Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Jalansatusatu

logika adalah modal dalam pembentukan mental bermasyarakat, logika bersih adalah pijakan

Prabowo Kubur Isu Kudeta Dengan Bertemu Habibie

OPINI | 31 October 2013 | 04:18 Dibaca: 1576   Komentar: 6   2

13831512861176865940

Habibie dan Prabowo (sumber: the Habibie centre, Galangpress group dan jalansatusatu file)

Sudah bukan rahasia lagi adanya perseteruan hebat antara Presiden ke 3 BJ Habibie dengan mantan Pangkostrad era Soeharto Letjen TNI Purn Prabowo Subianto, peristiwa pada bulan mei 1998 memang tidak bisa begitu mudah hilang dari ingatan kita, bagaimana pada saat itu terjadi pergolakan kepemimpinan Nasional, isu usaha pengambilan paksa puncak kepemimpinan Negara dari Presiden Habibie oleh Prabowo sangat santer terdengar di masyarakat, kronologi yang masih simpang siur akan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

Rumor isu Kudeta Prabowo hingga sampai saat ini memang memenjara nama Prabowo dengan cap sebagai sosok yang pernah berkhianat dan manusia ambisius jabatan, bahkan banyak yang berprasangka bahwa ngototnya Prabowo kembali ke Indonesia dan masuk kedunia politik dengan tujuan menjadi Presiden adalah wujud dari dendam masa lalu ketika gagal merebut jabatan Presiden dari tangan Habibie, Prabowo sebagai sosok ambisius memang sangat melekat dibalik pencitraannya yang berusaha dia bangun sebagai tokoh politik yang peduli akan nasib bangsa ini.

Gagal kudeta pada tahun 1998 membuat banyak spekulasi yang terjadi, ketika tokoh-tokoh pelaku kejadian pada saat itu mencoba memberi keterangan yang labih berkesan pembelaan lewat buku-buku yang mereka terbitkan, keterangan yang berbentuk versi mereka masing-masing yang sudah bisa dipastikan bermuara terhadap pemulihan nama baik masing-masing dengan versi pembenaran-pembenaran versi mereka masing-masing tentunya.

Prabowo mengeluarkan buku yang berjudul Ksatria Pengawal Macan Asia yang beberapa isinya dikutip oleh portal berita online (sumber: merdeka.com) tentang bagaimana kronologi pertemuan Prabowo dengan Presiden Habibie, ketika Prabowo mengetahui bahwa dia dicopot oleh Habibie dari jabatannya sebagai Pangkostrad, pada saat itu Prabowo marah dengan Habibie karena merasa dipencundangi dengan pencopotan sepihak yang dilakukan oleh Habibie, dengan alasan Prabowo diindikasi akan melakukan Kudeta terhadap Presiden yang pada saat itu dipegang oleh Habibie.

Pada pertemuan diruangan Presiden Habibie itu Prabowo dengan mengatas namakan ayahnya  Soemitro Djojohadikusumo dan mertuanya Presiden ke-2 Soeharto meminta kepada Presiden Habibie untuk membatalkan niat mencopot dirinya dari Pangkostrad, Prabowo meminta waktu tiga bulan unutk masih menjabat sebagai Panglima Kostrad, permintaan yang langsung ditolak oleh Habibie, bahkan habibie meminta dengan tegas sebelum Matahari terbenam Prabowo sudah menyerahakan semua pasukan Kostrad kepada Pangkostard yang baru, pada saat itu ditunjuk Mayjen Johnny Lumintang mengantikan Prabowo sebagai Pangkostrad.

Ketegangan habibie pada saat menemui Prabowo yang menolak pencopotannya terungkap dalam kisah jenderal Sintong Panjaitan yang pada saat itu sebagai penasehat bidang Hangkam Presiden Habibie, bagaimana Prabowo menghadap Presiden dengan membawa senjata lengkap dengan dikawal 12 prajurit terlatih, sehingga membuat Sintong harus melakukan tindakan dengan memaksa Prabowo untuk melucuti senjatanya.

Waktu berlalu, penggalan kisah tak terungkap itupun berlalu menyisakan tanda tanya besar tentang niat sebenarnya Prabowo menemui Habibie dan pengerahan 90 ribu pasukan Kostrad di dalam Ibu Kota, kisah kelam yang tidak terselesaikan itupun mulai kabur dengan hiruk pikuknya perkembangan politik di Indonesia, tapi ketika Prabowo mencalokan diri menjadi Capres untuk Pemilu Presiden 2014, isu aksi Kudeta Prabowo itupun kembali lagi muncul ke permukaan, isu yang bagai bom waktu bagi Prabowo, isu yang membuat namanya tidak bisa lepas dari  citra sebagai sosok penghianat dan ambisius.

Langkah untuk mencoba mengubur atau menetralisir isu Kudeta itupun harus dilakukan oleh Prabowo jika tidak mau isu ini menyerangnya di 2014, salah satu langkah itu adalah dengan bertemu langsung dengan Habibie sebagai bentuk pencitraan opini bahwa tidak ada lagi perseteruan diantara mereka, pertemuan yang sangat sarat muatan politik Prabowo untuk bisa meredam isu kudeta yang akan menyerang dirinya di Pilpres 2014 nanti.

Meski juga harus kita fahami langkah Prabowo ini adalah langkah baik untuk bisa memperlihatkan ke Publik jika dua tokoh ini sudah berdamai, mereka berdua sepakat menyatakan bahwa sudah tidak ada lagi masalah diantara mereka.

Jika langkah Prabowo ini cukup untuk menutup kesalahan masa lalu jika benar dia akan melakukan Kudeta 98, maka kita adalah bangsa yang baik yang bisa begitu mudah memaafkan dan melupakan kesalahan yang mungkin di lakukan Prabowo pada saat itu, semua kembali ke anda dalam melihat, Apakah isu kudeta yang melibatkan nama Prabowo dengan mudah bisa kita kubur hanya dengan melihat pertemuan damai antara Prabowo dengan Habibie?? jawabannya ada di anda.

-Jalan Satu Satu-

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 10 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 11 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 11 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 11 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: