Back to Kompasiana
Artikel

Politik

A. Luluk Widyawan

Penyuka internet, membaca (filsafat, teologi, manajemen, fiksi), menulis, mendengarkan musik dan main PS, jalan-jalan serta selengkapnya

Menjadi Pemilih dalam Pemilu / Pilkada

OPINI | 14 August 2013 | 21:32 Dibaca: 343   Komentar: 0   0

Sebagai warga Negara yang baik, kita perlu memiliki sikap dalam menentukan pilihan. Pilihan kita hendaknya mengutamakan, mendukung siapa, yang berkehendak baik dan yang memperjuangkan kebaikan umum.

Kita semua menginginkan hidup di negara, di mana semua orang mengalami keamanan, kebebasan dan kesempatan, demi mengalami kehidupan yang semakin sempurna. Kita juga mengharapkan generasi selanjutnya menikmati kesejahteraan. Hal ini hanya mungkin jika kita membuat keputusan politik yang bijaksana dan mengusahakan pembangunan masyarakat berdasarkan keadilan dan kemanusiaan yang beradab.

Selama kita mendengarkan hati nurani dalam membuat keputusan moral, menggunakan kebajikan yang hati-hati dan memelihara komitmen mewujudkan kebaikan umum, berarti kita membuat keputusan yang konsisten dan selaras dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.

1. Mendengarkan Hati Nurani

• Mendengarkan hati nurani berdasarkan 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara mempelajari, membatinkan dan meyakini 4 pilar tersebut berkenaan dengan aneka masalah

• Mengetahui rekam jejak, sikap, pernyataan atau komitmen calon tentang aneka masalah yang terjadi selama ini, sebagai cara mengecek pandangan mereka berkenaan dengan penghormatan terhadap nilai luhur martabat manusia, keadilan dan perdamaian.

• Mendiskusikan sosok calon dengan sesama warga di lingkungan masing-masing tentang aneka masalah yang terjadi selama ini.

2. Bersikap Bijaksana Dalam Memilih

• Menentukan calon yang memiliki peluang besar akan melakukan tindakan nyata dalam hal mendukung penghormatan martabat luhur kehidupan manusia, mengusahakan keadilan dan perdamaian.

• Menolak untuk memilih mereka yang tidak selaras dengan 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara dalam beberapa isu, yang disampaikan hanya demi memaksimalkan suara. Alias janji-janji berlebihan, yang bertentangan dengan sikap selama ini.

• Memang tidak ada calon yang sempurna. Namun, memilih calon yang tidak 100 % selaras dengan 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara hanya dapat dibenarkan, jika keputusan tersebut kita buat secara bijaksana, dengan mendengarkan hati nurani. Sehingga pilihan kita tetap menjunjung tinggi kebaikan dan meminimalkan keburukan. Jika ternyata semua calon buruk, menurut pertimbangan matang kita, maka bisa memilih calon yang nilai buruknya paling sedikit. Atau bisa tidak memilih.

3 . Memilih Demi Kesejahteraan Umum

Kita dapat menilai semua calon dengan mengajukan pertanyaan berikut ini sebagai kriteria penentu:

• Apakah calon yang akan dipilih sungguh potensial untuk mengusahakan terwujudnya sebuah masyarakat, di mana satu sama lain hidup rukun sebagai sesama warga ?

• Apakah calon yang akan dipilih justru cenderung membenarkan kesewenang-wenangan, tidak mendukung kerukunan warga dan menutup mata terhadap ketidakadilan yang mengancam martabat manusia ?

• Apakah program yang akan dilakukan calon dalam mengatasi masalah, seperti: pelecehan martabat manusia seperti kemiskinan, intoleransi antar umat beragama, keretakan hidup berbangsa, fanatisme dan formalisme agama, sikap apatis, korupsi, penindasan terhadap kaum buruh dan petani ?

• Apakah calon yang akan dipilih memiliki keyakinan kuat bahwa kesehatan, keamanan, kerukunan dan kesejahteraan warga sangat terkait erat dengan kesehatan, keamanan, kerukunan dan kesejahteraan masyarakat umum ? Singkatnya, apakah calon akan mewujudkannya dalam program yang komprehensif demi seluruh masyarakat atau masyarakat harus mengupayakannya sendiri ?

• Apakah calon yang akan dipilih mendukung sistem ekonomi yang menjamin terpenuhinya keadilan bagi seluruh masyarakat, dalam hal seperti: perbaikan upah yang mensejahterakan kaum pekerja, menekan angka pengangguran, mengusahakan jaminan kesehatan, pendidikan yang terjangkau dan penegakkan hak asasi manusia ?

• Apakah calon menjunjung tinggi nilai kekuasaan dan membedakan dengan kepentingan pribadi ?

• Apakah mereka menghormati relasi masyarakat dan pejabat publik, dengan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya ?

Jika ternyata dari antara para calon memiliki nilai positif lebih banyak, kita pantas memilihnya. Dengan demikian, kita memiliki sikap. Karena 1 suara kita sangat berharga dan menentukan. Kita tidak ingin orang lain menentukan nasib kita, tanpa kita terlibat di dalamnya. Keterlibatan yang paling sederhana, sebagai warga negara yang baik, ialah datang pada hari pemilihan umum dan memilih yang terbaik.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 9 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 12 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: