Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dewa Gilang

Single Fighter!

Antara “Miss World Muslimah” dan “Miss World” Ala Sekuler

REP | 03 September 2013 | 13:19 Dibaca: 1371   Komentar: 37   8

Jakarta, 15 September 2012, tepatnya di Jakarta Convention Centre, tengah digelar hajatan besar kontes “ratu-ratuan”. Bukan “Miss Universe” atau “Miss World” yang sedang diguncang prahara kontroversi, melainkan “Miss World Muslimah”. Kontes kecantikkan yang diperuntukkan bagi wanita-wanita muslimah.

Adalah Neni Spetiani yang ditasbihkan keluar sebagai pemenang dalam kontes yang telah diadakan sejak tahun 2011 itu. Wanita bernama lengkap R.A Nina Septiani Hadiputri Kardjono itu berhasil menyingkirkan 20 finalis lainnya. Ia dinilai layak untuk mencitrakan wanita muslimah yang cantik, pintar, berkepribadian, aktif, dan -tentu saja- pandai mengaji serta berhijab.

Berbeda dengan “Miss World” yang menimbulkan kontroversi, kontes “ratu-ratuan”, yang diklaim Islami dan sesuai dengan tradisi serta budaya bangsa ini, minim dari hiruk-pikuk pemberitaan, dan tentu saja dari kontroversi. Saya pribadi nyaris tidak mengetahui keberadaan kontes yang konon digagas oleh wanita Indonesia tersebut.

Perbedaan lainnya, antara “Miss World Muslimah” dengan “Miss-Miss” lainnya, ialah terletak dari parameter yang dipakai dalam menentukan pemenang. Jika “Miss-Miss” luar negeri menitikberatkan pada 3B (Beauty, Brain dan Behaviour), maka “Miss World Muslimah” menitikberatkan pada 3S (Shalihah, Smart, dan Stylish).

Bagi saya, antara “Miss Wolrd Muslimah” dengan “Miss-Miss” lainnya, termasuk “Miss World” yang tengah diguncang oleh badai pro-kontra, tidak jauh berbeda. Isinya sama, hanya “bungkus luarnya” yang dibedakan.

Jika pada “Miss-Miss” luar negeri wanita “dibungkus” dengan balutan bikini, maka pada “Miss World Muslimah” “bungkus” bikini itu diganti dengan balutan hijab. Istilah “Brain” untuk menggambarkan kecerdasan seorang wanita, diganti oleh kalimat “smart”. Sedangkan “Behaviour” diganti dengan “Stylish”.

Penggantian istilah itu, pada akhirnya, mendorong persepsi publik, bahwa “Miss World” adalah produk sekuler, sedangkan “Miss World Muslimah” adalah produk yang Islami. Padahal intinya, bagi saya, sama saja, yakni berujung kepada komersialisasi wanita, yang dibalut dalam kontes “ratu-ratuan”.

Kalaupun “Miss World Muslimah” tidak mengundang kontroversi, sebaliknya pujian, maka karena kecerdasan yang punya “gawe” dengan “membungkus” kontes itu dengan agama, tradisi, serta kultur yang konon indonesiawi itu. Publik yang selama ini selalu terpaku pada “bungkus” tidak bereaksi negatif.

Inilah yang membedakan antara “Miss World Muslimah” dengan “Miss World” tanpa embel-embel “Muslimah”, yaitu “bungkus luar”. Saya berandai-andai. Andai “bungkus luar” kontes “Miss World” diubah, dengan tidak menggunakan bikini tetapi “batik, kebaya, atau kain tenun khas Bali” yang Indonesiawi, maka apakah kontes “Miss World” itu tetap akan menuai pro-kontra di kalangan khalayak luas?

Tentu kembali kepada anda. Apakah akan terpaku pada “bungkus luar” sehingga energi anda akan habis untuk berdebat, sementara anda melupakan isinya?.

Sayangnya, orang-orang yang selama ini kontra terhadap keberadaan “Miss World” di Indonesia, justru hanya bisa berteriak sembari mengepalkan kedua belah tangan tanpa solusi yang nyata. Faktanya, kontes kecantikkan Islami nan Indonesiawi ala “Miss World Muslimah” justru minim dukungan. Jauh dari hiruk-pikuk publikasi.

Gitu aja koq repot!

Ditulis sebagai tanggapan atas kontes kecantikkan “Miss World” yang menuai pro-kontra di kalangan masyarakat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 9 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 17 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 12 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 12 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 12 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 12 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: