Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Hikmah Komariah

seseorang yang suka mengeluh atas berbagai ketidakidealan dan kerusakan yang ada, mencoba berpikir out of selengkapnya

Pilkada Kota Tangerang: Aksi “Pilih Kasih” Sang Walikota

OPINI | 27 July 2013 | 15:57 Dibaca: 4330   Komentar: 4   2

Satu bulan dari sekarang, masyarakat kota Tangerang akan melakukan pemilihan walikota yang baru. Akhirnya, setelah selama dua periode dipimpin oleh Wahidin Halim (yang katanya dijuluki Macan Tangerang), masyarakat kota Tangerang bisa merasakan dipimpin oleh walikota yang baru.

Sebelumnya, ada lima bakal calon walikota dan wakil walikota yang mendaftarkan diri ke KPUD Kota Tangerang. Mereka adalah Arief-Sachrudin (didukung Demokrat, Gerindra, dan PKB), Abdul Syukur-Hilmi Fuad (didukung Golkar dan PKS), Miing-Suratno Abubakar (didukung PDI-P), Harry Mulya Zein-Iskandar (didukung PPP), dan Ahmad Marju Kodri-Gatot (banyak partai yang mendukung, tapi sayangnya partai kecil yang namanya kurang familiar dan pasangan ini pun gugur karena dukungan partai yang kurang atau semacam itulah). Dari kelima bakal calon itu, yang paling saya kenal hanya Arief dan Miing (Dedy Gumelar). Jelas, karena yang paling populer memang hanya kedua orang itu. Arief merupakan wakil walikota Tangerang dan wajahnya sudah sering saya lihat di jalan-jalan kota Tangerang berdampingan dengan Wahidin Halim. Dan wajahnya pun bisa saya lihat ketika mengunjungi kerabat yang sakit di RS Sari Asih. Ya, Arief memang pemilik (atau salah satu) dari RS Sari Asih. Rumah sakit swasta yang cukup dikenal oleh masyarakat kota Tangerang. Sementara Miing/Dedy Gumelar adalah artis. Pelawak yang sering tampil di televisi. Dan beruntungnya, saya memiliki televisi dan pernah melihat aksinya ketika sedang melawak ataupun membawakan acara di televisi.

Tentang identitas bakal calon lainnya, baru saya ketahui setelah beberapa kali browsing dan rajin-rajin mengikuti berita pilwakot di koran-koran lokal. Abdul Syukur misalnya. Ternyata dia adalah adik kandung Wahidin Halim. Tapi tidak satu partai dengan kakaknya, karena Syukur merupakan kader Golkar. Sementara Hilmi Fuad (pasangan Abdul Syukur) merupakan kader PKS. Wajah Hilmi Fuad cukup familiar memang. Beberapa kali sempat melihat gambar wajahnya tertempel di tembok ataupun tiang listrik dekat rumah. Agak heran sebenarnya mengetahui ternyata dia mencalonkan menjadi wakil walikota. Karena dalam spanduk-spanduk kecil yang saya lihat itu, dibawah gambar wajahnya tertulis “Calon Walikota”. Ya ya, setiap orang bisa saja mengubah suatu keputusan bukan? Lalu Sachrudin dan juga Harry Mulya Zein adalah bagian dari Pemkot Tangerang. HMZ menjabat sebagai Sekda Tangerang, sementara Sachrudin menjabat sebagai Camat Pinang.

Belum masuk masa kampanye, para kandidat ini (khususnya pasangan Arief-Sachrudin) sudah dibuat panas dingin oleh aksi pilih kasih Wahidin Halim. Kemarin KPUD Kota Tangerang sudah mengumumkan bakal calon yang lolos verifikasi dan resmi menjadi calon walikota dan wakilnya. Tiga pasangan lolos yaitu Syukur-Hilmi, Miing-Suratno, dan HMZ-Iskandar. Sementara Arief-Sachrudin dinyatakan tidak lolos. Saya sendiri kaget. Menurut saya pasangan ini yang paling berpotensi memenangkan pilkada karena Arief yang sudah berpengalaman menjabat sebagai wakil walikota. Tapi ternyata tidak lolos karena Sachrudin belum mendapat tanda tangan Wahidin Halim. Tak disangka ya? Tanda tangan bisa menghambat seseorang untuk mendapatkan kekuasaan rupanya.

Ternyata, dalam surat pengunduran diri Sachrudin sebagai camat pinang, tidak terlihat tanda tangan WH dibagian akhir surat itu. Memang ada peraturan yang mengharuskan demikian. HMZ yang menjabat sebagai sekda pun perlu mendapat “izin” dari walikota supaya bisa mencalonkan diri. Aturan ini berlaku untuk semua PNS, saya kira. Yang aneh, kenapa surat HMZ mendapat tanda tangan dari WH sementara surat milik Sachrudin tidak?

Kabar burung yang terdengar seperti ini: WH pilih kasih. Dia berusaha menjegal pasangan Arief-Sachrudin yang diduga kuat akan memenangkan pilkada, supaya adik kandungnya bisa menang pilkada dan menggantikan dirinya menjadi walikota Tangerang. Terdengar seperti sosok kakak yang baik. Rela melakukan apa saja agar keinginan adiknya terpenuhi. Sayangnya, persoalan ini sudah keluar dari lingkup masalah keluarga. Bagaimanapun, posisi WH saat ini adalah sebagai walikota bukan sebagai kakak. Harusnya, dia bisa bersikap adil kepada siapa saja (termasuk bawahannya sendiri) yang mau berkompetisi dalam pilkada. Lagipula, apa susahnya sih memberikan satu tanda tangan? Paling-paling hanya butuh waktu lima detik dan tak akan menguras banyak tenaga.

Aksi pilih kasih ini, kalau memang diniatkan untuk menggagalkan pasangan Arief-Sachrudin, sepertinya akan gagal. Dikatakan gagal tentunya jika gugatan pasangan ini ke KPUD bisa berbuah manis lalu mereka lolos menjadi calon resmi walikota-wakil walikota. Kenapa? Karena dengan adanya kasus ini simpati masyarakat akan banyak beralih pada Arief dan juga Sachrudin. Ini hanya pendapat pribadi saja lho. Terlepas dari kapabilitas yang mereka miliki (dan saya cukup yakin mereka memiliki kapabilitas untuk memimpin kota ini), perlakuan pilih kasih ini akan membuat Arief-Sachrudin diposisikan sebagai “orang yang teraniaya” oleh masyarakat. Dan biasanya masyarakat akan cenderung membela orang-orang yang teraniaya. Sekali lagi, ini hanya pendapat pribadi saja. Lagipula, aksi pilih kasih ini juga akan mengundang rasa ingin tahu masyarakat dan media massa. Yang artinya, popularitas Arief-Sachrudin akan semakin naik. Apalagi sampai Mendagri pun ikut memberi komentar.

Satu pelajaran lagi dari pemimpin Indonesia. Kita belajar bagaimana menempatkan posisi diri dengan baik dan bersikap sesuai etika dari posisi masing-masing. Kapan bersikap sebagai kakak dan kapan bersikap sebagai pemimpin masyarakat.

_SoU_

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 7 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 9 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 11 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 12 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: