Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Asmari Rahman

MEMBACA sebanyak mungkin, MENULIS seperlunya

Politik Pencitraan

OPINI | 03 January 2014 | 01:47 Dibaca: 153   Komentar: 1   0

Dalam tahun 2014 ini rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dinegeri ini akan memilih wakilnya melalui pemilihan umum dan memilih seorang putera terbaik untuk memimpin negeri ini sebagai presiden. Karena adanya dua helat besar inilah maka sering disebut tahun 2014 ini sebagai tahun politik.

Menjelang berakhirnya tahun 2013, rakyat sudah disuguhkan oleh Calon wakil rakyat dengan berbagai atraksi pencitraan, mulai dari Baliho yang membentang lebar hampir menutup langit sampai kepada gambar para caleg yang menempel dimerata tempat. Hampir tidak ada ruang yang tersisa bagi mata rakyat untuk menoleh secara bebas tanpa melihat gambar caleg.

Photo diri dengan aneka ragam tulisan dipajang ditembok-tembok yang mudah dilihat, ditiang-tiang listrik, dipohon-pohon peneduh pinggiran jalan, sampai kepada kaca belakang mobil dan angkot. Meskipun tiap-tiap caleg tampil dengan gaya berbeda, tetapi pada hakekatnya mereka ingin menyampaikan sebuah kalimat pendek  “Pilihlah Saya” .

Sepertinya para politisi kita hari ini ingin mengulang sukses gaya politik pencitraan pada pemilu yang lalu, padahal rakyat hari ini lebih cenderung melihat kepada apa yang telah mereka perbuat selama ini. Caleg yang pada hari ini memajang photonya sambil tersenyum mengingatkan rakyat kepada wakilnya yang tersenyum simpul ketika ditangkap KPK.

Tidak berubahnya pola pikir dan tata cara para caleg dalam upaya meraih simpati rakyat membuat pemilih semakin jenuh dan menjauh. Tingkat kepercayaan publik terhadap para elite politik juga semakin menurun, sehingga besar kemungkinan dalam pemilu yang akan datang perolehan suara partai politik akan kalah bila dibandingkan dengan jumlah Golput.

Keberadaan Golput ini termasuk hal yang merisaukan, kelompok ini tidak dikomando oleh siapapun tetapi didorong oleh hati dan pikiran mereka sendiri, mereka tidak diorganisir tetapi kompak melakukan perotes dengan cara berdiam diri dan mengabaikan hak pilihnya. sepintas lalu keberadaan mereka memang tidak memberi manfaat apa-apa terhadap perkembangan demokrasi negeri ini, tetapi perlawanan yang dilakukannya bisa mencederai nilai demokrasi itu sendiri.

Kita tentunya tidak ingin pesta demokrasi yang dibiayai dengan uang rakyat ini cedera hanya karena ulah sekelompok orang yang menyebut dirinya dengan istilah Golput, tetapi kita juga harus menghargai mereka yang menggunakan haknya untuk tidak memilih. Untuk itulah rakyat berharap agar para calon wakil rakyat bisa merubah sikap dan prilakunya. Gunakanlah Waktu yang masih tersisa ini masih bisa untuk memperbaiki diri dan meninggalkan cara-cara lama yang dikenal dengan istilah POLITIK PENCITRAAN.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tarian Malinau yang Eksotis Memukau Ribuan …

Tjiptadinata Effend... | | 24 November 2014 | 11:47

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | | 24 November 2014 | 09:46

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di …

Mas Lahab | | 24 November 2014 | 16:16

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 6 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 10 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | 7 jam lalu

Kesempatan Sadar …

Latania Aini | 8 jam lalu

Meriahnya Pembukaan Porseni BUMN 2014 …

Rizky Febriana | 8 jam lalu

Tumpengan dan Bedah Buku “Bertahan di …

Gaganawati | 9 jam lalu

Revolusi dari Desa, Pengalaman Nyata Bukan …

Partyedu | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: