tinggi dibanding nama-nama Capres lainnya.

Jokowi dipandang sebagai pembisnis yang cendrung pragmatis. Jokowi sangat baik bagi negara-negara barat. Jokowi tak akan dibatasi oleh isu-isu nasionalisme.

Persis seperti induk semangnya. Megawati Soekarno Putri. Yang sangat berapi-api berbicara masalah nasionalisme. Tapi dalam tataran aplikasi. Justru Megawati justru mengambil kebijakan pragmatis. Jauh dari semangat nasionalisme.

Dengan alasan menutup devisit APBN. Dengan sangat gampangnya melelang SDA Indonesia. Salah satunya adalah ladang gas Tangguh. Dijual sangat murah dalam jangka waktu berpuluh-puluh tahun ke China. Yang membuat Indonesia rugi 30 triliun pertahun. Jika harga jual gas itu dibandingkan dengan harga normal di pasar global. Ditambah lagi terganngunya kepentingan nasional akibat aliran gas tersebut ke China dan Amerika. Indonesia sangat kekurangan gas sebagai bahan baku pupuk, industri dalam negeri dan pembangkit listrik.

Belum lagi langkah Megawati yang melelang Indosat ke Singapura. Dengan alasan menutup devisit APBN juga. Tanpa mempertimbangan kepentingan nasional. Kedaulatan negara terancam. Aksi mata-mata asing semakin leluasa. Terbukti. Penyadapan Australia terhadap Indonesia terindikasi melibatkan Singapura. Meski belum terbukti secara hukum.

Pendapat para pakar dari barat tersebut sama persis dengan analisa saya beberapa waktu lalu. Dalam artikel sebelumnya yang berjudul: Jokowi Presiden Dambaan Asing (http://politik.kompasiana.com/2013/11/10/jokowi-presiden-dambaan-asing-609384.html ).

Demikianlah. Nasionalisme yang digembar-gemborkan oleh partai yang paling menganggap dirinya paling nasionalis ternyata semu. Nasionalisme yang diteriakkan ketua partai dan kader-kadernya hanya lipstik. Hanya kata-kata. Bertolak belakang dengan realita. Tapi kata-kata itu telah berhasil menipu sekian banyak orang. Salah satu pihak yang paling tertipu adalah para JL. Selanjutnya masyarakat awam yang tertipu pemberitaan-pemberitaan menyesatkan tentang PDIP dan Jokowi.

Mungkin PDIP,  Megawati atau Jokowi tidak sengaja merugikan kepentingan nasional. Tidak sengaja menjadikan diri mereka pembela kepentingan barat, neolib atau kapitalis. Tapi di sinilah letak bahayanya pemimpin yang tidak cerdas. Sebaik dan sejujur apapun mereka, tidak akan cukup bila mereka tidak cerdas. Gampang diakali lawan. Gampang dikibuli.

Dan semua orang di Indonesia saya rasa sepakat (kecuali para JL). Dan satu persatu para pengamat Indonesia sudah berani menyuarakan ini. Dengan resiko di bully para JL. Megawati atau Jokowi bukanlah pemimpin yang cerdas. Mereka terlalu lugu. Tidak cocok memimpin sebuah bangsa. Gampang dikadali pihak asing. Paling mentok cocoknya sebagai gubernur. Karena tidak berhadapan dengan pergaulan internasional. Atau masalah-masalah besar yang rumit. Seperti masalah ekonomi makro, hukum, pertahanan nasional, dan sejenisnya. Yang memerlukan pemikiran pemimpin yang brilian.

Orang tidak lugu hanya akan jadi boneka. Misalnya jika Jokowi jadi presiden. Maka Jokowi akan menjadi boneka Megawati. Dan Megawati sendiri adalah boneka asing. Lebih parah lagi jika Jokowi menjadi boneka Megawati sekaligus boneka asing. Habislah Indonesia.

Maka salah besar rakyat Indonesia jika memilih pemimpin hanya karena menganggap tokoh tersebut jujur dan baik. Tanpa mau peduli akan kapasitasnya. Kita memilih pemimpin bangsa. Bukan melimilih pengurus masjid.

Semoga media segera insyaf dengan kekeliruannya mencitrakan Jokowi selama ini. Agar masyarakat juga segera sadar akan ilusinya terhadap Jokowi. Jokowi bukanlah ratu adil. Jokowi tidak lebih dari boneka kapitalis. Yang sangat diharapkan menjadi presiden Indonesia ke-7 oleh konglomerat-konglomerat hitam dan asing. ###

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

10 Tanggapan Kompasianer terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 16 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Kematian Pengidap HIV/AIDS Bukan Karena HIV …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 8 jam lalu

Langit Biru …

Edy Priyatna | 8 jam lalu

Begini Rasanya Cuma Diberi Izin Masuk dan …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Tabu mengkonsumsi Sayap Ayam …

Tantri Ayunda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: