Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Acik Mdy

seorang ibu rumah tangga yang suka menulis

Penilaian Seorang Sopir Taksi Terhadap Kepemimpinan Pak Jokowi

OPINI | 23 August 2013 | 12:59 Dibaca: 4218   Komentar: 9   3

Pak Jokowi akan selalu melakukan penilaian/ evaluasi secara berkala terhadap kepala-kepala dinasnya, juga para wali kota. Nilainya bisa berwarna-warni, merah dan kuning.  Kalau nilainya kuning, masih diberi kesempatan bagi kepala dinas untuk menyelesaikan pekerjaannya, atau dalam artian bisa mundur waktu penyelesaiannya. Nah, kalau sudah dinilai merah sama Pak Jokowi….ya dicopot dari jabatannya, alias diganti. Kalau dinilai memuaskan, maka akan dipertahankan. Tapi…nilai-menilai ini tidak hanya pak Jokowi saja lhoo yang punya hak. Warga, warga DKI Jakarta juga punya hak yang sama seperti pak Jokowi, yaitu menilai. Menilai tentang kinerja, dan sepak terjang pak Jokowi tentunya…

Beberapa waktu yang lalu disaat hendak bepergian kesuatu tempat dengan menggunakan taksi, saya sempat mengobrol secara panjang lebar dengan seorang sopir taksi. Mula-mula obrolan ini hanya seputar cerita-cerita lucu sang sopir taksi tersebut ketika mengantarkan tamu (penumpang) yang berasal dari Negara-negara lain. Setelah habis cerita lucunya…berangsur-asur obrolan itu mulai serius tentang mahalnya harga-harga bahan pokok setelah naiknya harga BBM (bahan bakar minyak), yang berbarengan menjelang lebaran. Tiba saatnya obrolan itu berlanjut dan terpatri kesosok Jokowi, gubernur DKI Jakarta yang fenomenal itu. Ternyata sopir taksi juga mengikuti pergerakan Pak Jokowi sejak memegang amanah sebagai gubernur DKI Jakarta.

Tingginya harga bahan pokok di Indonesia, tentu sangat meresahkan masyarakat kecil, tak terkecuali seorang sopir taksi ini, yang harus menghidupi istri, dua orang anak yang dua-duanya masih bersekolah (yang besar SMK, yang kecil  SD), dan tanggungan mertua yang sudah tak berpenghasilan dikarenakan sudah usia lanjut. Berat bukan…apalagi harus hidup di kota yang besar seperti Jakarta ini, dengan biaya hidup yang sangat mahal. Untuk seorang sopir taksi yang pendapatannya tak menentu, ini adalah kondisi sulit. Masih kata sopir taksi, pendapatannya berdasarkan persenan, misal kalau sehari dapat 400 ribu rupiah maka bagiannya (uang bersih) yang bisa dibawa pulang yaitu sebesar 50 ribu rupiah. Kalau kurang dari 400 ribu rupiah, berarti uang bersih yang bisa dibawa pulang ya kurang dari 50 ribu rupiah. Nah, kondisi ini ternyata bisa terbantu dengan adanya bazaar- bazaar. Dimana saat menjelang hari raya (lebaran) kemarin, di setiap kelurahan ada bazaar lebaran yang terdiri dari bahan pokok, dengan harga murah, begitu katanya.  Dalam hal ini saya juga pernah membacanya disalah satu media online, di DKI Jakarta memang ada  bazaar saat ramadhan kemarin, ada yang namanya Monas fair, ada bazaar kuliner dibalai kota DKI Jakarta, dan yang terakhir bernama pasar ramadhan selama tiga hari. Kemudian, pak sopir taksi juga menyinggung tentang bazaar di Monas. Ternyata yang disebut bazaar di Monas oleh pak sopir taksi itu adalah pasar raya yang diselenggarakan dalam memeriahkan ulang tahun Jakarta beberapa waktu yang lalu. PRJ (pekan raya Jakarta), yang seperti ini sangat menguntungkan bagi rakyat kecil, kata pak sopir taksi. Maksud menguntungkan, karena masuk tidak perlu bayar mahal, gratis, bisa berbelanja kebutuhan dengan harga miring, dan bisa membeli jajanan dengan harga murah bagi anak-anaknya (anak sopir taksi). Artinya Pekan raya Jakarta ala  pak Jokowi, merupakan hiburan yang benar-benar merakyat. “Sekarang gubernurnya mihak rakyat kecil, peduli sama rakyat kecil”, begitu kata si sopir taksi. “Coba tuh kalau yang di kemayoran…karcisnya saja mahal banget…”, lanjutnya.

Kebetulan pak sopir taksi ini memegang kartu Jakarta sehat dan kartu Jakarta pintar. Lalu saya tanya dengan adanya kartu Jakarta sehat dan kartu Jakarta pintar yang dipegang anaknya, apakah dengan adanya dua kartu sakti itu pak sopir taksi ini terbantu kehidupannya?? Artinya apakah dengan mempunyai dua kartu ini, apakah memberikan manfaat dalam kehidupannya, yang tergolong dibawah?? Atau malah sebaliknya…tidak memperoleh manfaatnya?? Dari jawaban sang sopir taksi ini, saya bisa mengatakan kalau program pak Jokowi ini benar-benar bisa membuat rakyat kecil bisa tersenyum melalui hari-harinya. Inilah jawaban pak sopir taksi…

Saat pertanyaan saya muncul tentang manfaat dengan adanya dua kartu sakti itu, pak sopir taksi makin bersemangat bercerita panjang lebar tentang sosok gubernurnya, yang kalau saya liat sangat dikagumi olehnya (sopir taksi). “kalau untuk kartu Jakarta sehat, saya sih jarang pakai”…kata si sopir taksi. “kenapa, pak, apakah ternyata kartu itu tidak dapat berfungsi ketika bapak mau berobat?”…kataku. “Bukan begitu…kalau kira-kira saya berobat cuma bayar dikit, katakanlah bayar 25 ribu rupiah.. ya saya bayar sendiri, tapi kalau kira-kira sakit berat, misal kecelakaan, sampai rawat inap lama, ya pasti akan saya pakai kartu Jakarta sehat-nya”. Masih kata sopir taksi, “saya pernah itu lihat ada ibu melahirkan Caesar, dia pakai kartu Jakarta sehat, cuma ngasih uang 10.000 ribu rupiah di Rumah sakitnya”. Padahal kartu Jakarta sehat ide pak Jokowi ini mendapat goyangan sana-sini, ya penolakan/ tidak mau bergabungnya beberapa rumah sakit demi pelayanan masyarakat Jakarta, beberapa rumah sakit swasta (kalau saya pernah  baca itu ada 16 rumah sakit swasta), terus ada pula interpelasi dari anggota dewan daerah (DPRD)…dan macam-macamnya. Tapi adakah dari para pihak yang menolak/ tidak sependapat/ tidak setuju dengan adanya kartu Jakarta sehat ini, pernah melihat realita kehidupan yang nyata dilapangan, pernahkah bertanya bagaimana kualitas kehidupan dari segi kesehatan bagi masyarakat dengan pendapatan yang pas-pasan bahkan kurang…, adakah jaminan itu untuk mereka?? Lihatlah sedikit dengan membuka mata dan membuka hati, ini nyata, mereka yang termasuk golongan bawah dengan pendapatan yang pas-pasan/ bahkan kurang, mereka sangat membutuhkannya, membutuhkan jaminan kesehatan. Mereka berhak untuk mendapat kehidupan yang sehat juga, kan sama-sama warga Negara Indonesia, mau kaya mau miskin ya punya hak yang sama…

Sebelum kartu Jakarta pintar keluar, pendidikan di Jakarta sudah dibilang gratis, khusus untuk anak-anak yang sekolah disekolah negeri. Mungkin kawan pembaca sekalian sudah tahu tentang bantuan dana BOS untuk sekolah-sekolah. Hal ini saya ketahui dahulu ketika masih berdomisili di Jakarta. Dimana seorang kenalan saya kebetulan punya seorang kawan yang anaknya bersekolah secara gratis disebuah sekolah negeri. Sekolah gratis ini juga dikatakan oleh sopir taksi yang tetap bersemangat dalam berbicara selama diperjalanan. Katanya, kalau sekolah memang sudah gratis sebelum ada kartu Jakarta pintar ini. Lantas apa yang bisa dilakukan kartu Jakarta pintar kalau sekolah sudah gratis?? Biaya sekolah memang sudah gratis, tapi untuk menunjang si anak sekolah kan ada hal lainnya yang harus dipenuhi, misal sepatu, tas, buku, bahkan ongkos angkot kalau jarak rumah ke sekolah memang harus menggunakan angkot. Nah, disinilah kartu Jakarta pintar bekerja. Diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah disebutkan tadi….

“Kalau sekarang, mau pilih pemimpin, masyarakat kecil seperti saya ini sudah tak melihat calon dari partai mana, gak pilih partai….kami sudah tak peduli partai yang mengusung, gak peduli juga mau beragama apa, dan dari suku mana…yang penting orangnnya, kalau kayak pak Jokowi dan pak Ahok…saya suka sama orang ini…”, kata sopir taksi itu. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya…”sekarang kalau mau ketemu gubernur kan gampang, lha wong si bapak (Jokowi) suka kemana-kemana (blusukan)…, orangnya kalau dilihat biasa, gak keliatan kalau orang kaya, padahal kan si bapak (Jokowi) itu pengusaha mebel sampai keluar negeri, gak keliatan kalau seorang pejabat, tapi wibawanya itu keliatan…”.  “gajinya aja gak diambil (Jokowi)…kalau ada bencana misal banjir langsung dateng ketempat, bawa bantuan,  dan siapa yang tahu..bisa aja bantuan yang dibawa berasal dari kantongnya (Jokowi) sendiri”, sambungnya…

Saya hanya terkesima saja mendengarkan penjelasan panjang lebar dari pak sopir taksi. Ini semua bukan karena puja-puji yang membutakan pada kepemimpinan pak Jokowi dan wakilnya pak Ahok, hingga diapresiasikan secara berlebihan. Apalah yang bapak ini tahu (pak sopir taksi) tentang intrik politik. Yang mereka harapkan setiap harinya, bagaimana caranya bisa mendapatkan uang tiap hari untuk makan keluarganya, bisa mendapatkan hidup yang lebih baik (jaminan kesehatan, jaminan pendidikan untuk anaknya). Maka, dengan mempunyai pemimpin yang mengerti kaum lemah/ kecil seperti dirinya (pak sopir taksi), itu akan menjadi setitik cahaya yang menentramkan. Dan harapan mereka itu ada pada kepemimpinan pak Jokowi beserta wakilnya pak Ahok.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 4 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 9 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Pantaskah Menteri Susi Dibela atau Dicerca? …

Abdullah Sammy | 8 jam lalu

Selaksa Abstraksi …

Ade Subagio | 8 jam lalu

Jangan Lupakan Kasus Obor Rakyat untuk …

Tian Bugi | 8 jam lalu

Belajar dari Krisis Demi Kestabilan Keuangan …

Arif L Hakim | 8 jam lalu

Mengapa Jokowi Memilih Susi? …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: