Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Hisar Hutahaean

indahanya berbagi satu dengan lainnya untuk saling melengkapi menjadi satu kesatuan.

PKS Mendukung Mega Jadi Capres 2014-2019?

OPINI | 28 January 2014 | 10:31 Dibaca: 401   Komentar: 10   3

1390879714800516506Agak menggelikan membaca judul di atas, apa tidak salah tuh? Mungkin celotehan orang iseng? Bagaimana mungkin PKS mendukung Mega, apalagi menjadi Capres pulak? Apa yang membuat PKS seolah menelan ludah sendiri? Terlebih padangan mereka terhadap pemimpin nasional perempuan? Tidak sulit mengingat sepak terjang PKS dalam pemilu 1999 dan bagaimana upaya mereka untuk menjegal Megawati menjadi Presiden, notabene PDIP adalah pemenang Pemilu Legislatif waktu itu. Dan kini 15 tahun kemudian PKS seolah lupa akan sejarah masa lalunya.

Dalam dunia politik, apapun bisa terjadi, hari ini lawan tetapi besok bisa kawan atau sebaliknya. Itu bukanlah hal aneh. Hari ini ikut partai A, besok pindah partai B, besoknya lagi ikut partai C, lagi-lagi bukanlah hal aneh, seolah lumrah terjadi. Kok bisa? Tidakkah ada nurani dalam berpolitik, ada harga diri atau mungkin loyalitas? Jangan kita terlalu berharap banyak dari sistem perpolitikan di negeri ini, selagi ada uang yang banyak, silakan saudara mencalonkan dari mana anda suka. Bahkan demi menyelamatkan partai, seorang pengusaha tidaklah sulit menduduki jabatan wakil ketua umum sekalipun, hemmm… menyedihkan ya. Kalau begitu pendidikan perpolitikan apalagi yang patut dan pantas kita wariskan bagi anak bangsa ini?

Siapa yang tidak mengenal sosok Ir. Joko Widodo yang dikenal dengan Jokowi, seorang pengusaha mebel yang menjadi walikota Solo pad tahun 2005-2012 yang sangat terkenal dan bahkan mendunia itu? Dan sekarang menjadi orang nomor satu di DKI sebagai gubernur sejak 15 Oktober 2012. Sepak terjangnya sebagai ‘pemimpin yang melayani’ sungguh menjadi angin segar bagi pembaharuan di negeri ini, di pundaknya ada harapan besar menjadikan Jakarta Baru yang lebih baik. Kita bisa melihat setahun lebih perjalanan beliau dalam menata kota Jakarta bersama wakilnya yang juga tidak bisa dianggap sebelah mata Basuki Tjahja Purnama, mantan bupati Belitung Timur pada tahun 2005-2006 yang dikenal dengan Ahok. Dari beragam polling yang dilakukan oleh lembaga survey baik independen maupun internal partai, telah menempatkan Jokowi sebagai sosok yang paling tinggi diminati berbagai kalangan masyarakat untuk menjadi presiden 2014-2019 dengan angka yang sangat fantastis di atas 30 % bahkan jauh meninggalkan ketua umum PDIP sendiri Megawati Sukarnoputri. Dengan elektabilitas yang kian meningkat dan tak terbendung tersebut, tidak bisa dipungkiri, suka-atau tidak suka telah menjadikan sosok Jokowi sebagai lawan politik yang paling serius diperhitungkan. Tidak terbayang berapa besar uang yang sudah dikeluarkan para calon presiden lainnya untuk menarik simpati rakyat, untuk meningkatkan daya elektabilitas, namun semuanya seolah menghadapi batu atau tembok yang sangat kuat dan kokoh. Tidaklah mengherankan begitu banyak sekali serangan dari lawan politik PDIP untuk menjatuhkan Jokowi dengan sindiran atau ketidaksetujuan terhadap langkah-langkahnya menangani Jakarta bahkan dari kalangan pemerintah sendiri tidaklah sedikit. Kenyataannya, semakin Jokowi di serang oleh lawan politiknya, maka tidak sedikit masyarakat yang akan mencemooh dan bahkan membully sang penyerang tersebut dalam ruang dunia maya, sementara itu Jokowi hanya tenang saja bahkan tidak mau ambil pusing.

Apa yang terjadi sekarang dimana PKS mendukung Mega menjadi capres adalah langkah halus untuk menghentikan laju Jokowi menjadi capres PDIP. Ibarat cerita, bagaimana cara efektif dan mudah mengalahkan musuh yang sangat tangguh dan perkasa adalah dengan cara menggerogotinya dari dalam. Ini adalah cerita klasik yang sudah terjadi sejak ribuah tahun lalu. Pertanyaannya apakah PDIP sadar atau terpengaruh dengan siasat lawan? Apakah seorang Megawati, presiden ke 5 Indonesia mau termakan dengan umpan yang diberikan lawan politiknya? Semua tahu, bahwa Megawati adalah tokoh sentral dalam penentuan bakal capres PDIP 2014, itu tidak terbantahkan, pertanyaannya sekarang adalah apakah Megawati akan meninggalkan catatan emas dalam perjalanan politiknya sebagai pemimpin partai besar, seorang negarawati, seorang wakil presiden dan presiden ke 5 Republik Indonesia dengan menyadari saatnya memberikan tampuk kekuasaan pada pemimpin muda atau catatan buruk yang membenarkan pendapat bahwasanya manusia senantiasa haus akan kekuasaan?

Dari dua kali Megawati mencalonkan diri sebagai Presiden dalam pemilihan langsung oleh rakyat pada tahun 2004 dan 2009 dan hasilnya selalu gagal, patutlah menjadi perenungan mendalam, menyadari sejatinya pemimpin apa sesungguhnya yang diidamkan anak bangsa ini, dan janganlah itu diteruskan lagi yang akan menambah rentetan catatan buruk untuk meraih RI-1 dalam sejarah perjalanan partai PDIP. Saya bisa bayangkan, jika Megawati menjadi capres PDIP maka yang paling berbahagia adalah capres lawan-lawan politiknya, karena bagi mereka jauh lebih mudah mengalahkan Megawati sang ketua umum PDIP ketimbang Jokowi sang mantan walikota Solo dan sekarang Gubernur DKI. Mereka akan memutar otak lebih keras lagi untuk mengalahkan kekuatan elektabilitas figur seorang Jokowi, bahkan dibutuhkan kucuran dana yang lebih besar lagi untuk meningkatkan elektabilitasnya. Bagi mereka Jokowi adalah mimpi buruk, ibarat sambaran petir di siang bolong yang akan menghambat laju mereka menjadi pemimpin negeri ini.

Mari sadari semua itu, saatnya PDIP berbenah, membangun stigma baru bahwa PDIP siap untuk peralihan pimpinan muda yang akan memegang tampuk kekuasaan, PDIP siap membangun Indonesia Raya, sebagaimana diidamkan dan dicitakan Megawati Sukarnoputri dan seluruh anak bangsa yang mencintai negeri ini. Merdeka… merdeka… merdeka…

Jakarta, 28 Januari 2014

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 12 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 17 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 20 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Aku Muak!!! [Lisal] …

Singgih Swasono | 10 jam lalu

Kalau di Tokyo Berada di Stasiun yang Salah …

Andre Jayaprana | 10 jam lalu

High Lifestyle, Low Happiness …

Azzahra Khairunnisa | 10 jam lalu

Is It Date? di Rumah Sakit? …

Irma Sri Nurwati Ut... | 10 jam lalu

Uang Penglaris …

Isti | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: