Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Auda Zaschkya

Realita adalah Inspirasiku Menulis

Habis Angel Lelga, Terbitlah Sang Model Majalah Pria Dewasa

OPINI | 22 January 2014 | 16:00 Dibaca: 4056   Komentar: 120   50

1390474068221731952

Ilustrasi/ Admin (Tribunnews)

Lebih kurang 3 bulan lagi, rakyat Republik ini akan memilih mereka para calon wakil rakyat yang akan ikut memegang kendali dalam dunia politik. Tak sampai di situ, kepada mereka diharapkan adanya perbaikan dalam segala aspek yang tentunya dapat lebih mensejahterakan rakyat. Namun sebelum itu berlangsung, agar kita dapat menjadi pemilih cerdas, maka kitapun harus mengikuti kerja wartawan yang selalu mengedepankan prinsip 5W+1H (what, who, why, when, where, how).

Kita, sebagai calon pemilih cerdas, wajib mencari tahu siapa dan apa yang memotivasi si caleg sehingga mau mencalonkan diri. Tak cukup sampai di situ, kita juga harus tahu latar belakang entah itu kegiatan sosial maupun pendidikan si caleg yang akan melenggang ke Senayan ini.

*

Masyarakat kita, mau disadari (baca: diakui) atau tidak, yang sudah dan bisa membaca, cukup malas membaca, apalagi mencari tahu suatu isu. Padahal, beragam media cetak dan online, terus saja bertambah. Kita lebih mau “disuap” oleh televisi. Untuk itu, di tahun politik ini, tak dapat dipungkiri, acara televisi seperti Mata Najwa pun hadir ditengah kita yang buta akan perpolitikan tanah air, terlebih menjelang pileg-pilpres ini.

Ratu Hermes, caleg PPP di Mata Najwa

Sebagaimana yang kita ketahui, Najwa Shihab sebagai tuan rumah Mata Najwa memang terbilang cukup kritis dalam melempar pertanyaan kepada Narasumber. Hemat penulis, ini tidak menjadi masalah selama dapat membuka mata pemirsa  yang akan ikut dalam Pileg dan Pilpres pada tahun ini. Selain memang menjadi presenter, Najwa Shihab tentunya menempatkan dirinya sebagai masyarakat yang nantinya akan memilih si caleg ini. Tujuannya yaitu agar pemirsa televisi mengetahui kredibilitas dari beragam politikus, baik caleg maupun capres yang akan melaju nanti. Maka dari itu, lewat tayangan Mata Najwa yang tayang setiap Rabu malam, selalu dihadirkan orang-orang dari dunia politik.

Mengingat tahun ini adalah tahun politik yang diawali Pileg di 9 April 2014 mendatang, maka Rabu 15 Januari 2014, telah kita saksikan bagaimana dan apa yang akan dilakukan oleh seorang Angel Lelga yang bila terpilih nanti, akan menjadi caleg DPR-RI untuk Dapil V, Jawa Tengah.

Namun, melihat tayangan minggu lalu itu, ekspresi wajar pertama yang penulis lakukan adalah tertawa yang kemudian diikuti dengan diam. Mengapa? Dapat kita saksikan, ekspresi mata dari Angel Lelga yang kebingungan dalam menghadapi “gempuran”  dari sang presenter, Najwa Shihab. Setelah dari mata, kita lihat cara bicaranya. Banyak jawaban yang ‘gak nyambung.

Mengapa ‘gak nyambung? Jelas ‘gak nyambunglah. Najwa menanyakan A, si Angelnya malah jawab B. Tak puas dengan jawaban Angel, Najwa pun bertanya lagi pertanyaan yang sama namun dengan bahasa yang mudah dipahami Angel. Nah ini dia yang menyebabkan si Angel Lelga menjadi bulan-bulanan di jagad maya seminggu terakhir ini. Kalau ditanyakan kepada Ketua Umum partai yang mewadahi Angel Lelga, Surya Darma Ali, jawabannya hanya karena Angel Lelga ini masih baru jadi belum mengerti benar bagaimana harus berpolitik.

*

Bagi pemirsa televisi, rekam jejak Angel Lelga selama ini tak lepas dari gosip miring. Seperti: setelah Muallaf pernah menikah siri dengan capres PKB sekaligus Raja Dangdut, Rhoma Irama yang diceraikan. Pernah juga digosipkan menikah siri dengan pengusaha batu bara asal kalimantan, Aman Jagau. Dan yang tak ketinggalan, julukan Ratu Hermes pun diberikan padanya setelah melihatnya mengoleksi juga ingin melelang tas bermerk yang harganya sekitar puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah itu. Belum lagi, beberapa film horror Indonesia yang belakangan ini menampilkan tubuh molek pemainnya, yang juga Angel Lelga mainkan.

*

Tindak tanduk Angel Lelga sudah jelas, cercaan manis seminggu terakhir ini penulis pikir, rasanya sudah cukuplah demi menguji mentalnya, kasihan juga lho! Penulis juga mau lihat, apakah benar bila terpilih nanti, sang Ratu Hermes ini benar-benar mau menyerahkan Gajinya di DPR jika terpilih jadi caleg nanti? Ya… seperti pengakuannya di acara Mata Najwa minggu lalu.

Tadinya Penulis pikir, Cuma Angel Lelga yang akan menjadi “bunga” nantinya di dewan terhormat itu Ternyata, Angel Lelga ini ada “penerus”nya juga, Tata namanya.

Destiara Talita, caleg dari PKPI

Namanya memang belum begitu atau bahkan tak dikenal oleh pemirsa televisi kita.  Namun, ternyata seorang Destiara Talita adalah caleg PKPI yang berangkat dari Model Majalah Pria Dewasa.

Menurut Tata, demikian nama panggilannya, ia akan serius menjadi caleg bersama PKPI dan benar-benar akan meninggalkan dunia yang telah memberikannya pundi-pundi rupiah itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Tata (25) pun sudah mempersiapkan berbagai keperluan kampanye, termasuk fotonya bersama Sutiyoso, mantan gubernur DKI Jakarta yang merupakan ketua umum PKPI.

Tata sendiri akan berlaga di Dapil VIII, Jawa Barat. Menurutnya, keseriusannya menjadi caleg ini untuk menjadi penampung aspirasi rakyat dan ia juga berjanji untuk tak berpose seksi lagi jika menjadi caleg nanti, seperti yang ia katakan, “saya kan memang awalnya dari majalah dewasa, dan kemarin itu sudah rencana berhenti waktu daftar jadi caleg.”

Mengenai foto-fotanya yang terdapat di kalender juga majalah dewasa itu, begini menurut Tata :

139038034245179290

Tata caleg PKPI. dok. timeline Facebook merdeka.com

Terlepas dari ada atau tidaknya gaji (janji) dari Angel Lelga (bila terpilih nanti) dari Dapil V Jawa Tengah atau keseriusan dari Tata sang Model Majalah Pria Dewasa yang akan melaju dari Dapil VIII Jawa Barat ini untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Dapilnya, sesungguhnya mereka juga dituntut kredibilitasnya sebagai perempuan.

Bagi penulis pribadi, adalah kesalahan yang cukup fatal apabila keterwakilan perempuan di DPR RI harus diisi oleh orang yang terbata-bata ketika ditanyai oleh Presenter, Najwa Shihab atau Berangkat dari Model Majalah Pria Dewasa.

Berpenampilan menarik (baca: seksi) mungkin boleh saja, asalkan pemikirannya terisi oleh pikiran bagaimana mensejahterakan masyarakatnya, terlebih kaum perempuan yang semakin banyak mengalami pelecehan, belakangan ini.

*

Keterwakilan kaum perempuan di dunia politik memang sangat bagus. Jujur saja, penulis sangat mengapresiasikan langkah ini sekaligus berharap kepada mereka guna merekonstruksi dan merenovasi aspek kehidupan perempuan itu sendiri.

Namun, alangkah lebih bijak lagi untuk tak usah maju atau mencalonkan diri jika hanya bermodal tampang, tubuh seksi, uang, dan popularitas. Masyarakat, dewasa ini sudah sangat melek media maupun hanya televisi, lho Bu caleg. Kami tak mau membuang-buang suara kami bila hanya akan menyengsarakan nasib seluruh rakyat republik ini lima tahun kedepan hanya karena memilih caleg yang tak memiliki kredibilitas.

*

Kita, perempuan ini yang memilih bermain di ranah politik itu, konsekuensinya jelas, lho!

Selain masih banyaknya doktrinisasi bahwa perempuan hanya pantas di kasur, sumur, dapur, adanya ultimatum yang mengatakan bahwa perempuan itu tak boleh sama tingkatannya dengan laki-laki, tentunya menambah beban tersendiri bagi kita sebagai perempuan. Maka dari itu, supaya tak terkesan asal-asalan, kita perempuan ini juga harus memperhatikan benar-benar, apa yang harus kita berikan bagi masyarakat, tentunya lewat kecerdasan yg kita miliki.

*

Untuk itu, kepada partai politik, jangan hanya karena demi memenuhi kuota 30% sehingga caleg yang tak memiliki kredibilitas pun diusung dong. Ini namanya pemaksaan, bukan? Tolong diadakan uji kompetensi caleg. Semisal, calegnya ini benar-benar dari kalangan terpelajar atau calegnya ini juga harus memiliki dedikasi, tentunya bukan saja memiliki uang serta modal tampang dan janji manis.

Makanya, diperlukan uji kompetensi caleg guna memilah dan memilih, siapa saja yang pantas untuk menjadi kader. Kalau “asal comot” begini, selain calegnya yang malu, tentunya kredibilitas partaipun akan turut diragukan. []

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 10 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Revolusi Mental, Mental Siapa yang Harus …

Kawar Brahmana | 7 jam lalu

Sedia Payung Sebelum Hujan dengan Asuransi …

Khairunisa Maslichu... | 7 jam lalu

Siap-siap Saja 5 atau 10 atau 15 Tahun Lagi …

Mawalu | 7 jam lalu

Kereta Api Indonesia Kian Aman dan Nyaman …

Sugeng Bralink | 7 jam lalu

Upaya Promotif dan Preventif Anak Tiri JKN …

Ninda Putriyanti Pa... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: