Back to Kompasiana
Artikel

Politik

R Cahyo Prabowo

Pendiam, Low Profile,Penulis, Pengamat, Diam Itu Emas, Broadcast Journalism, Komunikasi, Infomatika dan Media Online / selengkapnya

Era Reformasi, Demokrasi, dan Keterbukaan di Indonesia

OPINI | 06 August 2013 | 09:35    Dibaca: 8827   Komentar: 3   1

Pasca pemerintahan orde baru lengser pada tahun 1998, era reformasi muncul ditahun 1998 sd sekarang. Era reformasi berlangsung dari tahun 1998 sampai dengan saat ini. Era reformasi sudah berjalan 15 tahun sejak tahun 1998 pasca pemerintahan orde baru dan muncul dengan sistem demokrasi.

Demokrasi sendiri ialah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitulah pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang. Berbicara mengenai demokrasi adalah memperbincangkan tentang kekuasaan, atau lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem manajemen kekuasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai dan etika serta peradaban yang menghargai martabat manusia.

Pelaku utama demokrasi adalah kita semua, setiap orang yang selama ini selalu diatasnamakan namun tak pernah ikut menentukan. Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki, menjaga hak-hak itu agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha melangggar hak-hak itu.

Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang (people rule), dan di dalam sistem politik yang demokratis warga mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur pemerintahan di dunia publik.  Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak dan akan terpilih secara langsung.

Di era Keterbukaan pada pemerintahan sekarang ini, masyarakat bisa menilai sendiri dalam kinerja pemerintahan dan juga masyarakat dapat bisa mengetahui informasi-informasi yang disampaikan dari pemerintahan pusat sehingga, banyak masyarakat kita yang menyampaikan aspirasi opini balik lewat berbagai saluran media yang ada.

Keterbukaan informasi publik membawa manfaat banyak bagi masyarakat luas hingga ke pelosok tanah air dan hanya pesan atau informasi yang disampaikan ke setiap pelosok tanah air harus penuh perjuangan karena moda transportasi ke pelosok tanah air belum memadai sehingga pesan nformasi yang disampaikan kepada masyarakat pelosok harus melalui dialog, saluran radio, media konvensional bertukar pikiran satu sama lain serta aspirasi masyarakat di pelosok tanah air ditampung dan terima baik.

Semua ada karena dialog, tanpa ada dialog tidak ada jalan ketemu menjadi bangsa yang besar dan Indonesia bukan pelanjut masa pemerintahan kerajaan melainkan ada semua karena dialog dalam kenegaraaan dan masyarakat luas di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu jangan sekali-kalinya melupakan sejarah berdirinya bangsa Indonesia dan jangan melupakan 4 pilar kebangsaan Indonesia. Sudah saatnya generasi muda melanjutkan penerus cita-cita bangsa Indonesia dan generasi muda tidak boleh melupakan 4 pilar kebangsaan indonesia.

4 Pilar kebangsaan Indonesia adalah

1. Pancasila

2. UUD 1945

3. Bhineka Tunggal Ika

4. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Salam Indonesia raya, Damai Dan Bersatu untuk semua lapisan masyarakat, jangan melupakan 4 pilar bangsa Indonesia.

Penulis

R Cahyo Prabowo


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kegigihan Anik Sriwatiah Berdayakan Mantan …

Hadi Santoso | | 30 May 2015 | 17:29

Ayo Jalan-jalan ke Lapangan Banteng Jakarta! …

Amirsyah | | 30 May 2015 | 16:31

Mini Market Tanpa Miras, Kita Lihat …

Kompasiana | | 30 May 2015 | 18:33

Fenomena Gelombang Panas, Saatnya …

Alifiano Rezka Adi | | 30 May 2015 | 18:04

Sambutlah: Kompasiana Baru 2015 yang Lebih …

Kompasiana | | 20 May 2015 | 19:02


TRENDING ARTICLES

Menpora & PSSI, Silahkan Menikmati …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Kesamaan Sepp Blatter dan PSSI: Jokowi Tak …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Ini Alasan Wapres JK Membela Budi Waseso …

Abd. Ghofar Al Amin | 10 jam lalu

Gagasan Khilaf Khilafah …

Iqbal Kholidi | 15 jam lalu

Salah Membaca Gestur, Calon Doktor Itu …

Muhammad Armand | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: