Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Kholilul Rohman

Suka menulis, membaca, dan fotografi. Tinggal di Jakarta dari Magelang Jawa Tengah. Menulis menyimpul kata-kata, selengkapnya

Pilkada Magelang, Gus Yusuf Terus Gembleng Pemenangan Rohadi-Achadi

REP | 23 September 2013 | 11:54 Dibaca: 931   Komentar: 1   0

Kota Mungkid-Magelang | laskarjagad.blogspot.com || Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah, KH Muhammad Yusuf Chudlori, melakukan penggemblengan konsolidatif untuk pemenangan pasangan Cabup-Cawabup Magelang, Rohadi Pratoto dan Muhamad Achadi di Tegalrejo Magelang, kemarin malam (21/9). Konsolidasi dihadiri ratusan warga dan tokoh masyarakat.

Hadir dalam acara itu sejumlah alim ulama, antara lain KH Tholhah, KH Syamsul Maarif, KH Muhammad Sowam, KH Ahmad Zaini, dan KH Ahmad Sobirin. Hadir juga ketua DPC PKB Magelang Muhammad Achadi yang juga calon Wakil Bupati. Acara juga menghadirkan sejumlah caleg daerah pemilihan Pakis, Tegalrejo, Candimulyo, dan Sawangan.

Gus Yusuf, demikian panggilan akrabnya, menyatakan warga nahdliyin harus memegang kekuasaan dengan tujuan agar mudah melakukan ijtihad politik dalam mempertahankan nilai-nilai Islam ala Ahlussunah wal Jamaah dan melakukan transformasi sosial secara signifikan bagi warga yang masih tertinggal.

Dalam kesempatan ini Gus Yusuf menggembleng para caleg PKB dan Tim Sukses Pemenangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Rohadi dan Achadi. Tujuannya agar saat kekuasaan kelak dipegang maka pemanfataannya harus benar-benar sesuai ajaran alim ulama dan nilai-nilai Islam ala Ahlussunah wal Jamaah.

“Pak Rohadi Calon Bupati dan Mas Achadi Calon Wakil Bupati ini sudah saya tanting. Siap apa tidak nderek ngelmune ngulama’? Piyambake sanggup dan siap. Kalo begitu ya mari maju, Bismillah,” kata Gus Yusuf.

Gus Yusuf bercerita, bahwa dewasa ini gerakan internasional dari Timur Tengah sudah masuk ke wilayah Indonesia dengan tujuan mengganti aqidah Islam Ahlussunah wal Jamaah dengan aqiqah Wahabi. Aqidah Wahabi yang masuk ke Indonesia, antara lain, melalui jalur alumni santri yang pernah belajar di sana.

Untuk menyebarkan ajaran ini mereka melakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui kekuasaan. Apalagi mereka mempunyai dana yang besar.

“Juga penyebarannya dengan mendirikan pondok pesantren. Hari ini ancaman Wahabi sudah di depan mata,” kata Gus Yusuf.

Oleh sebab itu, berdiri dan tidaknya pondok pesantren tergantung pada ijin penguasa setempat, yaitu lurah, camat, dan bupati/wakil bupati. Sehingga kekuasaan, dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati, mengapa harus dipegang antara lain agar tidak mudah memberikan ijin pendirian pondok pesantren yang secara tiba-tiba dan akan mengganti aqidah Islam yang damai dan toleran dengan aqidah Wahabi.

“Di sinilah pentingnya kita harus punya Bupati dan Wakil Bupati yang manut ulama dan aqidahnya bisa ditata. Sebab ‘assiyasah mabniyatun ala aqidatiha’. Bahwa politik pasti akan berdiri pada ideologinya. Jika ia berangkat dari PKB jelas aqidahnya Islam Ahlussunah wal Jamaah,” kata Pengasuh Pondok Pesantren API Salafi, Tegalrejo, Magelang.

Katanya, mengapa ormas Nahdlatul Ulama (NU) mendirikan PKB, karena NU ingin ikut menata dan mewarnai kehidupan politik dan pemerintahan di Indonesia.

“Sekaligus untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam ala Ahlussunah wal Jamaah,” katanya. | kholilul rohman ahmad

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: