Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Anna Risnawati

Bukan penulis hanya suka corat-coret dan bahagia jika bisa berbagi

Jokowi di Lingkaran Haters dan Lovers

OPINI | 11 August 2013 | 10:48 Dibaca: 893   Komentar: 34   4

Tak bisa dipungkiri bahwa tahun ini merupakan tahun fenomenal bagi Jokowi. Sosok Gubernur DKI Jakarta yang mendadak menjadi media darling itu kinerjanya banyak menjadi sorotan , baik dari media cetak maupun media online. Gebrakan-gebrakan yang dilakukannya bersama Wagub DKI Ahok menuai angin segar bagi masyarakat Jakarta. KJS (Kartu Jakarta Sehat) salah satu gebrakannya , meskipun masih banyak kendala dan harus dievaluasi sana sini , tetapi manfaatnya sudah bisa dirasakan oleh masyarakat Jakarta. Terbukti dengan adanya postingan tentang testimoni dari masyarakat yang sangat terbantu dengan adanya KJS ini , serta pelayanan rumah sakit yang semakin baik dan memuaskan. Kemudian pembangunan monorel konsorsium BUMN yang melayani rute Bekasi-Cawang-Cibubur-Kuningan segera terealisasi. Oktober 2013 Peraturan Presiden untuk proyek ini bakal keluar. Proyek monorel konsorsium BUMN ini akan terhubung dengan monorel dalam kota yang digarap PT Jakarta Monorail.

Meskipun tak sedikit yang mengkritik dan membully kinerja Jokowi tetapi dukungan yang mengalirpun juga tak sedikit. Dan Jokowi Ahok sepertinya tak peduli dengan sorotan media. Karena mereka sudah mempunyai planning yang harus dikerjakan dan tidak bisa menunggu. Masyarakat Jakarta perlu realisasi secepatnya dari masalah-masalah yang membelit Jakarta selama ini seperti banjir , kemacetan , kesehatan , premanisme dll. Dan seperti biasa jika seorang tokoh sedang menjadi sorotan maka mendadak banyak bermunculan haters dan lovers.

Artikel yang mengulas tentang Jokowi selalu menjadi headline news di media cetak dan online. Para komentatorpun berbondong-bondong menanggapi. Baik itu tanggapan positif yang berupa dukungan, yang biasanya datang dari lovers maupun tanggapan negatif dari para haters yang masih meragukan integritas seorang Jokowi.

Saya sering senyum-senyum sendiri membaca komentar para haters dan lovers yang menanggapi ulasan tentang Jokowi. Bagi saya komentar mereka serasa komedi yang menghibur. Terlihat sekali siapa yang memposisikan diri sebagai haters dan siapa yang memposisikan diri sebagai lovers. Tetapi saya setuju dengan adanya haters ini. Apapun dan dimanapun peran antagonis dibutuhkan untuk mengontrol kinerja sang tokoh agar tidak terlena. Seperti halnya sinetron jika tidak ada peran antagonis maka jalan cerita sinetron tersebut tidak akan seru.

Membaca tanggapan para haters dan lovers terutama di media online akan terlihat karakter masing-masing , sehingga mudah ditebak mana haters dan mana lovers. Seorang haters kadang tanpa disadari mempunyai ciri-ciri :

1. Selalu menulis artikel yang bersifat kontroversial tanpa data yang akurat dan terkesan seadanya. Tujuannya tentu saja ingin agar tulisannya ditanggapi para lovers sehingga menaikkan rating artikelnya agar menjadi trend. Meskipun tulisannya berpotensi menimbulkan ‘kericuhan’ tetapi dia akan senang melihat polah tingkah para haters dan lovers yang saling adu argumentasi.

2. Selalu mencari-cari kesalahan bahkan tak segan-segan memelintir kata-kata sang tokoh atau lovers dalam berkomentar , biarpun dengan cara bertanya. Setelah diberi penjelasan yang benarpun tetap tidak mau membuka mata hatinya untuk menerima penjelasan. Karena pikirannya sudah terdoktrin bahwa pendapatnya yang paling benar.

3. Sang penulis kontroversi akan ‘minggat’ setelah tulisannya banyak yang menanggapi karena tidak dapat mempertanggung jawabkan tulisannya yang ‘apa adanya’. Dia lupa kalau lovers mempunyai data yang lebih akurat dari sekedar yang ditulis seorang hater.

4. Sang penulis kontroversi membabi buta dalam menulis yang berisi hujatan , kejelekan , kesalahan karena merasa tokoh idolanya tidak diperhitungkan.

5. Adanya kepentingan-kepentingan yang tersingkir karena menyangkut kehidupan pribadinya.

Sedangkan lovers terbagi menjadi true lovers dan supporters. Seorang true lovers akan selalu mengikuti perkembangan tokoh idolanya sampai sedetail-detailnya. Sehingga jika ada seorang hater yang mencari-cari kesalahan sang tokoh dengan mudah dia akan memberi penjelasan. Lebih bersikap elegan dan tidak membabi buta. Kekurangan dan kesalahan sang tokoh akan diterimanya dengan legowo bahwa sang tokoh adalah seorang manusia biasa. Dan lebih bisa menerima pandangan orang lain meski berbeda pendapat.

Yang agak menjengkelkan adalah supporters , yang cenderung ‘senggol bacok’ tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya. Hanya berteriak-teriak mendukung. Ada yang berkomentar negatif langsung dibabat. Tidak bisa menerima pendapat orang. Dia merasa pendapatnya yang paling benar.

Setiap pemimpin memerlukan haters dan lovers. Mereka bisa saling mengisi untuk saling mengingatkan. Karena haters tak selamanya buruk demikian juga lovers bisa membuat sang tokoh terlena. Seperti halnya Jokowi yang banyak dikelilingi kaum haters dan lovers. Tetapi Jokowi merasa nyaman-nyaman saja berada dalam lingkarannya. Air yang menggenang tidak selalu banjir. Jokowi yang terbiasa mendengar bisa memfilter telinganya untuk mendengar mana suara yang merupakan aspirasi rakyat dan mana yang bermaksud menghujat kinerjanya. Hatinya selalu terbuka untuk bisa menerima pendapat rakyat. Dan seperti biasa Jokowi hanya tersenyum. Cukup kita bertanya dalam hati di posisi mana kita memposisikan diri kita sebagai hater atau lover untuk suatu pendapat yang berbeda ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 16 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 21 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 22 November 2014 23:42

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 November 2014 21:41

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Pomegranate, Buah Legenda Penumpas Penyakit …

Dara Nadira Daulay | 7 jam lalu

Jumlah Kasus HIV/AIDS di Kota Magelang, …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

9 Mitos Perihal Jerawat di Muka …

Tabloid Cantik | 8 jam lalu

Jokowi Siap Tak Populer, Produser Tak Siap …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Tigaratus Guru Non-PNS di Gunungkidul Belum …

Bambang Wahyu Widay... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: