Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Caleg, Baliho, dan Kreativitas

OPINI | 18 October 2013 | 11:12 Dibaca: 307   Komentar: 2   0

Baliho para calon anggota legislatif (caleg) baik tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga pusat sejak beberapa bulan lalu sudah banyak “mengotori” ruang publik. Awalnya saya tak ambil pusing dengan baliho-baliho yang tampilannya monoton itu.

Semua nyaris sama. Sebuah foto setengah badan sang caleg yang saya yakin sudah di sotosop (Photoshop maksudnya hehe) sehingga tampak begitu sempurna, kulit putih mulus tak ada bekas jerawat apalagi bopeng. Kemudian ada nomor urut dan tabel yang semuanya kosong kecuali di baris yang sesuai nomor urut dia, dan sudah tentu nama sang caleg sendiri. Satu-satunya yang beda cuma logo partai dan warna yang menjadi latar belakang, disesuaikan dengan warna identitas partai tentunya.

Tapi karena keseringan lihat itu baliho, lama-kelamaan saya tergelitik juga. Saya mencoba merenungi jalan pikiran sang pemilik baliho. Cukup lama saya merenung, tapi belum ngeh juga. Mungkin karena otak saya yang kupdet (kurang update) perlu di upgrade hehe.

Hampir semua caleg yang ada di baliho itu saya tidak kenal. Memang ada satu dua yang saya tahu karena mereka caleg incumbent dan hanya mencalonkan diri di tingkat kabupaten/kota. Di luar itu, blas saya tidak tahu apa lagi mengenalnya.

Saya yakin, bukan cuma saya yang merasakan hal ini, tapi hampir semua orang, kecuali kader partai yang bersangkutan. Dari fenomena ini saya menyimpulkan para caleg itu semuanya enggak kreatif.

Lah mau dibilang kreatif bagaimana wong hampir semua caleg bikin baliho formatnya sama, tiap pemilu pula. Terus, atas dasar apa orang-orang seperti saya mau memilih para caleg tersebut kalau informasi yang disampaikan hanya nama, foto (yang sudah diolah), dan nomor urut?

Come on, demokrasi di negara kita sudah tumbuh lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Itu artinya paling tidak sudah dua pemilu (yang demokratis) kita lalui, para pemilih sudah semakin pintar. Para caleg juga seharusnya bertambah cerdas. Bikinlah iklan kampanye yang mencerdaskan masyarakat. Bukannya mengotori ruang publik dan mengganggu lingkungan dengan memaku baliho di pohon-pohon.

Kalau melihat kondisi sekarang, ditilik dari beberapa pilkada kota maupun provinsi, tingkat golput cenderung meningkat. Artinya untuk menarik minat pemilih mau menggunakan haknya aja udah susah banget. Butuh sesuatu yang bener-bener wah  yang bisa menggugah para pemilih agar mau bangun pagi terus berangkat ke TPS untuk mencoblos. Kalau melihat apa yang terjadi sekarang, melihat gaya kampanye para caleg, saya kok pesimistis angka golput bakal berkurang. Pemilih tidak diberikan pilihan yang ”memadai”.

Mungkin karena keterbatasan, baik waktu, tenaga dan modal, kampanye statis, yakni kampanye menggunakan baliho, pamflet, sticker dll masih menjadi pilihan utama. Selain karena biayanya mungkin lebih murah, sebarannya juga lebih luas. Namun setidaknya mereka bisa membuatnya lebih baik.

Para caleg seyogyanya bisa memberikan alasan mengapa mereka layak dipilih, salah satunya dengan memaparkan informasi yang dibutuhkan oleh pemilih. Informasi tentang latar belakang pendidikan sang caleg, menurut saya itu sangat penting dan perlu dicantumkan di baliho. Latar belakang pendidikan menjadi pintu masuk pemilih untuk melihat kapasitas dan kapabilitas sang caleg. Kemudian data soal pengalaman kerja atau organisasi, juga menunjukkan kemampuan manajerialnya. Bila perlu penghargaan apa saja yang pernah diraih juga bisa dicantumkan.

Lalu visi dan misi mereka secara singkat saya kira juga penting dipaparkan. Meski terkesan pragmatis, namun dari sini kita (pemilih) bisa sedikit mengetahui karakter sang caleg. Kita bisa tahu mana visi misi yang ngayawara (lebay) atau yang realistis. Paling tidak kita memiliki bukti tertulis soal janji-janji mereka saat kampanye.

Dengan begitu, pemilih mempunyai informasi awal yang memadai untuk menentukan pilihan, bukan seperti membeli kucing dalam karung. Bukan sekadar memasang tampang.

Ngomong-ngomong soal tampang, saya agak geli juga dengan para caleg yang merasa mereka sedang mengikuti kontes kecantikan atau kontes Abang dan None Jakarta. Mereka berpose bak seorang model yang tatapannya melihat ke awan atau ke samping, bukan ke lensa kamera. Seolah sedang memalingkan muka. Secara artistik mungkin baik, tapi secara emosional tidak memberikan dampak yang bagus terhadap tingkat keterpilihan dia.

Saya pribadi melihat caleg yang seperti itu terkesan sombong, tidak merakyat. Seolah menjaga jarak dengan pemilihnya. Kemudian ada lagi yang menatap  kamera tapi dengan mata melotot tanpa senyum. Ini juga justru menakuti pemilih.

Itu semua memang cuma pendapat pribadi saya, tapi saya rasa kita semua lebih suka menatap foto orang yang tengah menatap balik ke kita dengan senyuman ramah. Dengan tangan terbuka yang siap menerima kita, bukan mengepal seolah hendak memukul, bukan menuding seolah sedang menyalahkan.

Kreativitas dalam berkampanye juga menunjukkan para caleg memiliki kreativitas untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini. Dengan begitu, artinya kita punya harapan. Namun bukan semakin kreatif melakukan korupsi!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Buruk untuk Pengguna APTB, Mulai Hari …

Harris Maulana | | 01 August 2014 | 11:45

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Mendekap Cahaya di Musim Dingin …

Ahmad Syam | | 01 August 2014 | 11:01

Generasi Gadget dan Lazy Parenting …

Umm Mariam | | 01 August 2014 | 07:58

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 3 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 6 jam lalu

SBY-MEGA Damai Karena Wikileak …

Gunawan | 6 jam lalu

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 15 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: