Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dimasmul Prajekan

anak desa mencari makna hidup

Belajar Dari Kasus Ustadz Yusuf Mansyur

OPINI | 10 August 2013 | 09:50 Dibaca: 1089   Komentar: 4   0

BISNIS DAN POLITIK SEORANG USTADZ

( Belajar dari Kasus Yusuf Mansyur )

Adalah Ustadz Yusuf Mansyur pemilik Pesantren Darul Quran yang beberapa waktu lalu harus berurusan dengan Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) berkaitan dengan usaha yang tengah dilakukannya berupa pembangunan Hotel Haji dan Umroh. Kita ketahui bahwa usaha Ustadz Yusuf Mansyur ini dimodali secara patungan, dikumpulkan dari kaum muslimin dan simpatisan ide –ide Ustadz Yusuf Mansyur. Dan karena secara administrasi memiliki kekurangan , akhirnya Ustadz Yusuf harus berurusan dengan OJK, meski kemudian tidak ada permasalahan yang terlalu fatal yang harus disempurnakan terkait dengan administrasi dan perijinan.

Banyak komentar yang bernada miring terhadap gerakan bisnis yang dilakukan oleh Ustadz yang aktif mengkampanyekan kedahsyatan sedekah itu. Banyak yang mencibir, mengapa ustadz Ustadz Yusuf tidak fokus di dunia dakwah saja, tidak harus memasuki dunia bisnis. Biarlah dunia bisnis orang lain yang ngurus. Agar ustadz tidak terkontaminasi hal – hal yang kurang baik yang bakal mendegradasi peran dan posisi keustadzannya. Mungkin seperti itulah kesimpulan yang diinginkan sebagian masyarakat.

Mungkin bagi sebagian masyarakat kritik itu benar dan logis.Ada harapan luhur agar para ustadz tidak memasuki dunia yang dianggap abu –abu. Seorang ustadz sebaiknya berada didunia putih seputih jubah yang dipakainya. Termasuk juga memasuki dunia politik. Seringkali bisnis dan politik mereduksi peran usdaz sebagai juru dakwah, pemersatu umat, dan penyuara kebenaran. Seringkali terjadi seorang ustadz terjerembab kedalam kubangan fitnah seperti sogok, korupsi, dan kolusi.

Pada sisi ini mungkin ada benarnya.Akan tetapi manakala kita menengok kembali khasanah sejarah Islam dan sejarah nusantara akan kita temukan mutiara –mutiara yang sangat berarti tentang kehebatan para tokoh dan pahlawan islam sebagai seorang pebisnis dan politisi. Siti Khotijah dan Rasulullah sendiri adalah seorang pengusaha handal . dengan bisnisnyalah Siti Khotijah mampu menopang segala aktifitas dakwah dan penyebaran Islam.Selain itu ada sosok Suhaib Ar Rumi, salah seorang sahabat Rasulullah berasal dari Romawi ,sukses membangun kerajaan bisnis dan akhirnya harus menyusul Rasulullah hijrah ke Madinah, meningglkan semua kekayaannya selama di Mekkah, dibiarkan untuk diambil oleh kafir Quraisy. Ada lagi Abdurrahman bin Auf, salah seorang muhajirin yang dipertemukan dengan Saad bin Rabi’ salah seorang Anshor. Saad bin Rabi’ mengatakan pada Abdurrahman bin Auf “Ya akhi , aku punya kekayaan yang sangat banyak, ambillah separuhnya, dan aku punya dua orang istri. Jika engkau berkenan ambillah salah satunya untuk kau nikahi.” Mendengar gagasan Saad tersebut, Abdurrahman bin Auf menjawab” tidak ya saudaraku. Tapi tunjukkan dimana ada pasar ?”

Sejak itulah Abdurrahman bin Auf kembali memulai usahanya sebagai seorang pebisnis. Dan berhasil. Pernah suatu saat kafilah dagangnya mencapai 600 kendaraan.Dan akhirnya semua kekayaannya diberikan kepada baitul mal untuk pengembangan Islam.

Selain berhasil melahirkan para pengusaha, Rasulullah juga berhasil melahirkan para politisi.Kita tahu bahwa para Khalifaturrasyidin, mulai dari Abu bakar Assiddiq, Umar bin Khottob, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib adalah kader initi Rasulullah yang melanjutkan kepemimpinan, setelah rasulullah wafat.Ada lagi Saad bin Abi Waqas yang menjadi gubernur. Ada kholid bin Walid,sebagai panglima perang.Demikian juga Usamah bin Said, yang diangkat menjadi panglima menggantikan Kholid bin walid dalam usia yang relatif belia.

Semua sosok Khalifaturrasyidin adalah para alim karena dikader langsung oleh Rasulullah, akan tetapi mereka mampu menjadi seorang politisi dan pemimpin yang mumpuni menggantikan Rasulullah.

Belajar dari sejarah itulah kita menyadari bahwa di dalam islam tidak ada dikhotomi antara pengusaha dan ustadz atau politisi dan kyai.Dengan bekal keilmuan seorang ustadz menjadi modal penting baginya, agar menjalankan bisnis dengan tidak membentur nilai –nilai yang sudah digariskan oleh agama. Demikian juga seorang Kyai yang memiliki kekayaan ilmu tentu akan menjadi fondasi yang kokoh untuk melangkah memasuki dunia yang penuh intrik yang terkadang saling menjatuhkan. Seorang politisi muslim tentunya wajib menjadi’ pewarna ‘kebaikan dalam hingar bingar perpolitikan yang identik dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Disinilah nilai strategis seorang Kyai untuk mereduksi karakter –karakter machavalistik. Itulah esensi kehadiran seorang ustadz dalam dunia bisnis dan politik sebenarnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 4 jam lalu

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: