Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Perang Gambar Menjelang Pemilu

REP | 09 September 2013 | 11:30 Dibaca: 468   Komentar: 14   4

Bayangan suasana pemilu yg penuh hiruk pikuk suara kendaraan bermotor berkonvoi di jalanan seperti di Indonesia tidak akan kita temui di Jerman. Pemasangan bendera partai politik, umbul- umbul maupun spanduk dengan slogan-slogan yg menjanjikan juga tidak ada di jalanan.

Minggu- minggu ini hanya kita temui banyaknya poster bertebaran menjelang diadakannya pemilihan umum tingkat daerah ( Landtagswahl) pada tanggal 15 september dan Bundestagswahl di tingkat nasional tgl 22 september. Poster besar maupun kecil berderet di sepanjang jalan dan kebanyakan memuat foto kandidat  yg mencalonkan menjadi anggota parlemen.

1378654995996273405

deretan gambar sepanjang jalan..

Diperkirakan sudah lebih 80. 000 poster telah dipasang di kota München. Menariknya walaupun banyak bertebaran di jalanan tapi kelihatan tidak semrawut atau saling tindih antar gambar yg menjadi saingannya. Selain itu tidak ada satupun gambar yg dipasang tinggi pada pohon dan menggunakan paku untuk menempelkan.

Poster kecil ukuran sekitar 1 x 1 m dipasang dengan posisi segitiga menggunakan kayu atau besi yg menampakkan 3 gambar dan melingkari pohon tsb. Semacam tali plastik digunakan untuk mengikat pada pohon agar bisa berdiri tegak atau tidak roboh terkena angin.

1378655096582613483

dlm bentuk baliho…

Selain itu baliho dan tiang2 besar di pinggiran jalan yg memang disewakan untuk berbagai iklan, menjadi tempat berpromosi para kandidat maupun parpol yg mengusungnya. Gambar besar dari para kandidatpun menempel dengan senyumnya yg menjanjikan berikut slogan2nya yg menggiurkan untuk menarik pemilih.

Model kampanye juga dengan mengundang orang2 untuk menghadiri pidato kandidat yg dilakukan baik di tempat terbuka maupun tertutup. Untuk tempat tertutup pengunjung pun bebas dari golongan manapun hanya saja biasanya terbatas disesuaikan dg kapasitas tempatnya. Kandidatpun akan menyampaikan orasi dan program yg disertai janji jika mereka terpilih, mirip di Indonesia. Hanya saja setelah acara selesai tidak akan ditemui konvoi kendaraan bermotor yg membuat macet jalanan, kebisingan maupun tidak jarang terjadi tawuran. Mereka lebih memilih untuk mendengarkan dan mengetahui misi atau visi sebagai bekal memilih partai atau kandidat di parlement daripada sekedar berhura- hura.

1378655180323281951

dalam bentuk lain…

Tidak jarang jg akan kita temui di pusat keramaian maupun supemarket, orang2 dari partai tertentu membuka stand untuk menyebarkan program partai dalam bentuk semacam brosur. Mereka melayani tanya jawab jika ada pengunjung yg mampir dan ingin memperoleh informasi lebih banyak tentang partai dan kandidat yg diusungnya tsb.

13786556291628838409

salah satu partai yg berpromosi…

Sampai saat ini masih belum banyak kandidat atau parpol yg melakukan kampanye lewat media televisi. Kebanyakan stasiun TV akhir2 ini menyiarkan dialog atau duel antar kandidat. Seperti minggu kemarin incumbent kanzelir Angela Merkel yg dari partai CDU (Christlich Demokratische Union) dengan Steinbrück yg dari SPD (Sozialdemokratische Partei Deutschland). Duel yg cukup seru dimana tanpa penonton sbg tim sorak di studio dan hanya mereka berdua berdiri selama 90 menit untuk menjawab pertanyaan 4 moderator.

Kedua partai ini adalah yg terbesar di Jerman dan selalu silih berganti memenangkan pemilu. Untuk 2 kali periode saat ini CDU masih menjadi pemegang pemerintahan. Karena suara yg diperoleh tidak lebih dari 50% terpaksa berkoalisi dgn partai kecil lainnya. Diramalkan untuk pemilu tahun ini CDU akan masih meraih suara terbanyak.

Walaupun CDU mengacu dari namanya seperti mewakili agama tertentu, tapi dalam menjalankan pemerintahan atau mengelola negara tidak mengambil hukum2 dari agama dan menjadikan Jerman sebagai negara agama. Bentuk negara tetap demokrasi dengan sistem sekuler liberal yg digunakannya.

gambar punya ELDE

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 9 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 9 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal Festival Ancak dari Desa Jeladri, …

Cak Uloemz | 7 jam lalu

Liga Tarkam, Rusuh Kok Budaya? …

Aprillia Lita | 7 jam lalu

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Sri Mulyani Jadi Mentri Jokowi dapat …

Alfons Meliala | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: