Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Paskah Manurung

Saya pemerhati masalah politik dan sosial

Siapa Pasangan Jokowi yang Paling Pas ?

OPINI | 01 August 2013 | 16:10 Dibaca: 868   Komentar: 13   1

Berbagai survey telah menempatkan Jokowi sebag tokoh yang paling tinggi elektabilitasnya untuk terpilih sebagai Presiden dibanding calon-calon lainnya pada iPilpres 2014 nanti. Para pengamat juga sepertinya sepakat Jokowi tidak akan terkalahkan bila dimajukan sebagai Capres. Sehingga wacana yang berkembang di masyarakat dan juga media adalah siapa wakil yang paling cocok bagi Jokowi untuk memenangkan Pilpres dan selanjutnya untuk memimpin negara ini. Ada juga yang mencoba menempatkan Jokowi sebagai wakil Presiden, tapi sepertinya tidak ada yang tertarik untuk membicarakan Jokowi sebagai Wapres. Seperti berita yang sempat beredar di media, ARB yang mencoba menggandeng Jokowi sebagai Wapres yang langsung ditanggapi masyarakat dengan pertanyaan : “Gak salah tuh ? Gak kebalik tuh ? Seharusnya Jokowi yang Capres bukan Cawapres”, dan sebainya. Termasuk wacana yang mencoba memasangkan Megawati sebagai Capres dan Jokowi  sebagai Cawapresnya, juga ditolak mentah-mentah oleh masyarakat, termasuk orang PDIP sekalipun, agak mengejutkan memang.

Hal ini menunjukkan walaupun belum banyak yang dilakukan Jokowi di DKI Jakarta, namun masayarakat sepertinya sudah melihat perubahan yang cukup mendasar dan cukup berarti di DKI Jakarta. Memang harus diakui belum ada hal-hal luar biasa yang dilakukan oleh Jokowi, tapi dia hanya melakukan hal-hal yang memang seharusnya dilakukan seorang pemimpin, yaitu amanah. Dia juga punya integritas, perduli kepada kepentingan orang banyak, serta konsisten antara apa yang dikatakan dengan yang dilakukan.

Jadi menarik untuk kita bahas dan analisa, siapa kira-kira pasangan Jokowi untuk dimajukan sebagai Cawapres pada Pemilu 2014 mendatang. Tidak hanya sekedar memenangkan Pilpres, tapi juga yang bisa bekerja sama untuk membangun negeri ini. Banyak nama-nama yang beredar, tapi tidak mungkin semuanya kita nahas diisini.

Jokowi - Prabowo :

Keduanya menempati urutan 1 dan 2 dalam berbagai survey untuk Capres.  Walaupun mereka urutan 1 dan 2, tapi prosentase keduanya berjarak cukup jauh. Jadi memang  Jokowi lebih layak untuk menjadi  Capres dibanding Prabowo Subianto. Kemampuan Jokowi sebagai pemimpin sudah tidak diragukan lagi, dia juga dekat dan disenangi oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Sementara Prabowo bisa menarik suara masyarakat yang masih menginginkan adanya sosok militer dalam pimpinan pemerintahan. Selain itu kemampuan finasial Prabowo juga akan sangat menunjang dalam pelaksanaan kampanye. Dari sisi partai pendukung sebnarnya juga tidak menjadi masalah, karena Jokowi yang PDIP dan Prabowo yang Gerindra sama-sama partai nasionalis. PDIP dan Gerindra sudah pernah membuktikan kesuksesan koalisi mereka pada saat Pilkada DKI Jakarta. Bila kedua tokoh ini dipasangkan barangkali tidak akan ada calon lain yang bisa menandingi mereka. Bahkan Pemilu bisa dilakukan hanya dalam satu putaran. Yang menjadi sedikit kendala adalah track record Prabowo yang sempat tercoreng pada saat penculikan aktivis dahulu. Dia dikhawatirkan mendapat tentangan dari para aktivis dan LSM penggiat HAM. Selain itu yang cukup penting adalah apakah Prabowo bersedia menjadi wakilnya Jokowi ?

Jokowi - Ahok :

Banyak masyarakat dan kalangan yang menyatakan bahwa ini adalah pasangan ideal saat ini. Walau baru beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, mereka cukup kompak dan telah memperlihatkan kinerja yang cukup baik. Memang ada segelintir kalangan yang mengkritisi mereka bahwa Jokowi-Ahok belum berbuat apa-apa, buktinya Jakarta tetap saja macet dan tetap saja banjir. Mereka tidak menyadari bahwa Jokowi-Ahok bukanlah tukang sulap apalagi malaikat yg bisa mengubah segala sesuatu semudah membalikkan telapak tangan. Jokowi-Ahok adalah manusia biasa, tapi yang membedakannya dengan banyak pemimpin lain adalah mereka amanah, punya integritas, peduli kepada kepentingan rakyat banyak dan konsisten antara apa yang duicapkan dengan yang dilakukan. Pasangan ini bila maju Pilpres tetap akan menghadapi kendala pada sentimen SARA, seperti yang juga pernah mereka alamai pada Pilkada DKI Jakarta. Namun demikian pasangan ini sangat sulit untuk maju karena bila keduanya maju, siapa yang akan memimpin Jakarta. Mereka akan terbentur pada peraturan yang ada.

Jokowi - JK :

Walau termasuk sudah berusia lanjut namun Jusuf Kalla(JK) masih banyak yang menjagokannya, khususnya masyarakat pendukung dan simpatisan Golkar, lebih khusu lagi yang berada di kawasan Sulawesi.  Sebagai orang Sulawesi, JK juga  akan menarik para pemilih yang  meyakini konsep Jawa - Luar Jawa. Sikapnya yang saat ini kerap mengkritisi pemerintahan SBY ternyata cukup ampuh mengangkat kembali pamornya yang sempat jatuh setelah kalah dalam Pilpres 2009. Namun tingginya saat ini resitensi terhdap tokoh-tokoh tua akan menyulitkan pasangan ini utk menarik dukungan masyarakat luas. Walaupun JK mempunyai dukungan finansial yang cukup tinggi, tapi pasangan ini cukup beratmemenangkan Pilpres karena keberadaan JK sebagai tokoh Golkar akan mendapat penolakan dari para kader-kader setia PDIP dan juga masyarakat yang alergi dan trauma dengan Golkar.

Jokowi - Mahfud :

Banyak kalangan mengatakan bahwa bila pasangan ini dimajukan dan memenangkan Pilpres, maka akan membuat negara lebih aman dan sejahtera karena hukum dan peraturan akan benar-benar diterapkan dan korupsi akan dikikis habis. Masalah yang cukup mendasar bangsa saat ini adalah lemahnya penegakan hukum, dimana hukuman buat para koruptor sangat ringan. Demikian pula tidak adanya tindakan tegas bagi para pelaku tindakan kekerasan dan anarkisme. Selama menjadi Hakim Konstitusi Mahfud MD memang telah membuktikan intergritas dan dedikasinya, walaupun masih ada pihak-pihak yang merasa tidak puas. Pasangan ini akan mengalami kendala untuk memenangkan Pilpres bila berhadapan dengan Capres yang mempunyai dana besar. Sebab baik Jokowi dan Mahfud selama ini dikenal bukan orang yang punya banyak uang. Di tengah masih banyaknya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, faktor politik uang tetap masih menjadi ancaman bagi demokrasi kita.

Jokowi - Dahlan :

Duet ini bisa dibilang “duet maut”, bisa dalam arti harafiah maupun dalam arti sebenarnya. Dalam arti harafiah bahwa duet ini akan membongkar dan menghabisi berbagai kebobrokan di negara ini. Sementara dalam arti sebenarnya, duet ini tidak akan bertahan lama karena  dikhawatirkan dahlan Iskan akan membuat blunder-blunder seperti yang selama ini dia lakukan. Blunder-blunder yang dilakukan Dahlan selama ini juga turut membuat dukungan terhadap dia semakin menurun belakangan ini dibanding saat dulu dia bar-baru menjabat menteri. Gaya kepemimpinan mereka yang sangat mirip juga akan meyebabkan bisa merupakan kendala. Sebaiknya kepemimpinan dua orang itu harus saling mengisi satu dengan yang lainnya. Dari segi finansial untuk memenangkan Pilpres sebenarnya tidak begitu masalah, Dahlan Iskan dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Bukan hanya itu, dia juga merupakan salah satu raja media di Indonesia sehingga untuk kampanye bukan masalaha bagi pasangan ini.

Jokowi - Puan :

Pasangan ini sangat didukung oleh pendukun setia PDI Perjuangan, tapi tidak oleh masyarakat luas. Oleh berbagai kalangan bila pasangan ini dimajukan berarti “bunuh diri”. Selain keduanya berasal dari satu partai, sosok Puan Maharani belum bisa diterima oleh masyarakata luas, dia masih dinilai terlalu hijau dan melakukan sesuatu yang berarti buat negeri ini. Walaupun jabatannya di partai dan di DPR cukup strategis dan mentereng, tapi itu tidak terlepas dari statusnya sebagai putri ketua umum partainya. Kalangan perempuan sendiri pun tidak terlalu menarik untuk memiliha Puan, tidak seperti bila kaum perempuan memilih Sri Mulyani. Tapi sebagian pengamat menganggap bahwa pasangan ini yang terpaksa dimajukan agar Jokowi mendapat restu dari partainya untuk maju sebagai Presiden. Dikhawatirkan Jokowi tidak akan mendapat restu dari partainya, sebab bila Jokowi nanti jadi Presiden ditakutkan Jokowi menjadi Ketua Umum pada Kongres 2015 dan dinasti di PDI Perjuangan juga akan berakhir. Tapi bila Puan bisa menjadi Wakil Presiden dinasti di PDI Perjuangan akan tetap terus berlangsung.

Jokowi - Pramono :

Pasangan ini oleh banyak kalangan dianggap sebagai pasangan yang paling aman untuk memenangkan Pilpres. Sebagai orang partai Demokrat dan adik ipar presiden SBY, Pramono dapat dianggap sebagai setengah “incumbent”. Sebagai  ”incumbent” tentu sangat menguntungkan bagi pasangan ini. Jarinagn dan dana untuk dukungan kepada pasangan ini tentu sudah tidak menjadi masalah. Bagi PDIP sendiri juga tidak ada halangan sebab Pramono dulu adalah ajudan Megawati waktu beliau menjadi Presiden. Bagi Demokrat juga duet ini akan bisa menempatkan mereka tetap sebagai partai penguasa. Suara-suara dari kalangan pendukung militer juga bisa ditarik bila pasangan ini dimajukan. Resistensi dari masyarakat juga diperkirakan sangat kecil, sebab selain dia baru masuk partai setelah gonjang-ganjing Demokrat berlalu, selama karir militernya Pramkono tidak mempunyai cacat. Penolakan barangkali hanya dari kalangan yang tidak menyukai partai Demokrat dan keluarga SBY. Masalah justru akan banyak dihadapi pasangan ini setelah mereka memenangkan Pilpres, sebab pasangan ini akan direpotkan dengan banyaknya masalah dan kasus yang ditinggalkan penguasa sebelumnya, yaitu partai Demokrat dan SBY. Pramono tentu akan berusaha untuk menutupi masalah-masalah di pemerintahan terdahulu dan ini bisa mengakibatkan konflik diantara mereka berdua.

Jokowi - Irman :

Ketua DPD Irman Gusman memang tidak begitu dikenal oleh masyarakat. Walaupun jabatannya sebagai ketua lembaga tinggi negara yang selevel dengan DPR, namun namanya tidak setenar Marzuki Alie. Walaupun dikenal cukup bersih, Irman Gusman diragukan karena selama menjadi Ketua DPD tidak mempunyai greget. Tapi pasangan ini bisa mendapat dukungan dari penganut paham Jawa-Luar Jawa, sebab Irman adalah tokoh yang cukup dihormati di Sumatera Barat. Kalangan masyarakat Minang yang banyak tersebar di seluruh tanah air diyakini akan mendukung pasangan ini.

Jokowi - SMI :

Berduet dengan Sri Mulyani Indrawati (SMI) memang agak merepotkan Jokowi bila SMI tidak menyelesaikan dulu masalah dugaan keterlibatannya dalam masalah Bank Century. SMI dikenal sebagai orang yang pinter dan juga tegas, tapi kasus Bank Century membuat dirinya kelimpungan sehingga harus “kabur” ke Bank Dunia. Bila pasangan ini dimajukan, diyakini suara kalangan perempuan dan para profesional akan banyak diberikan kepada mereka. Demikian juga dukungan dari kalangan luar negeri khususnya dari Bank Dunia. Dukungan dari pihak luar negeri memang sangat dibutuhkan bila mereka nanti jadi menjalankan pemerintahan di negara ini sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Jokowi - Samad :

Tokoh yang paling sangat ditakuti oleh koruptor di Indonesia saat ini adalah Abraham Samad. Ketua KPK ini dikenal berani menangkap para koruptor. Hal ini membuat masyarakat banyak yang bersimpati kepada dia. Masayarakat banyak berharap bila pasangan ini dimajukan dapat mengikis habis korupsi di Indonesia. Sebagai orang non partisan dan bukan orang yang punya banyak uang, Samad bila dipasangkan dengan Jokowi memang cukup berat akan memenangkan Pilpres. Para koruptor kelas kakap pasti akan mendukung habis lawan pasangan ini dengan dana yang besar. Para koruptor akan berlomba-lomba untuk menggagalkan pasangan ini menang. Melihat kondisi masyarakat yang masih banyak dibawah garis kemiskinan, kesempatan yang besar bagi para koruptor untuk memenangkan lawan dari pasangan Jokowi-Samad.

Jokowi - Hatta :

Hatta Rajasa dapat juga bisa disebut setengah “incumbent”. Sebagai Menko Perekonomian dan Ketua Umum PAN yang ikut dalam koalisi di pemerintahan dan juga sebagai besannya SBY, posisi Hatta memang sangat strategis. Hatta juga bisa menarik suara-suara dari kalangan Islam keras yang pada umumnya menolak Jokowi. Namun sayangnya justru posisi Hatta sebagai bagian dari penguasa dan bagian dari keluarga SBY yang mebuat penolakan dari masyarakat yang muak dengan kondisi saat ini. Kedekatan Hatta dengan SBY justru membuat banyak kalangan menuding dia salah seorang biang dari karut marutnya negeri ini. Jikapun nanti pasangan ii terpilih, Jokowi akan sangat direpotkan dengan urusan dan permasalah yang dilakukan pemerintah saat ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 5 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 6 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: