Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mcdamas

Orang biasa (seperti kebanyakan rakyat Indonesia) yang sok ikut kompasiana meskipun terbata-bata. Bila teman bersedia, selengkapnya

Ketika Ridwan Saidi tiba-tiba Menyerang Jokowi

HL | 06 December 2013 | 23:10 Dibaca: 1683   Komentar: 37   6

13863601852096738243

Ilustrasi/Admin (Kompasiana)

Ridwan Saidi, tokoh gaek betawi, selama ini dikenal sebagai seorang budayawan cum politisi yang lengkap. Lengkap karena tokoh ini hidup di beberapa situasi politik Indonesia yang berbeda, mulai dari era Soekarno, Soeharto hingga era SBY saat ini. Pengalaman dan pengetahuannya terhadap sejarah, politik dan budaya membuat Ridwan Saidi menjadi nara sumber dalam berbagai dialog atau debat. Lebih dari itu Ridwan Saidi merupakan satu dari yang hanya beberapa yang senantiasa konsisten keberpihakannya pada “suara rakyat”.

Tetapi setelah membaca berita di Kompas.com hari ini, dimana Ridwan saidi tiba-tiba mengumbar “caci maki” nya terhadap kepemimpinan Jokowi, publik bertanya-tanya; ada apa dengan Ridwan Saidi?

Bila boleh menduga, perubahan sikap Ridwan Saidi dari yang selama ini mendukung Jokowi bahkan mulai dari saat Jokowi mencalonkan diri sebagai calon gubernur di pilkada lalu menjadi tiba-tiba menghujat tajam kinerja Jokowi adalah karena “sengitnya” peta persaingan politik terkini seiring dengan semakin dekatnya hari H pilpres 2014.

Sebagaimana kita tahu, Jokowi adalah figur yang selalu leading di setiap survey calon presiden 2014. Peringkatnya yang terus konsisten teratas dalam hal popularitas dan elektabilitas, menjadikan Jokowi musuh bersama lawan politiknya.

Apalagi beberapa pengamat menyatakan bahwa dipasangkan dengan daun pun Jokowi pasti terpilih jadi presiden. hal ini jelas membuat para capres lain “naik pitam” merah padam menahan geregetan.

Jokowi menjadi sangat populer karena masyarakat sangat mengagumi karakternya yang merakyat dengan program-program kerjanya yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat; satu karakter pemimpin yang saat ini sulit ditemukan pada tokoh lain. Karkater ini juga sangat sulit disaingi.

Pada sisi lain, beberapa figur, sebut saja Prabowo, Abu Rizal Bakri, Wiranto dan para peserta konvensi partai demokrat sedang bekerja keras untuk meraih ambisi menjadi presiden. Tiga tokoh yang pertama bahkan sudah mendaklarasikan diri mereka secara resmi. Pendaklarasian lebih awal ini tentu dimaksudkan agar mereka memiliki rentang waktu yang cukup untuk “mencuri” start mengkampanyekan diri kepada rakyat.

Tetapi kenyataannya, meskipun berbagai usaha sudah dilakukan untuk mensosialisasikan ketokohan dan visi mereka melalui berbagai media, popularitas dan elektabilitas mereka tak juga beranjak naik.

Mereka pun seperti bersepakat bahwa Jokowi adalah batu penghambatnya. Maka berbagai serangan dalam bentuk isu-isu negatif dan misleading pun secara gencar mereka arahkan kepada figur Jokowi. Target utama dari serangan ini tak lain adalah agar Jokowi tidak lagi dipandang sebagai tokoh yang paling layak menjadi presiden, agar rakyat tidak terkesima dan terpesona pada sosok Jokowi.

Tetapi nampaknya serangan-serangan para kader dan tokoh partai tersebut tidak mempan menjungkirbalikkan ketokohan Jokowi.

Maka, bisa jadi berubahnya haluan retorika politik Ridwan Saidi ada kaitannya dengan usaha para tokoh-tokoh tersebut mendongkrak popularitas dan elektabilitas mereka; bisa saja Ridwan Saidi sudah menjadi bagian dari tim pemenangan calon presiden; atau bisa saja uang pensiun Ridwan Saidi saat ini tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi; kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan, esok tempe, sore dele. Biarkan politisi memainkan sandiwaranya, dan Ridwan Saidi saat ini sedang menjalankan perannya, sebuah peran yang bisa berubah kapan saja sesuai situasi dan jumlah nominal upeti.

1386360165465868382

gambar metronews.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Film Hollywood Terbaru ‘ Interstellar …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Selfie Produk: Narsisme membangun Branding …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Masa Kecil yang Berkesan di Lingkungan …

Amirsyah | 8 jam lalu

Kisruh Parlemen, Presiden Perlu Segera …

Stephanus Jakaria | 8 jam lalu

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: