Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Agkvriel

Melihat dari lubang "kecil" supaya lebih fokus

Politik “Pinjam Nama” dan Politik “Artis” ala PD

OPINI | 11 November 2013 | 14:03 Dibaca: 162   Komentar: 2   0

Bulan sudah masuk dihampir penghujung tahun 2013, dan sebentar lagi akan memasuki tahun 2014 yang katanya orang merupakan tahun politik, karena memang tahun dimana akan ada pileg dan pilpres.

Di beberapa minggu ini kita disuguhi beberapa “drama” di panggung perpolitikan, ya namanya drama pasti ada sutradaranya, ada pemainya, ada peran antagonis, ada peran protagonist. Ya itulah drama.

Politik “artis”

Dimulai ketika TB Silalahi yang juga merupakan Sekretaris Dewan Kehormatan (Wankor) PD menegur koleganya si Ruhut “Poltak” Sitompul, karena terlalu keras dan diangap asal-asalan dalam berbicara dan dianggap membuat malu partai sehingga terjadilah adu argument yang cukup sengit. Lagi-lagi publik disuguhi sebuah drama, dan ketika ini mencuat dimedia, kasus ini cukup menjadi hal yang banyak diperhatiakan baik di media cetak, online, elektronik maupun sosial media. Kalau ini drama sudah pasti ada pemainya, dan juga sang sutradara, benarkah ? biar mereka yang berkepentingan yang akan menjawabnya.

Melihat kasus diatas sama juga ketika kita masuk ke dunia selebritis, banyak diantara selebritis yang sudah mulai hilang pamornya di dunia “perselebritisan” mengemukakan berbagai kasus dari mulai perselingkuhan, perang komentar di sosial media, saling tuntut ke polisi gara-gara pemcemaran nama baik, bahkan yang rela sampai rumah tangganya teracak-acak guna mengembalikan popularitas yang sudah mulai redup. Juga dalam peluncuran sebuah film baru, sampai-sampai ada artis yang rela saling jambak-menjambak, saling ejek mengejek bahkan sampai ada yang masuk ke dalam hotel prodeo supaya film yang dibintanginya bisa “booming” di pasaran. Apakah yang dilakukan para selebritis itu merupakan skenario/settingan ? pasti publik juga bisa menilai sendiri.

Kembali ke kasus diatas, apakah yang dilakukan TB Silalahi juga sama seperti yang dilakukan artis-artis ?

Mungkin saja, kalau dilihat sekarang elektabilitas partai berlambang mercy itu tangah meluncur drastis,

Skenario ini mungkin saja dengan sengaja dimunculkan “badut-badut politik” ke permukaan guna mendongkrak pamor (elektabilitas-red). Cara yang cukup jitu, publik kembali menoleh ke arah partai demokrat, minimal menoleh walaupun setelah itu cuma cuih, karena memang sudah tau gelagatnya, tapi itulah yang dikehendaki, walau hanya sekedar menoleh entah karena sisi negative atau positifnya minimal me-refresh publik.

Cara-cara inilah yang ditempuh oleh orang yang sudah frustasi oleh keadaan, walaupun cara-cara yang sudah tak rasional akan tetap ditempuh guna satu kata PAMOR (elektabilitas-red), apalagi dunia politik yang sudah merupakan rahasia umum, dunia paling kejam. Bahkan sampai ada anekdot “ jangan terlalu percaya pada kawan dan jangan terlalu membenci lawan”.

Politik “pinjam nama”

Politik pinjam nama adalah suatu trik yang digunakan untuk ikut tenar dengan cara memuji atau bahkan mem-bully orang yang sedang dalam puncak ketenaran supaya ikut tenar.

Nah politik inilah yang kelihatanya dilakukan baru-baru ini oleh para elite partai demokrat, serangan yang bertubi-tubi yang dilancarkan ke gubenur Jakarta Jokowi dipakai untuk minimal mendongkrak elektabilitas partai.

Mengapa mulai dari Ruhut Sitompul, Nurhayati Ali Assegaf, Ramadhan Pohan secara seporadis menyerang Jokowi dengan serangan yang tidak masuk akal mulai dari tukang mebel tidak pantas jadi presiden, kebakaran 1000 rumah, sampai isu penyadapan Amerika. Bukankah mereka orang-orang pintar dan terpelajar, tapi mengapa melontarkan “isu-isu bodoh” ?. Jangan salah dan jangan menyalahkan mereka dulu, jangan-jangan ada udang dibalik bakwan, dan memang ada udang dibalik bakwan.

Politik pinjam nama inilah yang mereka terapkan, walaupun hasilnya mereka di-bully oleh ribuan bahkan sampai jutaan orang di sosial media dan media online tapi minimal publik kembali tau dan teringat bahwa masih ada nama-nama mereka ada partai berlogo mercy yang mulai redup dimakan jaman.

Mengapa Jokowi yang menjadi sasaran tembak, bukankan Jokowi belum tentu dicapreskan, bukankah ada capres yang sudah terang-terangan mendeklarasikan diri ? mengapa bukan mereka yang menjadi sasaran tembak ? ya karena masyarakat/publik sekarang menjadikan Jokowi sebagai “point of interest” ketika media menyajikan berita tentang Jokowi pasti akan menjadi trending topik, trending artikel, dan trending-trending yang lainya. Momen inilah yang sengaja mereka gunakan untuk numpang tenar.

Dengan menyerang Jokowi maka minat publik akan semakin interested terhadap berita yang disajikan, minimal publik tau dan kembali refresh walaupun setelah itu juga tetap mencaci. Mereka rela dicaci guna satu tujuan ya, ELETABILITAS.

Sebegitu mahalnya harga sebuah elektabilitas, sehingga berbagai cara digunakan untuk mendongkrak bahkan tanpa rasa malu menggunakan cara-cara kotor dan busuk.

Tidakkah ada cara-cara lain yang lebih manusiawi, yang lebih berbobot yang dapat digunakan untuk meng-edukasi masyarakat ?

Salam kompasiana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 11 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: