Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Pecundang Bukan

Magelang, jawa tengah

Basmi Preman

OPINI | 17 September 2013 | 22:51 Dibaca: 610   Komentar: 0   0

Serda Ucok setelah mendapat putusan pidana 11 tahun penjara dan diberhentikan sebagai anggota Kopasus, dalam orasi beberapa detiknya menyatakan akan membasmi preman di negara ini sampai ke akar-akarnya, pernyataan Serda Ucok dianggap bahwa dia tidak menyesal dalam kasus penyerangan penjara.

Preman terdapat di desa sampai perkotaan, biasanya dimana ada lingkungan masyarakat kampung  jalan raya, terminal bayangan, pasar dan pusat bisnis  bisa memunculkan kegiatan preman yang dalam sekala kecil seperti jasa keamanan, meramaikan suasana, kegiatan positif jasa parkir. setelah itu preman mulai  menunjukan kekuatan fisiknya dengan cara berkelahi, membentak, marah2, atau menantang orang sekitar dan atas jasa keamanan meminta uang secara paksa sampai aksi kriminal, biasanya dimulai kriminal ringan mencuri, menganiaya.

Para preman lokal melakukan proses sosialisasi perkenalan sesama preman yang memegang wilayah dan saling membanggakan diri dengan apa yang telah dilakukan, sesama preman kebanyakan saling takut tidak enak hati untuk bertengkar atau ribut karena berasal dari satu kegiatan (negatif) yang sama, dalam sosialisi sesama ketua preman jangan harap akan muncul kata2 kasar, biasanya kata2 sopan yang saling merendah, untuk menarik hati agar dianggap jagoan yang punya etika moral, namun preman jika berhadapan dengan orang biasa kata2nya mulai kasar, keras, dan tatapan mata tajam dan boleh memukul orang dengan alasan mata orang lain menatap tajam kepadanya.

Sebenarnya preman tidak mempunyai teknik beladiri yang bagus, karena tidak belajar sacara formal (ilmu beladiri), namun mengembangkan beladiri jalanan, marah-marah dan langsung pukul membabi buta, serta kebanyakan bersenjata tajam biasanya pisau, golok-clurit kecil. preman biasanya setelah dengan tangan kosong tak berkutik mulai menggunakan senjata pisau, setelah pisau kalah berkutik menggunakan golok-clurit kecil kemudian golok-clurit ukuran normal, setelah itu menggunkan samurai besar-yang penggunaan samurai digunakan asal-asalan harusnya samurai ada cara-caranya, kalau preman besar mempunyai koneksi mereka mulai menggunakan pistol, senjata api yang digunakan untuk menakut-nakuti.

Preman beda dengan anak jalanan, punk, pengamen, awalnya preman bisa muncul dari aksi anak jalanan, punk, pengamen, atau dari preman sekolah, merasa telah naik keberanian dan kemampuan berekelahi serta mampu bersosialisasi menyatakan menjadi preman.

Pemegang Preman Indonesia Hercules menyatakan ada preman putih yang melakukan kegiatan dengan fear, jujur, sesuai aturan dan dipertanggung jawabkan, dan menyatakan dirinya preman putih yang tak terlibat dalam kriminal, pemerasan, penganiayaan, pencurian atau kejahatan kelas berat, namun kenyataannya hercules (Rosario Marshal) terlibat dalam kasus pemerasan.

Preman di jawa dan di jakarta berbeda, kalau di jawa dipegang oleh orang jawa, di jakarta, preman jawa malah tak mempunyai nama kalah dari preman Indonesia timur (Asal bukan Suku). preman Indonesia timur khususnya NTT, Ambon, dan beberapa kasus Timor Leste, sungguh sangat memalukan daerah asal padahal mereka mempunyai SDM lebih baik, memilik tubuh,jiwa dan otak yang sehat dan kuat serta mempunyai iman agama yang baik (bukan iman Ktp) tapi entah kenapa memilih menjadi preman, mungkin preman kegiatan yang mengandalkan fisik seperti kegiatan mereka di kampung yang pelaut atau bertani.

sebenarnya preman tidak mempunyai keberanian yang tinggi2 amat, karena mereka juga manusia yang mempunyai ketakutan, dan beberpa kasus keberaniannya diakibatkan karena minuman keras dan obat2an terlarang, kenapa preman mempunyai kebeeranian yang tidak terlalu tinggi beda dengan teroris- atau perampok spesialis besar, karena teroris dan perampok besar (toko emas dan bank) melakukan latihan secara terprogram, dan yang paling penting preman juga tidak melakukan PemBaiat-an = Disumpah, Sumpah setia, Rela mati demi idealisme.

sesama preman saling takut (pekewuh-saling nggak enak), jadi kalau diserang preman jangan lapor preman nanti malah cuma diperkenalkan doang bahwa ini masih saudara dengan bahasa cenges-ngesan, kalau dipalak preman lapor POLISI, kalaupun terjadi di daerah kampung-desa anda kumpulkan warga. preman bisa jadi berasal dari masalh ekonomi atau sosial namun kenyataannya kembali pada orangnya.

Hercules sang penguasa preman ibukota, pernah merasa marah-kecewa pada presiden SBY, karena merasa ikut membangun kendaraan politik, saat hercules terlibat masalah SBY tidak mau ikut menanganinya, masalahnya hercules datang sebagai preman, dan Negara tidak boleh kalah terhadap aksi premanisme.


Soeharto, jauh sebelum ini, Petrus “penembakan misterius” terhadap subyek dianggap meresahkan masyarakat, tentu cara ini tak boleh diberlakukan karena ada hukum yang melindunginya.
pernyataan Hercules secara tidak langsung yang menyatakan bahwa pembunuh adalah pembunuh bukan preman , pemalak adalah pemalak bukan preman, pencuri adalah pencuri bukan preman, preman adalah preman.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: