Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninin Herlina

Ninin Herlina saat ini adalah mahasiswi Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Konsentrasi Kajian Stratejik Kepemimpinan ….Toward a selengkapnya

The J Curve

OPINI | 25 September 2013 | 07:05 Dibaca: 218   Komentar: 0   1

‘THE J CURVE:
STRATEGI MEMAHAMI MENGAPA BANGSA-BANGSA BERJAYA DAN JATUH

Tidak ada negara-negara di dunia yang bertahan tanpa didukung ketahanan nasional. Dalam buku The J Curve, Ian Bremmer merumuskan beragam strategi yang menyebabkan suatu negara berjaya dan sebaliknya mengungkapkan berbagai fenomena yang menyebabkan suatu negara runtuh bahkan punah dalam kepemimpinan nasionalnya. Kurva J adalah sebuah alat yang dirancang untuk membantu para pembuat kebijakan mengembangkan kebijakan-kebijakan luar negeri yang lebih berwawasan dan lebih efektif. Sehinnga kurva J tersebut akan menunjukkan tingkat kestabilan suatu negara serta ancaman-ancaman yang membuat suatu negara itu mengalami ketidakstabilan.
Karena berbicara ketahanan nasional adalah mengungkapkan fakta tentang kestabilan dan kemajuan. Kondisi negara-negara di dunia tentunya sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada negara yang tertutup sama sekali dari pengaruh luar tapi stabil, ada juga negara yang tertutup tetapi tidak stabil sehingga mengalami konflik yang berkepanjangan bahkan punah dalam sejarah. Ada juga negara yang terbuka namun tetap stabil serta ada lagi negara yang semakin terbuka dengan pengaruh luar tapi justru mengalami ketidakstabilan. Pergeseran dalam titik kestabilan menuju ketidakstabilan atau sebaliknya dari ketidakstbilan terus berupaya menuju kestabilan, ini merupakan konsep yang dijelaskan dalam kurva J. Huruf J yang dimaksud tersebut toal menggambarkan bagaiman setiap negara mengalami perubahan baik dalam dinamika menuju keterpurukan ataupun menuju kebangkitan yang lebih menyejahterkan rakyat.
Bentuk huruf J dengan dua sisi yang berbeda panjang yakni sisi kanannya panjang sementara ssi kiri pendek, ini menunjukkan perbedaan gerak perubahan suatu negara. Sedangkan garis lengkung di bawah adalah garis penghubung. Semua negara. Kata Bremmer sebagai pelopor konsep Kurva tersebut, bisa di baca dengan menggunakan kurva J.
Dalam bukunya tersebut Bremmer mengakategorikan negara-negara yang berda di ujung kiri kurva J antara lain; Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Juang II, Kubadi bawah Catros dan Irak di bawah kepemimpinan kerasnya Saddam Husein. Mereka semua adalah rezim-rezim otoriter yang terkonsolidasi. Para diktator tersebut membuat ketidakstabilan di luar negeri dengan tujuan mempertahankan kestabilan di dalam negeri. Seperti Saddam Husein yang menolak kerjasama dengan mematuhi resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa.
Sementara Korea Utara juga pada prinsipnya tidak akan sanggup mengisolasi diri selamanya, dengan terus menutup diri dari membukan akses dengan pihak luar dan terus berupaya sekuat tenaga mempertahankan kestabilan semu di dalam negeri sendiri. Kestabilan semu yang dimaksud justru semakin menggerogoti konflik pada masa yang akan datang. Korea Utara memiliki peluru kendali dan pusat militerisasi terkuat sedunia. Sementara Cadangan nuklir yang menjadi agendan persenjataan mereka juga turut memperburuk ketidakstabilan internasional.
Ujung kiri adalah kurva J yang paling kontraintuitif yaitu negara-negara yang sering digolongkan sebagai negara paling melarat dan paling terpuruk di luar dugaan ternyata mereka stabil. Bagian kiri kurva tentu menyiratkan keadaan yang paling negatif. Maka, setiap peristiwa-peristiwa penyebab ketidakstabilan dapat dengan cepat mendorong negara-negara di bagian kiri kurva ke situasi tidak stabil yang membahayakan.
Afrika Selatan dan Yugoslavia merupakan negara yang berada di titik paling rendah Kurva J. Keduanya memasuki titik paling rendah pada kurva J dalam setengah dasawarsa yang sama. Afrika Selatan berhasil selamat berada di sisi kanan kurva, sementara Yugoslavia terjerumus dalam peperangan. Serta sangat sulit menemukan pemimpin yang mampu menjadikan Yugoslavia menuju kestabilan.  Militerisme Milosevic semakin memicu kekuatan-kekuatan sentrifugal yang menarik Yugoslavia ke berbagai arah. Sementara otoritas politik dan moral Mandela di Afrika Selatan diakui secara luas, sehingga berbagai kelompok ras, suku dan etnis yang berbeda bersedia bersatu dalam proyek bersama.
Bagian kanan kurva tentunya menunjukkan kestabilan setiap negara dengan konsep keterbukaannya terhadap berbagai pengaruh luar baik dalam hal politik, ekonomi, sosial dan kultural. Negara-negara ini secara hukum juga mengabadikan perlindungan atas hak-hak warga negara dan hak asasi manusia. Lembaga-lembaga pemerintahannya yang saling independen terhadap yang lain juga memperkuat stabilitas negara itu.
Bremmer mengkategorikan Negara-negara yang masuk dalam bagian kanan kurva J antara lain; Turki, Israel dan India. Masyarakat di negara-negara ini memiliki banyak kesamaan yang mendasar. Mereka merupakan masyarakat yang dinamis, modern, sudah terbiasa dengan ekonomi pasar, demokrasi partai dan perubahan. Sangat berbeda dengan negara-negara di bagian kiri Kurva yang sangat enggan dengan konsep kewirausahaan maupun ekonomi yang membangun kerakyatan.
Sehingga dalam analisis sederhana memberi gambaran bahwa perjalanan kurva semestinya terus mengalami perubahan, hanya saja negara-negara yang membiarkan dirinya larut dalam kestabilan yang menutup diri sesungguhnya kurang memberi definisi secara utuh terhadap kemajuan bangsa. Akan tetapi lebih menunjukkan keterbatasan gerak suatu masyarakat atas nama kestabilan, dengan bahasa lain semua masyarakat dalam bagian kurva kiri seakan-akan direkayasa untuk menutup mata dari melihat dunia secara nyata dan penuh inspirasi. Sementara dalam bagian kanan kurva, menggambarkan adanya keterbukaan kepemimpinan untuk memberi pemahaman yang luas tentang pentingnya melihat keragaman secara luas. Namun, eksistensi negara-negara tersebut baik dalam bagian kiri kurva maupun bagian kanan kurva pasti akan terus mengalami perubahan, semestinya setiap pemimpin dengan bijaksana merekayasa dinamika bangsa semata-mata untuk kemaslahatan manusia secara nyata, bukan dengan manipulasi dan sebatas mempertahankan kekuasaan yang diktator.
Namun, apabila melihat lebih jauh lagi, konsep kurva J sesungguhnya bukan mengukur tentang demokrasi tapi bagaimana proses kestabilan dan keterbukaan suatu negara. Dubai dan Singapore turut memperkenalkan konsep kepemimpinan otoriter yang berhasil mengalami keterbukaan dalam tataran gagasan, informasi dan kemajuan dengan pihak luar, namun mereka juga masih utuh mempertahankan kestabilan dan kemakmuran bagi masyarakatnya. Sehingga, rezim otoriter ini juga cukup membuktikan bahwa situasi sosial, politik dan ekonomi mereka dapat melakukan transisi yang sukses dari bagian kiri ke bagian kanan kurva J tanpa ketidakstabilan yang mencapai krisis. Pemerintah mereka tahu dapat menganut keterbukaan tanpa takut menjadi tidak stabil.
Dalam bahasan penutup bukunya, Bremmer menyebutkan negara Cina yang dilematis. Cina tetap berada di bagian kiri kurva J, karena pemerintahannya dikuasai partai tunggal, partai komunis Cina. Namun partai ini telah membuka perekonomian Cina bagi investasi langsung dari luar negeri, dan negara itu telah bergabung dalam World Trade Organization. Cina mencoba membungkus penindasan politik dengan ketebukaan ekonomi. Namun jauh lebih mudah mengelola beberapa juta warga dengan pendapatan  bersaing dengan Eropa Barat paling kaya daripada mencoba mengendalikan 1.3 miliar orang, dengan ratusan juta di antaranya masih hidup dalam kemiskinan.
Semua perubahan ini telah mengantarkan liberalisasi dan menaikkan kemakmuran, baik di dalam negeri Cina maupun di seluruh Asia Timur. Reformasi ekonomi Cina menggambarkan upaya partai untuk merekayasa perpindahan dari bagian kiri ke bagian kanan kurva J tanpa jatuh ke dalam kekacauan politik.
Sementara Amerika sebagai negara adidaya semestiya terus melakukan analisa-analisa dalam menentukan kebijakan-kebijakan secara menyeluruh, karena ketidakterbukaan negara-negara di bagian kiri kurva J tentu juga disebabkan gerakan yang anti Amerika dan sikap kecurigaan yang berlebihan dengan kekuasaan Amerika. Sehingga, Amerika benar-benar membutuhkan kebijaksanaan tidak hanya melanggengkan posisi adidaya tapi bagaimana mewujudkan kestabilan yang merata atau paling tidak mengupayakan pergeseran pada bagian-bagian kurva.
Buku ini cukup menggambarkan dinamika dan persoalan di negara-negara yang berada di bagian kiri maupun bagian kanan kurva J yang tentunya sangat berbeda-beda. Kurva J memberikan banyak pelajaran berharga tentang betapa pentingnya stabilitas dan keterbukaan untuk menjadi negara di bagian kanan kurva J yang terus menanjak ke arah kemajuan.
Pada dasarnya semua negara-negara di dunia mengakui bahwa kestabilan jangka panjangnya akan sangat bergantung pada kemakmuran rakyat dan mengakui bahwa kompromi dengan keterbukaan harus dibuat guna mendapatkan dan mempertahankan kemakmuran dunia masa kini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Akun Dinda Tidak Takut Komen Pedasnya Pada …

Febrialdi | 5 jam lalu

Prabowo Terancam Tidak Bisa Bertarung di …

Rullysyah | 5 jam lalu

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 14 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 15 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: