Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Isti

memilih menulis untuk mendefinisikan kerinduan

Para Calon Pemimpin Harusnya Belajar dari Mekanisme Per

OPINI | 26 July 2013 | 17:06 Dibaca: 433   Komentar: 19   9

Banyak orang yang salah kaprah dalam memaknai kata pemimpin. Sebagian besar dari kita memandang, bahwa pemimpin merupakan sebuah jabatan dan kedudukan yang menggiurkan, sehingga tidak heran banyak orang yang memperebutkannya. Berbagai jalan ditempuh; saling sikut, jilat-menjilat, suap-menyuap, tidak lagi menjadi hal yang tabu. Seolah semua sudah menjadi lazim adanya dan boleh digunakan sebagai cara dan upaya untuk memperoleh jabatan pemimpin.

Padahal, jabatan pemimpin merupakan sebuah tanggung jawab dan amanah yang berat dan karenanya harus dipertanggungjawabkan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda;

Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seseorang amir (pemimpin) yang memimpin rakyat, ia akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (Hadits Riwayat at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 6/296, no. 1627. Hadits hasan sahih).

Jika saja banyak orang memahami akan hadits ini, tentu teramat sedikit orang yang bernafsu menjadi pemimpin Negeri ini. Faktanya, dari tahun ke tahun semakin banyak partai bermunculan dengan satu tujuan yang sama; menjadi orang nomor satu di Negeri yang semakin ruwet ini. Ada sementara mereka yang begitu berambisi untuk menduduki jabatan tersebut, di lain sisi ada sementara orang yang terpaksa dan harus mau untuk didudukkan menjadi pemimpin demi menggolkan segala kepentingan partai dan golongannya. Jika semua ingin berkuasa, lantas akan seperti apa jadinya nanti? Bisa kita prediksi, kembali naluri sikut-menyikut, jilat-menjilat, suap-menyuap menjadi warna dominan di antara mereka.

Jika cara memperoleh tampuk kepemimpinannya saja sudah sedemikian kotornya, maka proses dan perjalanan sepanjang kepemimpinannya pun tak akan lebih baik, justeru akan semakin buruk. Mereka, yang berhasil menjadi seorang pemimpin dengan jalan tidak halal seperti apa yang disebutkan di atas, akan cenderung untuk berupaya sekuat tenaga melanggengkan kepemimpinan yang telah diraihnya ‘dengan susah payah.’ Dampak buruknya, ia akan menjalankan roda pemerintahannya dengan pola ‘semau gue’, ‘hantam kromo’, ‘otoriter’, ‘dzalim’, ‘bengis’ dan sejenisnya. Sebagai dampak turunannya, rakyat lah yang menjadi korbannya.

Namun, Allah menciptakan alam dengan hukum keseimbangan yang mengiringinya. Ada ide, nilai, dan konsep keadilan dalam setiap penciptaannya. Begitu pun dalam hal kepemimpinan. Semestinya, para pemimpin dapat belajar dari “mekanisme per.” Apabila per itu ditekan, maka ia akan menghasilkan daya lenting atau daya dorong sebesar daya tekan yang dikeluarkannya, untuk mencapai titik keseimbangannya kembali. Energi ini lah yang akan mewujud dalam bentuk perjuangan, perlawanan, atau revolusi. Tentu kita masih mengingat sejarah Hitler, Mussolini, Kaisar Hirohito, Khadafi, Soeharto, Mubarak, dan masih banyak lainnya, yang menjalankan roda kepemimpinannya dengan diktator, otoriter, dan dzalim terhadap rakyatnya, serta mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Pada akhirnya mereka harus hancur akibat dahsyatnya daya perlawanan rakyat yang harus dihadapinya, akibat dari tekanan yang dibuatnya sendiri. Dorongan perlawanan yang hebat itu, berbalik arah dan menghantam diri mereka sendiri.

Inilah ketetapan Allah akan keseimbangan universal, dengan prinsip yang sama, yaitu hukum ‘aksi min reaksi’ (pahala dan dosa). Sayangnya, cermin raksasa sejarah para pemimpin ini belum juga dijadikan pedoman bagi kebanyakan para ‘pemburu’ jabatan kepemimpinan negeri ini. Motivasi mereka tak lebih dari pemenuhan nafsu pribadi dan golongan. Lagi-lagi, rakyat tidak menjadi prioritas dalam pikiran jangka panjang mereka.

Semoga Allah mendengar doa kami, ratusan juta jiwa rakyat Indonesia, agar mengirimkan sosok pemimpin yang mencintai-Nya sehingga mencintai kami juga, sebagai hamba-hamba-Nya. Semoga keseimbangan yang Allah turunkan atas Negeriku ini adalah keseimbangan yang saling menguatkan, menjadi sebuah sinergi mahadahsyat dari seorang pemimpin masa depan dan rakyatnya.

Salam Damai untuk Indonesiaku!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Menuju Jakarta, Merayakan Pestanya …

Hendra Wardhana | | 26 November 2014 | 07:59

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Minum Air Lemon di Pagi Hari dan Manfaatnya …

Gitanyali Ratitia | | 26 November 2014 | 01:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Teror Putih Pemecah Partai Politik …

Andi Taufan Tiro | 3 jam lalu

Pak JK Kerja Saja, Jangan Ikutan Main di …

Hanny Setiawan | 4 jam lalu

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 10 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Membutuhkan Algojo Daripada Jaksa …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Ciremei 3078mdpl bersama Aprak Jaya …

Padlun Fauzi | 8 jam lalu

Bahasa Tarzan Di Pasar Perbatasan …

Nur Azizah | 8 jam lalu

Keroyokan Bangun Pasar Rakyat …

Ahmad Syam | 8 jam lalu

Berhentilah Bermimpi untuk Merdeka …

Eka Putra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: