Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Gunawan

Seorang anak desa yang ingin memberikan sedikit perubahan untuk negeri ini… Follow @GUNAWANug Akun FB https://www.facebook.com/gunawankompasianer PIN selengkapnya

Jokowi: Eyang Amin Rais Bikin Ulah Lagi

OPINI | 25 September 2013 | 06:37 Dibaca: 4068   Komentar: 52   10

 Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional, Amin Rais. | kompas.com/dani prabowo

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional, Amin Rais. | kompas.com/dani prabowo

Setelah ketenaran Eyang Subur meningkat tajam karena kasus perdukunan alias klenik serta memperistri lebih dari 4 wanita mencuat di media. Maka popularitas Eyang Subur sanghat tinggi menutupi kasus Sapi yang saat itu juga sedang heboh dan juga kasus anak Menteri Hatta yang menabrak dan menghilangkan nyawa manusia.

Seperti halnya eyang Subur, eyang Amin Rais sepertinya juga mau cari sensasi. Di penghujung usianya yang sudah senja dan bisa dibilang sudah “bau tanah”. Namun ucapannya sebagai orang yang sudah tua tidak menunjukkan kebijaksanaan.Baca beritanya di sini.

Alih-alih memberi nasehat yang bagus untuk kemajuan bangsa dan negara, akan tetapi cibirannya sangat menyesakkan dada bagi seorang Jokowi. Ya, mungkin pak Jokowi tidak mengambil hati ucapan eyang Amin yang memang sudah mulai pikun itu. Namun secara manusiawi pasti pak Jokowi merasa tersinggung walau tak diungkapkan ke publik dengan membalas ucapan eyang Amin. Bukan type Jokowi membalas saat dihina atau dicibir seperti itu.

Dituduh dan dihina yang lebih sadis seperti ejekan Ruhut kepada Jokowi tentang anak tukang meubel juga tak membuat jokowi menyerang balik Ruhut. Apalagi dengan ocehan Eyang Amin. Jokowi tak mau mengotori hatinya dan budi pekertinya yang luhur untuk melawan eyang yang sudah sepuh. Maka biarkan saja eyang mau ngoceh apa terserah.

Publik akan bisa menilai sendiri sikap kenegarawanan eyang yang picik. memandang sesuatu dengan untung rugi dan takut tersaingi oleh orang yang lebih maju namun  bukan dari kelompoknya. Eyang merasa khawatir karena Jokowi bukan kader PAN atau kader partai Islam yang militan seperti yang diharapkannya. Maka timbullah ide gilanya yang “kepagian” tentang poros tengah jilid II untuk menjegal pencapresan Jokowi.

Eyang Amin yang sudah gagal dalam mewujudkan segala impiannya sepertinya masih merasa ingin mewujudkan cita-citanya dengan mengangkat Hatta Rajasa kader PAN satu-satunya yang bisa diharapkan menaikan PAN mengatur negeri ini. Namun sayang elektabilitas Hatta jauh dibawah Jokowi. inilah yang membuat eyang Amin “gulung kuming” atau uring-uringan. Sehingga segala ucapannya ingin menjatuhkan Jokowi.

Eyang Amin tak sadar bahwa ucapannya itu akhirnya menonjok muka keriputnya sendiri. Berharap ucapannya didengar banyak orang, malah berbuah cacian untuk si eyang. Jokowi memang tak membalas, memang bukan type Jokowi yang suka membalas serangan. Jokowi tetap elegan bekerja untuk rakyat.

Hal itulah yang kemudian ucapan eyang ditanggapi sinis oleh rakyat dan menambah keyakinan rakyat bahwa memang Jokowi lah satu-satunya anak bangsa di negeri ini yang sedang mereka nantikan untuk memimpin negeri ini menuju negeri yang makmur bermartabat, adil dan sejahterah.

Salam-Kompasiana.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 4 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 5 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 9 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: