Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dewa Gilang

Single Fighter!

Benarkah Jokowi Keturunan Wali Songo?

OPINI | 20 November 2013 | 17:22 Dibaca: 5304   Komentar: 28   4

Selang beberapa hari pasca gelaran Pilkada Jakarta Putaran II, yang dimenangkan oleh Joko Widodo, politisi senior dari Partai Bintang Reformasi, Zainal Maarif, membeberkan silsilah kader dari PDI-P tersebut. Berawal dari Zainal pula lah, silsilah Jokowi kemudian menyebar di dunia maya, meskipun belum ada yang membahasnya secara lebih mendalam.

Menurut Zainal, yang sama-sama berasal dari Solo, Jokowi adalah keturunan dari Kiai Yahya, salah seorang pengawal Pangeran Diponegoro. Kiai Yahya sendiri adalah putera dari Kiai Abdul Jalal, seorang ulama yang menjadi pendiri tanahh perdikan di wilayah Kalioso (daerah selatan utara Solo).

Jika silsilah ini ditarik ke atas, maka Jokowi merupakan keturunan dari Jaka Tarub (Raden Kidang Telakas). Dan Jaka Tarub sendiri adalah (dipercaya) putera dari Maulana al-Maghribi, yang dipercaya sebagai salah satu penyebar agama Islam awal di tanah Jawa.

Lalu benarkah Jokowi adalah keturunan dari salah satu penyebar Islam tanah Jawa? Saya kurang mengetahui pasti. Namun, ada dua nama yang patut mendapat sorotan, yaitu Jaka Tarub dan Maulana al-Maghribi.

Sepengetahuan saya, Jaka Tarub adalah nama tokoh salah satu legenda tanah Jawa. Nama itu diabadikan dalam “Babad Tanah Jawi”. Menurut “Babad” tersebut, Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang menikahi seorang bidadari bernama Nawangwulan. Pernikahan mereka melahirkan seorang putri bernama Nawangsih. Di kemudian hari, nama Jaka Tarub dipercaya sebagai salah satu leluhur dinasti Mataram dengan gelar Ki Ageng Tarub.

Saya melihat ada kesimpangsiuran mengenai Jaka Tarub. Tidak saja dari adanya beberapa versi cerita perihalnya, namun juga meragukan pernah adanya tokoh bernama Jaka Tarub dengan versi cerita layaknya yang tercantum pada “Babad Tanah Jawi”. Terlebih “Babad Tanah Jawi” adalah naskah sastra yang terbilang kontroversial, menggabungkan antara sejarah, dongeng dan mitos-mitos. Salah satunya ialah silsilah Nabi Adam hingga menurunkan raja-raja di tanah Jawa. (Simak artikel “Telusur Babad Tanah Jawi”, Bandung Mawardi, yang dimuat pada blog; kabutinstitut).

Sementara mengenai Maulana al-Maghribi, maka nama ini pun tidak lepas dari kesimpangsiuran. Banyak pihak yang menghubungkan nama ini dengan Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik-pen), salah satu yang dianggap sebagai bagian dari Wali Songo. Maulana al-Maghribi adalah nama lain dari Maulana Malik Ibrahim.

Sejarawan NU, Agus Sunyoto, menolak anggapan tersebut. Agus menyebutnya dengan kekeliruan sejarah, dengan memberi sebutan Syeikh Maghribi kepada Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Sehingga timbul asumsi bahwa tokoh yang bersangkutan adalah tokoh yang asal keturunannya berasal dari “Maghrib” (Maroko-pen). (Lihat “Wali Songo, Rekontruksi Sejarah yang Disingkirkan”, Agus Sunyoto).

Selain itu, menurut Agus, kekurangtepatan juga terjadi pada “Babad Tanah Jawi”, yang disunting oleh J.J Meinsma, yang menyamakan Syeikh Maulana Malik Ibrahim dengan Syeih Ibrahim as-Samarqand, sehingga menimbulkan kesan bahwa tokoh bersangkutan berasal dari Samarqand.

Satu-satunya sumber yang mendekati akurat mengenai Syeikh Maulana Malik Ibrahim adalah pembacaan atas tulisan pada prasasti makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim, yang dilakukan oleh pembaca “epigraf” asal Prancis, J.P Moquette.

Disebutkan bahwa almarhum bernama al-Malik Ibrahim, yang wafat pada hari Senin, 12 Rabiulawal 822 H (8 April 1419). Beliau berasal dari Kashan (bi kashan), sebuah tempat di Persia (Iran). Berkaitan dengan hal ini, maka saya pernah menulis artikel mengenai dugaan adanya Wali Songo yang bermazhab Syiah. Bahkan saya menduga, Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia adalah Islam madzhab Syiah.

Dengan demikian, saya mempercayai versi yang menyatakan bahwa syeikh Maulana al-Maghribi bukanlah Syeikh Maulana Malik Ibrahim.

Walhasil, terlepas dari benar-tidaknya silsilah Joko Widodo, maka Alquran telah menegaskan bahwa yang menjadi pembeda antar setiap individu adalah takwanya. Hadis juga menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah memandang apapun dari seseorang, melainkan yang dilihat oleh Tuhan adalah ketakwaannya. Pada diri Jokowi, maka yang harus kita lihat adalah kinerjanya, dan bukan silsilahnya.

Sukses bagi Jokowi.

Gitu aja koq repot!

Salam pentungan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Guru: Kunjungan SMA Darul Ulum 2, …

Ony Jamhari | | 29 November 2014 | 07:51

Justru Boy Sadikin-lah yang Pertama Kali …

Daniel H.t. | | 29 November 2014 | 00:12

Saatnya Regenerasi, Semoga PSSI Tak Lagi …

Rizal Marajo | | 28 November 2014 | 23:28

Gara-gara Tidak Punya “Kartu …

Adjat R. Sudradjat | | 28 November 2014 | 18:40

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 3 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 7 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Jangan Tekan Ahok Lagi… …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Orang Besar …

Jonson Sipayung | 9 jam lalu

Lakon Kursi …

Aditya Idris | 9 jam lalu

Revolusi dari Desa - Cara Baru Meningkatkan …

Ghumi | 9 jam lalu

Tafsir Papua untuk Yansen …

Yusran Darmawan | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: