Back to Kompasiana
Artikel

Politik

El-shodiq Muhammad

"Sering aku perhatikan, mereka berdebat bahkan kadang saling menghujat hanya karena beda sumber bacaannya" (Gus selengkapnya

Pilgub Jatim Milik PDI Perjuangan?

HL | 21 August 2013 | 13:20 Dibaca: 1685   Komentar: 12   3

13770812461183058942

Ilustrasi/ Admin (Infoparlemen.com)

Pilgub Jatim tinggal menghitung hari, tepatnya 29 agustus nanti, tapi gaungnya tak seramai pilgub lima tahun yang lalu. Ada beberapa hal penyebabnya; diantaranya adalah sempat ‘terjegalnya’ cagub Khofifah Indar Parawansa (KIP) oleh KPUD Jatim. Imbasnya, Pilgub Jatim terkesan adem ayem. Bahkan ketika pasangan KIP dan Herman S Sumawiredja (Berkah) tidak diloloskan oleh KPUD Jatim, para pengamat sempat menilai bahwa gelaran pemilihan Gubernur Jatim sejatinya sudah selesai, yakni pemenangnya adalah incumbent; Soekarwo - Syaifullah Yusuf (Karsa).

Hal ini bisa dipahami, sebab berkaca pada kekuatan pemilih di Jatim yang mayoritas nahdliyin yang kemungkinan besar pilihannya hanya pada incumbent karena faktor Syaifullah Yusuf, atau pasangan Berkah karena ada KIP. Sementara untuk dua pasangan lainnya, yakni Bambang-Said (Jempol) yang diusung PDI-P dan -apalagi-pasangan independent, Egie Sudjana - Sihat adalah wajah-wajah yang relatif kurang dikenal di Jatim.

Peta kekuatan pilgub Jatim ‘mendadak’ berubah seiring dengan dimenangkannya gugatan tim sukses Berkah oleh DKP. Suhu politik di Jatim mulai memanas di akhir perlombaan dan rivalitas Karsa dan Berkah kembali meruncing, mereka berlomba meraih simpati kalangan nahdliyin. Di sisi lain, para kiai juga terbelah dalam dukungannya meskipun sejatinya para kiai yang getol mendukung kedua pasangan tersebut adalah kiai-kiai yang tetap ‘istiqamah’ dalam dukungannya pada pilgub lima tahun yang lalu. Barisan kiai-kiai yang tergabung dalam poros Lirboyo tetap istiqamah mendukung Karsa, sementara poros Tebu Ireng plus KH Hasyim Muzadi juga tetap mendukung KIP.

Berkaitan dengan rivalitas yang semakin meruncing tersebut, satu sisi justru menguntungkan pasangan Bambang-Said. Sebab pasangan ini bisa memanfaatkan soliditas pendukung PDI-P yang terkenal sangat loyal, tergantung mesin politiknya sejauh mana kerja kerasnya. Dan juga, mereka bisa ‘mengail’ dukungan dari rivalitas Karsa dan Berkah yang mungkin saja mereka merasa jenuh dengan pengkotakan di tubuh kiai-kiai Jatim dan mencari alternatif pasangan lain.

Tak berlebihan jika beberapa pihak merasa khawatir dengan rivalitas ini, termasuk sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin.

“Munculnya Khofifah Indar Parawansa (sebagai kandidat gubernur) bisa memecah suara. Khawatirnya kuda hitam yang akhirnya menang, dan NU akhirnya sama-sama tidak dapat apa-apa,” kata Abdullah (BeritaJatim, 20 Agustus 2013).

Jika analisa di atas benar, maka bersiap-siaplah bagi NU yang kemungkinan bisa saja mereka tak bisa menempatkan kader terbaiknya baik sebagai Jatim 1 maupun Jatim 2. Sebab PDI-P selain bisa memanfaatkan sikon yang tepat juga mereka bisa mencontoh kesuksesan Ganjar Pranowo yang menang dalam gelaran pilgub Jateng. Artinya PDI-P harus benar-benar memaksimalkan mesin politiknya dan bergerak cepat.

Gambaran terpecahnya suara nahdliyin sebagaimana yang terjadi di Jatim adalah sebuah realitas politik yang kerap terjadi juga di wilayah lain. Imbasnya, kader atau tokoh NU yang digadang-gadang justru kebanyakan terpental sementara kader NU yang hanya dijadikan ‘pemanis’ oleh pasangan lain justru yang jadi, atau malah tidak ada yang jadi jika kader NU saling berhadap-hadapan sementara pasangan lain adalah kader non NU. Contoh yang sahih adalah pemilihan Kepala daerah di Pasuruan lima tahun yang lalu. Ada dua calonĀ  yang sama-sama kader terbaik NU mencalonkan diri tapi yang jadi malah calon lain yang sebelumnya tak diunggulkan, yakni Dede Angga yang juga diusung PDI-P. Padahal Pasuruan adalah salah satu kota di Jatim yang merupakan basis NU. Inilah dilema terbesar NU dalam kancah perpolitikan baik nasional maupun daerah.

Memang NU sebagai jam’iyah telah kembali ke khitah dalam arti tidak diperkenankan terlibat dalam urusan politik praktis. Namun tidak bisa dipungkiri jika keinginan kiai-kiai sebagai pribadi dan warga NU teramat besar menjadikan kader-kader terbaik NU sebagai pemenang dalam gelaran pilihan kepala daerah. Dalam kasus Jatim misalnya, kiai-kiai yang mendukung pasangan Berkah beralasan bahwa sudah saatnya Jatim yang mayoritas nahdliyin harus dipimpin oleh gubernur yang juga nahdliyin dan bukan sekedar sebagai wakil sebagaimana yang tercermin dalam incumbent saat ini, yakni Syaifullah Yusuf.

Jika nanti yang menang benar-benar pasangan Bambang-Said, maka NU dalam pilgub lima tahun yang akan datang akan kembali merangkak dari awal untuk mengajukan kader terbaiknya dalam pentas pemilihan gubernur. Tapi jika salah satu dari Karsa dan Berkah yang menang, setidaknya lima tahun ke depan peluang kader terbaik NU untuk menjadi Jatim 1 akan lebih besar, mengingat gubernur incumbent, Soekarwo , secara aturan sudah tidak bisa mencalonkan lagi karena sudah menjabat dua periode.

Jika Karsa yang menang, maka sang wakil gubernur, Syaifullah Yusuf tinggal meningkatkan statusnya menjadi gubernur. Sedangkan jika Berkah yang muncul sebagai pemenangnya, maka KIP juga tinggal mendaftar ulang saja dalam pemilihan nanti. Kemenangan kemungkinan besar akan bisa kembali diraih KIP jika semua elemen nahdliyin juga solid tetap mendukungnya.

Tapi, apapun bisa terjadi dalam dunia pilitik….

21 - Agustus 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: