Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Djohan Suryana

Hobby : membaca, menulis, nonton bioskop dan DVD, mengisi TTS dan Sudoku. Anggota Paguyuban FEUI Angkatan 1959

Jokowi: Calon Presiden PDI-P

OPINI | 07 August 2013 | 09:05 Dibaca: 802   Komentar: 21   2

Undang-undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden mensyaratkan bahwa sebuah partai politik (parpol) hanya dapat sendirian mencalonkan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) apabila memperoleh 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional. Inilah yang disebut sebagai presidential threshold.

Dari 9 (sembilan) fraksi DPR, fraksi Partai Demokrat (PD), Partai Golkar, PDI-P, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menolak revisi UU tersebut. Sedangkan 4 (empat) fraksi lainnya menghendaki revisi, yaitu fraksi PKS, PPP, Gerindra dan Hanura (Kompas 7/8/2013). Karena mungkin empat parpol yang terakhir ini kurang percaya diri mampu mencapai presidential threshold tersebut.

Dengan demikian, konvensi PD untuk menjaring calon presiden 2014 juga akan sia-sia apabila PD tidak mampu mencapai presidential threshold karena elektibilitasnya saat ini sangat kurang meyakinkan. PD pun harus berkoalisi dengan parpol lainnya. Sementara itu dalam Anggaran Dasar PD tercantum syarat bahwa penentuan capres ditetapkan oleh Ketua Majelis Tinggi, yaitu SBY. Subyektivitas serta unsur like and dislike akan memicu perdebatan baru. Disamping itu capres yang terpilih melakui konvensi PD belum tentu memiliki elektibilitas tinggi sehingga pada akhirnya PD harus berkoalisi dengan parpol lainnya.

Nah, yang paling ideal adalah kalau PDI-P berani mengambil keputusan yang spektakuler dengan mencalonkan salah seorang kadernya yang selama ini memiliki elektibilitas tinggi : Jokowi. Seandainya saja Megawati merendahkan hatinya untuk “mengalah” maka pencalonan Jokowi akan berlangsung mulus. Sebab hanya Jokowi lah satu-satunya capres potensial yang dimiliki oleh PDI-P.

Begitu nama Jokowi muncul sebagai capres maka kemungkinan besar PDI-P akan memperoleh suara lebih daripada 25 persen sehingga mampu mengusung nama Jokowi sendirian tanpa berkoalisi dengan parpol lain. Dan parpol-parpol lainnya itu justru akan datang kepada PDI-P untuk minta kursi menteri. PDI-P akan berada diatas angin. Tetapi sebaliknya, jika PDI-P melepaskan peluang ini maka tidak ada lagi kesempatan emas bagi PDI-P untuk bangkit kembali.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 8 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: