Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Jejep Falahul Alam

Aku adalah seorang yang hobi mencari sesuatu yang baru. Dan selalu berusaha menjadi cahaya dalam selengkapnya

Pilbup Majalengka, Pertarungan Sutrisno-Encang

OPINI | 01 September 2013 | 18:06 Dibaca: 1411   Komentar: 3   0

13780335101842818844

Oleh : Jejep Falahul Alam

Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Majalengka Provinsi Jawa Barat Periode 2013-2018 yang dilaksanakan Minggu, 15 September 2013 tengah memasuki tahapan kampanye. Ada empat pasangan calon yang ditetapkan KPU bakal bertarung memperebutkan kepemimpinan Majalengka selama 5 tahun mendatang. Mereka Hj. Yeyet Rohaeti-Sudirman (Yes) dengan nomor urut 1. Lalu, H. Sutrisno-H. Karna Sobahi (Suka) dengan nomor 2. Lalu, nomor 3, H. Apang Sopandi-Nasir (Sopan) dan nomor 4, H. Abah Encang/Nasar Hidayat-H. Tio Indra Setiadi (Hati). Dari keempat pasangan itu, ada dua pasangan calon “Suka” dan “Hati” yang bakal bertarung sengit memperebutkan kursi kekuasaan tersebut. Namun itu bukan berarti mengangap sebelah mata kekuatan pasangan “Sopan” maupun “Yes”, yang dianggap sebagai kuda hitam. Beberapa analisa yang mendasari mengapa rivalitas “Suka” dan “Hati” masih berkobar di Pilbup 2013, karena ada semacam kekecewaan pribadi antara Bupati Sutrisno dan Abah Encang yang tak akan pernah surut, walau saat berhadapan keduanya selalu menebar senyum. Maka untuk membuktikan siapa yang paling kuat dan berpengaruh akan dilihat dari hasil Pilbup mendatang. Pemenang setidaknya akan menjadi “raja kecil” dan menikmati kue pembangunan. Di antaranya yang paling sensasional mengolah APBD Majalengka, sekaligus efek dari pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kec. Kertajati dan proyek regional maupun nasional lainnya.

Kekuatan Hati dan Suka
Bila menakar kekuatan “Suka” dengan para pesaingnya saat ini lebih diunggulkan. Selain posisinya incumbent yang sudah berkuasa selama lima tahun, ditambah dukungan dana yang melimpah. Petahana (Suka) memiliki mesin partai yang cukup solid dan figur yang saling melengkapi. Sutrisno dikenal dekat dengan masyarakat akar rumput dan dianggap berhasil menata dan membangun Majalengka selama kepemimpinannya. Di antaranya, penataan kota Majalengka, berupa pelebaran Jl. KH. Abdul Halim meski anggaran itu sebagian besarnya dari APBD Provinsi, serta pembangunan Bunderan Munjul dan Taman Dirgantara. Ini menjadi modal berharga baginya untuk mempertahankan kedudukanya di periode berikutnya.

Sedangkan wakilnya, Karna Sobahi merupakan tokoh pendidikan dengan pribadi yang menawan. Bahkan komunikasi politik maupun perbuatanya, mampu melahirkan simpati publik dari kalangan manapun. Wabup Karna mampu menjembatani setiap persoalan yang buntu, ketika Bupati Sutrisno mengeluarkan kebijakan yang dinilai tidak populis. Termasuk bersatunya kembali Suka Jilid II di Pilbup 2013, setidaknya akan melahirkan simpati dari masyarakat kecil, yang beranggapan kepemimpinanya dinilai harmonis dan bisa berbagi peran, walau kerap diterpa isu tak akur. Alasanya pujian bersatunya, karena kondisi ini jarang sekali terjadi di dalam perhelatanPilkada, karena biasanya pecah kongsi karena berbeda kepentingan antara bupati dan wakilnya. Kelebihan Popularitas dan elektabilitas “Suka” menduduki urutan pertama di mata publik, dari hasil sejumlah survei bila dibandingkan dengan tiga kompetitor lainnya. Karena banyak masyarakat merasa puas ataskeberhasilan
memimpin karena ada bukti pembangunan fisik yang dirasakan dan terlihat langsung.¬† Tentunya masih banyak lagi kelebihan lainnya yang tidak bisa diuraikan secara rinci bila Suka bakal tampil menjadi pemenang. Tapi semua itu jangan membuat pasangan Suka merasa di atas angin. Ada ancaman besar yang bakal menumbangkan pasangan incumbent antara “Hati” dan “Sopan”. Majunya kembali Abah Encang dalam perebutan kekuasaan di Pilkada yang kedua kalinya, akan merusak suara petahana. Abah Encang selain memiliki popularitas yang tinggi, didukung juga ormas setia Pemuda Pancasila (PP) dan partai pendukung yang siap bertempur PKS. Pasangan “Hati” sebagai calon penantang, tentunya tidak akan ingin kalah kedua kalinya. Ia akan menggulirkan sejumlah program unggulan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dan menyindir pasangan incumbent. Seperti yang diungkapkan dalam visi-misinya, “Hati” berjanji akan mengembalikan nasib para guru, PNS, menggaji pengurus RW, RT, Hansip dan lain sebagainya. Program ini yang notabene tidak dilakukan pasangan Incumbent. Kebijakan yang kontraproduktif dilakukan “Suka” akan dimanfaatkan betul pasangan yang diusung Partai Patriot dan PKS serta didukung Partai Demokrat ini untuk di jual di masyarakat.
Kelebihan pasangan Hati, “Hati” juga tidak memiliki beban moral, bila dibandingkan dengan incumbent. Kekuatan massa dari akar rumput dan barisan sakit hati (BSH) dari pihak penguasa akan dimanfatkan pasangan “Hati”. Mereka akan melebur dan menyatukan diri untuk satu tujuan, menumbangkan rezim Sutrisno-Karna. “Hati” akan bertarung secara lepas, dan bila menang dendamnya dibayar tuntas. Dan nasib PDIP di Pemilu 2014 bakal dihabisi dan terancam perolehan kursinya di DPRD bakal berkurang. Sehingga masyarakat mempredeksi, pertarungan di Pilbup 2013 ini, merupakan duel antara Sutrisno dan Encang. Kalaupun “Hati” belum beruntung di Pilbup 2013 ini, Abah Encang akan membuktikan bahwa dirinya memiliki massa yang banyak dan berpengaruh di Majalengka. Bagi PKS, massa ini akan dimanfaatkan dalam mendulang suara di Pemilu 2014 nanti. Sedangkan bagi wakilnya, H. Tio Indra Setiadi akan memuluskan dirinya duduk di senayan. Karena Tio selain sebagai cawabup, tercatat sebagai caleg anggota DPR RI dari Dapil Sumedang-Majalengka-Subang (SMS).

“Sopan” Diuntungkan
Setelah pertarungan sengit antara kubu Suka dan Hati. Pasangan Apang Sopandi-Nasir “Sopan” akan diuntungkan dalam perseteruan ini. “Sopan” bisa saja mengganggu atau merecoki suara Suka atau Hati. Terlebih Sopan memiliki dukungan partai pengusung yang banyak.Bayangkan bila kader Partai Golkar, PPP, PKB, PAN serta partai kecil lainnya bekerja ekstra alias mati-matian, bukan tidak mungkin “Sopan” pemenangnya. Karena pasangan ini dianggap calon bupati alternatif. Slogon Maju Bersama Apang-Nasir (Sopan) akan memberikan pengaruh bagi masyarakat. Termasuk program kampanyenya ada yang memiliki kesamaan dengan pasangan “Hati” di antaranya mengembalikan kembali nasib honor guru yang dipangkas di masa kepemimpinan Sutrisno-Karna. Sopan juga menggulirkan program unggulan yang membuat masyarakat menaruh harapan kepada keduanya. Bila Nasir kalah, akan ada keuntungan politik baginya di Pemilu 2014 nanti. Ia akan terkenal dan mudah dipilih ketika akan mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Dapil SMS. Namun “Sopan” akan mengalami ancaman, bila partai pendukungnya mengalami perpecahan, maka harapan menang sangat tipis. Karena tidak bisa dipungkiri, tingkat pragmatisme masyarakat saat ini terhadap imbalan dari timses maupun calon bupati sangat besar. Ada uang, masyarakat bakal memilihnya. Mengenai pasangan dari jalur persorangan, Yeyet-Sudirman (Yes) memang tidak diunggulkan dalam berbagai hal. Tapi biasanya kaum hawa akan memilih calon dari prempuan, karena merasa memiliki hubungan emosional yang tinggi. Namun, bila masyarakat dibingungkan dengan banyak figur calon yang sudah diketahui track recordnya, maka Yes akan mendapatkan limpahan suara dari massa mengambang yang akan menjatuhkan pilihannya pada hari H.Meskipun mereka sadar, dari hasil sejumlah lembaga survei¬† posisinya berada di urutan buncit dengan presentasi yang rendah. Tapi pasangan Yes akan beranggapan lebih baik kalah di survei, menang pada saatnya. Karena hasil survei juga belum memberikan jaminan 100 persen menang. Karena selain survei juga pesenan, juga sample yang digunakan hanya sedikit dari jumlah pemilih yang ada. Dan bila kondisi terjadi, maka peta perpolitikan di Majalengka bakal heboh dan membuat kejutan yang luar biasa. Ini akan meruntuhkan semua analisa dan predeksi dan mematahkan hasil survei yang saat ini banyak diketahui.

Serangan Fajar

Uang memang bukan segalanya, tapi sangat berpengaruh keadaanya. Bila pasangan calon tidak memiliki dana yang cukup, jangan harap bisa duduk di kursi pendopo Majalengka.Alasanya, masyarakat akan meminta imbalan terlebih dahulu kepada semua pasangan calon, karena mereka beranggapan, siapapun yang terpilih nanti tidak akan berdampak signifikan baginya. Faktor penyebab masyarakat menanti serangan fajar, karena alasan ekonomi. Jadi, bila pada hari H nanti ada pasangan calon yang memiliki  dana yang besar, ini bisa dijadikan amunisi perang pada saat malam pencoblosan untuk menggiring massa menyalurkan hak pilihnya di TPS. Terakhir, setelah timses dan pasangan calon ini berjuang habis-habisan. Jangan pernah melupakan Allah SWT. Karena siapapun yang menang garis nasibnya sudah ada di tangan Allah SWT. Meski secara logika tidak masuk akal. Karena Allah itu sangat berkuasa atas segala sesuatunya. Maka dari itu, berdoalah kepada semua pasangan calon agar Allah memberikan ridha Nya. Bagi masyarakat, pilihlah pemimpin yang dapat memajukan masyarakat Majalengka. Jangan sampai membeli kucing dalam karung. Pahami dan terus selediki track record masing-masing pasangan calon agar tidak tertipu di kemudian hari. Ingat nasib Majalengka akan ditentukan oleh pemimpinya kedepan. Salah memilih rakyat akan menjadi korban politiknya. Kalaupun ada perbedaan pandangan dalam menyikapi dukungan politik, masyarakat jangan sampai ikut-ikutan. Jadikan perbedaan itu sebagai warna pelangi yang beraneka warna. Pelangi tidak indah bila satu warna, akan terasa bagus bila beraneka ragam. Bagi pasangan calon kalah menang dalam sebuah pertarungan politik merupakan hal yang wajar. Menang memang membuat hati senang dan kekuasaan akan bertambah. Namun kalah memang sangat menyakitkan dan tidak semua ingin merasakan kekalahan. Dalam sebuah pertandingan hal itu sangat wajar. Karena tidak mungkin keempatnya jadi bupati semuanya. Tapi dibalik setiap itu pasti ada hikmah didalamnya. Siapapun pemenangnya sudah ada di tangan Allah SWT.

*Jejep Falahul Alam, alumni Jurusan Komunikasi IAIN Syekh Nurjati Cirebon tinggal di Desa Cipeundeuy Kec.
Bantarujeg Kabupaten Majalengka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 11 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Walikota Kota Bogor Bima Arya Sugiarto …

Hakeem Elfaisal | 8 jam lalu

Guru (di) Indonesia …

Inne Ria Abidin | 8 jam lalu

“Remember Me” …

Ruby Astari | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Inne Ria Abidin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: