Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Andi Hakim

Fat Collector. Menerima pembuatan pidato kenegaraan, pidato kawinan, pemakaman, pidato kelurahan, business plan, political plan, selengkapnya

Angel Elga Si Caleg Rakyat dan Najwa yang Somse

OPINI | 21 January 2014 | 14:46 Dibaca: 411   Komentar: 7   0


Ramai juga setelah saya perhatikan orang memberitakan Najwa dalam mata Najwa yang mengolok-olok Angel Elga kandidat legislatif PPP dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut pemirsa membuat Elga terlihat kikuk dan bodoh.

Setelah sebelumnya dia juga memperlakukan sama kepada tamu-tamunya dengan pertanyaan yang sepertinya keren tetapi sebenarnya tidak punya kekuatan. Misal pada Elga dia bertanya apa hubungan antara Islam dan Negara, atau apa siap menjalankan syariah.

Pada pertanyaan seperti ini tentu saja siapa yang mau menjawab dengan tepat? Jika saya konsultan si Elga maka saya akan minta dia balik bertanya, islam dan negara mana yang anda maksud sudah berhubungan mbak Najwa? dan mereka berhubungan dalam hal apa? Karena saya tidak suka su’udzan, maka saya pikir tidak ada salahnya keduanya berhubungan atau jika keduanya tidak ada kecocokkan lagi ya mau bilang bagaimana.

Entah apa namanya jenis pertanyaan dari Najwa selain menurut saya tujuannya meninggikan si Najwa dan merendahkan si Elga. Lewat tuturan kalimat dan istilah maka si pemirsa diharapkan kagum dengan kecerdasan Najwa dan kasian dengan kegagapan Elga.

Dalam kaidah analisa ada dikenal sensitivity analysis, yaitu bagaimana satu pertanyaan atau indikator akan melahirkan pembedaan dan memberikan keterangan atau parameter yang lebih elastis meski kecil.

Ini karena sebenarnya baik penanya maupun yang ditanya (dalam survey pendata dan target) sebenarnya tidak memiliki kelebihan dalam struktur dunia yang kompleks ini. Masing-masing setara dalam pengertian pemahaman hanya dapat ditangkap secara sectoral saja.

Misalnya dengan pertanyaan apa kaitan negara dan islam dalam pertanyaan tadi tidak memiliki relevansi akademis bagi seorang elga yang pesohor. Ini karena mungkin ada ratusan desertasi dan thesis terkait hubungan keduanya dan sedikit dari para kandidat master atau doktoral bidang perbandingan agama dan negara tadi yang bisa lolos ujian atau bukunya layak dicetak. Apa gunanya jawaban seorang elga bagi pemirsa.

Nah di sini sensitivity analysis menghitung elastisitas yang muncul. Seperti anggapan; “Oh elga itu emang modal muka sama paha doang, otaknya isinya otak-otak.” Tetapi ada juga yang beranggapan, “Si Najwa atau metro ini sebenarnya ngundang mau jelekkin PPP atau mau tanya apa kelebihan si elga?”

Dualitas ini yang malah membuat acara mata Najwa (yang sejujurnya pasti diambil dengan mengeksploitasi kelebihan fisikal si Najwa dan itu maksudnya yaa sama saja dengan bagaimana si Elga pamer bibir dan foto syur)

Sebetulnya akan lebih asyik dan membumi misalnya jika si Najwa bertanya hal-hal yang memang bidangnya si Elga:

“Eh mbak Elga kok bisa tetap cantik sih, apa rahasianya apa pantatnya disuntik aspirin?. Terus sekarang pake jilbab tambah manis, ada tip and trick nya kah yang boleh dibagi dengan ibu-ibu pemirsa.”

Saya yakin, Elga akan lebih mudah menjawab dan mungkin jawabannya begini:

“Terimakasih mbak Najwa, saya banyak minum air tebu dan berolahraga minimal 1 jam sehari, apalagi sekarang biaya kesehatan mahal yaa. kita harus hati-hati jaga tubuh”.

Atau dia menerangkan latar pencalonan.

“Iya mbak Najwa, saya jadi caleg PPP karena saya ingin jadi anggota komisi mineral, gas dan tambang di DPR-RI. Saya ingin berbagi rahasia bagaimana menjaga kelembutan kulit dengan uap gas elpiji dan bijih timah mentah supaya wajah terlihat terang berkilau. Saya juga minum laturan sulfur agar tubuh tidak bau ketek dan asyeeem.”

Jadi sebetulnya ada banyak hal yang dapat digali dari sosok, seperti misalnya seorang Angel Elga dan membaginya pada pemirsa (yang memang seharusnya dimenangkan oleh stasiun tivi.

Lagi pula buat apa menyudutkan tamu dan memberikan pertanyaan mengolok-olok yang belum tentu juga berbobot serta valid.

Jadi kita harus membuka dialog dan menerima kenyataan bahwa setiap orang adalah unik dan khas. Yang mungkin kita tidak miliki sesuatu pengetahuan seperti bagaimana Angel Elga rajin dan konsisten dalam kebugaran dan kita dapat belajar darinya.

Ya minimal daripada memamerkan ke tak sensitifan kita terhadap orang lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 11 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 12 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 12 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 15 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Buzz!!! Apa Sih Maumu? …

Lipul El Pupaka | 7 jam lalu

Bersikap Bijak Ketika Harga Elpiji Melonjak …

Sam Leinad | 8 jam lalu

Kicau Cendrawasih Tersisih …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Melihat Perjuangan Rakyat Bali Mengusir …

Herdian Armandhani | 8 jam lalu

Belajar Open Mic Matematika …

Andi Setiyono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: