Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Tamam Malaka

pejalan yang menyukai sunyi tetapi pun menyenangi keramaian alam pikir umat manusia

Taktik Cantik Politik ala Jokowi-Ahok dan Mahfudh MD

REP | 03 August 2013 | 01:06 Dibaca: 1173   Komentar: 5   1

Bagi saya raja politisi paling bahenol, ngetop dan cantik menuju tahun politik 2014 cuma ada tiga saja, yaitu Jokowi, Ahok dan Mahfudh MD. Langkah politik mereka terbilang jenius dalam taktik politik berkelas dalam upaya mengangkat style politik tingkat tinggi.

13754666222109479685

foto: vivanews.com

Sebenarnya banyak tokoh berkualitas dan berkarakter di negeri ini. Akan tetapi, saya kira tiga sosok tersebut lebih melambung. Karena melambung otomatis lebih akrab di telinga jika dijadikan sosok teladan yang menginspirasi kesadaran.

Ada beberapa alasan saya memilih mereka sebagai yang berkarakter. Pertama, mereka sadar diri sebagai sosok yang rentan menjadi incaran politisasi dalam meraih massa rakyat sebanyak mungkin. Karena itu, mereka lebih memilih aktif ketimbang pasif dalam gerak langkah politiknya. Mereka melakukan banyak gerakan ambigu yang tak mudah dipantau dan diprediksi apa target yang sebenarnya ingin mereka raih.

Ketika ditanya harapannya menjadi calon presiden tahun 2014, Jokowi tak serta-merta menjawab iya atau tidak. Akan tetapi ia lebih memilih bahasa netral, seperti nggak mikir. Nggak mikir. Bahasa nggak mikir tak menjelaskan secara gamblang apakah ia bakal menerima pinangan menjadi Capres ataukah tidak. Bahasa semacam ini berpeluang memancing rasa penasaran. Banyak pihak terus memancing Jokowi agar masuk dalam pusaran Capres. Magnetik Jokowi pun terjaga, bahkan kian melampung di sejumlah survei.

Manfaat lagi yang bisa diraup Jokowi, ia bisa tetap fokus menyelesaikan masalah-masalah beratnya sebagai Gubernur DKI Jakarta tanpa harus terbebani soal Capre-mencapres.

Berbeda dengan Jokowi, Mahfudh MD melakukan langkah sebaliknya. Dengan terang-benderang ia memaklumkan dirinya siap dipilih sebagai Capres mendatang. Namun di sisi lain, ia mengambangkan pilihan kendaraan politik yang akan ia gunakan sebagai lompatan menuju presiden tahun 2014. Ia merapat ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrat (PD).

Jika banyak pihak rata-rata menilai Mahfudh MD kebingungan memecahkan kendaraan politik yang sesuai dengan pencalonannya, saya berpandangan lain. Mahfudh MD, sebenarnya sedang melakukan pecah perhatian atau pecah pusat kosentrasi rakyat dan para politisi akan kendaraan politik masa depan. Dengan taktik tersebut, wacana politik tanah air menjadi aktif.

Perhatian politisi tak lagi terpusat untuk memikirkan kepentingan politiknya sendiri, namun menjadi terpusat untuk menggadang tokoh-tokoh paling populer dan disukai rakyat banyak. Maka, makin banyak peluang tokoh-tokoh pro-rakyat makin muncul ke permukaan. Sedangkan tokoh parpol yang digadang-gadang justru tenggelam karena kalah populer. Hal ini klop dengan teralihnya pusat perhatian rakyat. Mereka semakin sadar bahwa di tahun 2014 banyak sekali pilihan pemimpin yang bisa mereka pertimbangkan untuk dipilih.

Contoh paling riil adalah konvensi partai Demokrat. Partai yang sedang bekerja keras mengangkat dari keterpurukannya tersebut, secara otomatis bakal tergerak memilih mengangkat tokoh-tokoh yang pro-kerakyatan. Secara tak langsung, Mahfudh MD sedang melakukan politik cantik agar Demokrat benar-benar serius dalam proses konvensi tersebut. Dan tak sekedar melakukan upaya dongkrak popularitas, namun benar-benar memikirkan pentingnya mempertimbangkan tokoh-tokoh yang bakal dipilih sebagai Capres mendatang.

Kedua, memanfaatkan popularitas dan kuatnya dukungan rakyat sebagai jalan mengangkat kualitas pikir kematangan rakyat dalam berpolitik. Sudah jamak diketahui, sejak arus reformasi dibuka kemerosotan berbangsa dan bernegara malah tambah hancur. Bermunculan tokoh-tokoh yang menumpang populer. Dengan modal pencitraan dan dana, mereka memboomingkan diri sendiri. Pusat perhatian rakyat menjadi tak fokus. Sebab, kesadaran mereka kemudian teralihkan pada trik-trik kampanye yang menghipnotis kesadaran.

Jokowi, Ahok dan Mahfudh MD berhasil melakukan perimbangan kesadaran berpolitik rakyat. Dengan tidak secara gamblang menerima pinangan sebagai Capres di sisi lain, fokus kesadaran rakyat pun terpecah pada kerja keras mereka menjadi pelayan rakyat yang totalitas. Melambungnya nama mereka di jagat politik, menjadikan kerja keras mereka tampak nyata.

Efek yang ditimbulkan, rakyat makin sadar bahwa mereka sedang membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh melayani secara konsisten. Dan tak hanya melayani ketika kampanye belaka. Mereka jadi sadar, bahwa pemimpin kuat dan berhati mulia itu sungguh-sungguh nyata ada jika saja rakyat mau berpikir realistis dalam memilih.

Ketiga, memberikan pemetaan dan perimbangan dalam pemilihan tokoh-tokoh masa depan terbaik bagi masa depan lima tahun ke depan. Ini jelas sekali terlihat. Amati misalnya ketika Jokowi dipancing banyak pihak, Ahok lantas memproklamirkan nama tokoh-tokoh yang layak dijadikan teladan memilih pemimpin yang terbaik. Di antaranya ia menyadarkan publik tanah air bahwa di negeri ini sesungguhnya banyak pemimpin tak terlihat, namun berkarya nyata demi rakyat. Rismaharani, walikota Surabaya adalah sekian yang ia contohkan.

Demikian juga dengan Jokowi dan Mahfudh MD. Dengan taktik cantiknya, mereka berdua telah menjadikan rakyat mengenal lebih dekat tokoh-tokoh yang bakal maju di pentas Capres mendatang. Secara tak langsung, mereka telah mengumumkan pada rakyat, ini lho tokoh-tokoh yang bakal kalian pilih. Amati jejak rekamnya, dan pilihlah yang paling berkualitas.

Diakui atau tidak, Jokowi-Mahfudh MD membuat semua nama-nama Capres melambung ke permukaan. Lantas memancing media-media menjabarkan satu-persatu jejak rekam Capres tersebut. Publik pun mendapatkan publikasi gratis tentang siapa saja pemimpin-pemimpin yang patut dipilih kelak di tahun 2014.

Keempat, memperkuat fondasi terbentuknya bangsa yang kuat dan luhur. Baik Jokowi, Ahok maupun Mahfud MD, ketiganya tak hanya omong sambal. Sembari bikin heboh politik tanah air, mereka mendayung sepuluh pulau terlampaui. Dengan numpang kepopuleran mereka sendiri, mereka sembari mendayungkan kampanye gagasan-gagasan dan aktualisasi riil ke tengah-tengah masyarakat tentang kampanye pentingnya menjadi pemimpin berkarakter.

Pun, pentingnya menjadi rakyat yang berkarakter. Rakyat berkarakter adalah ia yang memilih pemimpin demi kepentingan anak-cucu hingga 1000 tahun mendatang. Saya kira empat poin ini sudah lebih dari cukup saya gelontorkan. Selebihnya, silakan dipikirkan sendiri. Tentunya ada yang setuju dan tidak setuju. Yang penting didasarkan pada kebaikan untuk masa depan bangsa ini.

Mungkin yang perlu digarisbawahi, tiga tokoh di atas memang bukanlah satu-satunya. Masih banyak pemimpin terbaik lainnya. Hanya saja, saya pilih Cuma tiga sosok saja karena soal keterbatasan.

Saya pribadi masih bingung memilih Capres mendatang. Bingung dalam arti masih pikir-pikir dan timbang-menimbang. Sembari berdoa semoga yang Mahakuasa memberikan yang terbaik bagi bangsa ini 1000 tahun ke depan. Dan lebih banyak lagi bermunculan tokoh-tokoh lain yang berkarakter sebagai pilihan-pilihan masa depan.

13754667391710447448

foto: kompas.com

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 15 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 17 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 18 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: