Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mcdamas

Orang biasa (seperti kebanyakan rakyat Indonesia) yang sok ikut kompasiana meskipun terbata-bata. Bila teman bersedia, selengkapnya

Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Anas?

OPINI | 15 September 2013 | 00:47 Dibaca: 862   Komentar: 3   1

137918079790063569Gambar: Republika.co.id

Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI). Opo maneh iki? Ormas lagi-ormas lagi.

Anas Urbaningrum, bekas ketua Partai Demokrat berencana mendeklarasikan sebuah ormas baru dengan nama Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI). Ormas ini, kata Tridianto (loyalis Anas) adalah wadah untuk menampung para barisan sakit hati dan loyalis Anas yang keluar dari PD.

Sepertinya suatu hal yang lazim di negeri ini, tetapi bagi rakyat pasti memuakkan, bila seseorang (tokoh) yang terdepak dari suatu organisasi (partai, ormas dan sejenisnya) membentuk ormas atau partai baru. Bila ditanya tujuannya, jawabannya adalah untuk menampung ide atau gagasan untuk membangun bangsa.

Tetapi bila kita cermati, orang-orang seperti itu sebenarnya adalah orang yang haus kekuasaan. Mereka maunya selalu yang menjadi pemimpin atau ketua, tidak mau menjadi anak buah; mereka merasa lebih hebat dari yang lain. Kalau memang mereka ingin membangun bangsa, mengapa mereka tidak masuk atau bergabung saja dengan ormas atau partai yang sudah ada dan menawarkan ide atau gagasannya di sana.

Ormas atau partai-partai yang ada saat ini pun sebagian besar didirikan oleh orang-orang seperti ini, orang-orang yang haus kekuasaan, sakit hati dan mau menang sendiri.

68 tahun sudah bangsa ini “merdeka”, tetapi hingga saat ini bisa dikatakan bangsa ini masih menjadi bangsa linglung: bangsa yang tidak tahu mau kemana dan diapakan, bangsa yang serba gamang dan tergagap-gagap menatap masa depan. 68 tahun, sebagian besar rakyatnya pun tidak tahu visi dan misi dibentuknya bangsa ini.

Dalam segala aspek pembangunan baik ekonomi, budaya, pendidikan, infrastruktur, mental para penduduknya, bangsa ini sangat jauh tertinggal dari mereka yang usianya jauh lebih muda seperti Malaysia dan Singapura. Bangsa yang katanya besar dan kaya raya ini hidupnya sangat tergantung oleh pasokan barang impor, rakyatnya masih bermental inferior, dan korupsi justru menjadi budaya utama.

Kalau mau mencari siapa yang salah atas kegagalan bangsa ini dalam membangun kemandirian ekonomi, mental dan karakternya, adalah para pemimpin bangsa ini juga.

Setelah era Soekarno, belum adalagi pemimpin yang memiliki karakter dan rasa percaya diri yang kuat yang bisa menggelorakan motivasi dan inspirasi kepada rakyatnya bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang harus berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari).

Selama ini yang muncul (terutama yang saat ini berkuasa) adalah pemimpin yang bermental “jongos”, yang menggiring bangsa ini ke jurang hutang, tunduk pada pemodal asing dan menjadikan rakyatnya sebagai bulan-bulanan barang impor. Pemimpin-pemimpin seperti ini tidak pernah bisa merasakan bahwa nafas rakyat yang menahan sulitnya hidup di negeri sendiri sudah diujung tenggorokan, amarah rakyat yang melihat para pejabat berpesta pora merampok uang negara sudah di ubun-ubun.

Lha kok sekarang si Anas yang statusnya saja tokoh tersangka korupsi, kok bisa-bisanya mendirikan Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), mau menghimpun rakyat untuk Indonesia yang lebih baik.  Sungguh suatu penghinaan terhadap akal sehat rakyat. Ormas ini ujung-ujung juga pasti tidak jauh dari mengejar kekuasaan, menjadi partai politik dan begitu meraih kekuasaan di genggaman, korup juga akhirnya.

Oalaahh rek.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 14 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 16 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 16 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 17 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: