Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Sutrisno Budiharto

Membaca dunia, lalu menulis dan melukiskan hidup: sutrisno.budiharto@gmail.com

Karena Jokowi, Ridwan Saidi “Ditembaki”: Di Mana Keadaban Demokrasi?

OPINI | 08 December 2013 | 14:36 Dibaca: 4063   Komentar: 21   7

Jakarta Hancur Karena Jokowi? Pertanyaan itulah yang muncul pertama kali ketika membaca berita kritikan Ridwan Saidi (budayawan Betawi) soal Jokowi. Sikap kritisnya seperti menembakkan kata-kata yang berpeluru tajam. Dar der dor…

Seperti ini wujud screen-shoot berita soal Ridwan Saidi di Kompas:

1386486208926991137138648658929657416

Dari muatan kata-kata Ridwan Saidi itu dampaknya dapat ditebak. Pasti akan timbul reaksi seru, utamanya dari para pendukung Jokowi. Maklum, kritik Ridwan Saidi dalam berita Kompas itu tidak memuat keterangan analitik (alasan rasional) atau indicator-indikator yang dapat dipakai menjustifikasi Jokowi dalam membuat Jakarta menjadi hancur dan acak-acakan.

Dugaan akan munculnya reaksi balik terhadap Ridwan Saidi ternyata tidak meleset. Berita kritik Ridwan Saidi yang dipublikasikan kompas.com pada hari Jumat, 6 Desember 2013 jam 14:17 WIB tersebut, (ketika artikel ini ditulis) telah dishare melalui facebook sebanyak 1.203, twitter sebanyak 768 dan mendapat komentar sebanyak 807. Seperti ini screen-shoot dari komentar yang muncul dalam berita kompas.com tersebut:

1386486547584115598Banyak sekali komentar bernada negative yang diarahkan terhadap Ridwan Saidi. Ibaratnya, budayawan Betawi itu seperti “ditembaki” kata-kata dengan berondongan “peluru” serangan balik dari berbagai sudut. Sebagian komentar memang bernada emosional (memuat caci maki), tapi ada juga komentar yang cukup rasional dengan analogi sederhana. Salah satunya seperti ini: “Kadang utk memperbaiki sesuatu memang terkadang dalam prosesnya berantakan.. Contoh klo kita mau benerin genteng rumah / mau mengecat ulang tembok rumah, apa jg g berantakan dlm prosesnya? Kita liat aja ntar hasilnya, bagus apa gak…” kata pembaca kompas dengan identitas megaisme (Minggu, 8 Desember 2013 | 08:43 WIB) dengan foto masih ABG (anak baru gede)

Di Mana Keadaban Elite dalam Berdemokrasi?

Logika berpikir dari pembaca kompas berfoto ABG tersebut justru dapat diterima akal sehat. Sebaliknya, apakah kritik Ridwan Saidi terhadap Jokowi itu sudah dapat diterima dengan akal sehat? Sampai sejauh ini belum ada keterangan dari Ridwan Saidi yang menjelaskan alasan-alasan rasionalnya soal kritik tersebut. Semoga saja budayawan Betawi itu segera memberikan penjelasan kepada public yang lebih rasional agar proses edukasi politik di Indonesia dapat mendorong terbangunnya “keadaban berdemokrasi” di negeri ini.

Bagaimana mungkin “keadaban berdemokrasi” di negara ini dapat dibangun dengan baik jika para tokoh di jajaran elite kerap melontarkan pernyataan-pernyataan politik yang kelewat emosional? Bagaimana pun, setiap tokoh memiliki tanggung jawab moral untuk membangun “keadaban berdemokrasi” di Indonesia ini. Kalau para elitenya tidak memiliki komitmen membangun “keadaban berdemokrasi” dan hanya larut dalam kontestasi perebutan kue kekuasan (kepentingan pragmatis) dengan menghalalkan segala cara, wajah Indonesia dapat menjadi kusut akibat budaya politik yang kurang beradab.

Yang jelas, jauh sebelum Jokowi terpilih menjadi Gubernur Jakarta, kondisi ibu kota negara Indonesia itu sudah rapuh, seperti yang tergambar dalam Puisi Jakarta ini. Selamat berdemokrasi dengan hati, buanglah  emosi. Sebab, emosi itu sejatinya api yang dapat membakar diri sendiri. Mari kita kritik Jokowi dan Ahok secara konstruktif  dan etika. Sebab, kalau hanya memuja-muji Jokowi dan Ahok secara membabi-buta kita bisa tersesat dalam keindahan yang semu, seperti yang dialami Soeharto pada zaman Orde Baru lalu. Sangat tidak diharapkan jika masyarakat bawah di Indonesia ini  menjadi bimbang akibat perilaku politik kita seperti Pelacur Negeri Sipil (PNS). Bukan begitu? (twitter: @SutBudiharto)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 3 jam lalu

70 Juta Rakyat Siap Masuk Bui …

Pecel Tempe | 5 jam lalu

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 9 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 12 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Toleransi terhadap “Orang Kecil” …

Fantasi | 8 jam lalu

Batu Bacan dari SBY ke Obama Membantu …

Sitti Fatimah | 8 jam lalu

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | 9 jam lalu

Surga Kecil di Sukabumi Utara …

Hari Akbar Muharam ... | 9 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: