Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mania Telo

@ManiaTelo : Mengamati kondisi sosial,politik & sejarah dari sejak tahun 1991

Tanya : “Apa Islam Itu Seperti FPI…?”

OPINI | 24 July 2013 | 06:20 Dibaca: 1140   Komentar: 22   6

Di sebuah restoran,seorang anak “bule” kira-kita berumur 6 tahun bertanya kepada bapaknya,”Apakah Islam di Indonesia seperti orang-2 yang menjadi anggota FPI….?” ; Pertanyaan ini timbul karena si anak menonton berita tentang bentrokan anggota FPI dengan warga Sukorejo dan beberapa aksi FPI lainnya di berbagai daerah yang disiarkan oleh sebuah stasiun televisi. Yang terdengar dalam percakapan bapak-anak itu hanya kalimat “tidak..!”,kata si bapak anak tersebut. Entah,apakah si bapak itu menjelaskan secara detil tentang FPI dan Islam di Indonesia.

Mungkin cerita itu akan dikatakan “cerita karangan atau cerita bohong” oleh anggota FPI,sebab memang begitulah perilaku mereka dalam membantah dan berdebat di publik bila ada seseorang mengatakan sesuatu yang buruk dan memojokkan aksi mereka. Sebuah CCTV yang “tanpa sengaja” merekam aksi mereka di Sukorejo pun dibantah habis,bahkan balik menuduh bahwa rekaman “CCTV” tersebut sengaja sudah dipersiapkan terlebih dahulu,juga balik menantang siapa yang merekam dan dimana CCTV itu ditempatkan. Tentu saja bila tantangan mereka diladeni,maka pemilik CCTV tersebut akan di teror habis-habisan dan mungkin keselamatan jiwanya akan terancam.

Sebuah rekaman yang diputar di acara ILC,23 Juli 2013 malam yang menyajikan aksi anggota FPI di Makassar pun dibantah habis. Seorang narasumber di ILC bahkan ditantang untuk tidak bicara “tidak benar” sebab narasumber itu akan dituntut sebagai pencemaran nama baik. Cara anggota FPI yang hadir di ILC dalam menjelaskan aksi “monitoring” nya sangat kontradiktif dengan argumentasi yang disampaikan ke publik. Bilamana aksi FPI itu sebuah “monitoring”,tentunya mereka akan menindak anggotanya yang melakukan “sweeping” ,sebab kalau kata dan perbuatan tidak sesuai/sama,maka jadinya ya seperti yang dipertontonkan oleh para anggota FPI yang hadir di acara ILC Selasa 23 Juli malam itu….

Oleh karena itu,cerita SBY yang mengatakan bahwa ada pemimpin Timur Tengah yang merasa keberatan dengan aksi-2 Ormas Islam yang melakukan tindakan kekerasan dengan pakaian “Timur Tengah” dan membawa agama Islam bisa jadi akan menjadi cerita yang dianggap sebuah kebohongan publik oleh FPI. Kita perlu menunggu respon dari Habib Rizieq hal cerita yang disampaikan oleh SBY tersebut,bisa jadi Habib Rizieq akan minta ke SBY untuk menyebutkan nama pemimpin Timur Tengah tersebut,dan berita selanjutnya bisa dipastikan kedutaan besar “sang pemimpin Timur Tengah” yang diceritakan SBY akan diserbu oleh para anggota FPI.

Masyarakat Indonesia sebenarnya bisa menilai dengan kasat mata tentang FPI,apakah FPI melakukan tindakan yang benar atau tidak,sebab mau dibantah seperti apapun kalau kenyataannya aksi-2 FPI sangat merugikan orang lain dan bertentangan dengan hukum yang berlaku, tentu pasti imej FPI sangat buruk sekali. Ada yang menduga,FPI melakukan banyak bantahan dan “kebohongan” (istilah yang dipakai oleh salah satu narasumber di ILC) karena meniru dan diajarkan demikian untuk serupa dengan si “Setan Besar” Amerika Serikat,musuh bebuyutan kaum fundamentalis Islam. Aksi-2 Negara Amerika Serikat di berbagai belahan negara (secara khusus negara-2 Islam,seperti Afghanistan,Iran, Irak),yang selalu dalam pernyataannya adalah aksi untuk memerangi teroris dituduh sebagai sebuah kebohongan besar oleh lawan-2nya yang bercirikan kaum fundamentalis Islam. Dan sekarang setiap aksi “anarkis” (tuduhan yang sering dipakai dalam menyikapi aksi FPI) juga seringkali dibantah oleh FPI,bahwa aksinya bukan anarkis dan bukan aksi ’sweeping’ melainkan aksi ‘monitoring’ . Apakah ini sebuah perang “kebohongan dilawan dengan kebohongan”….? Itu kan sama saja artinya menuduh orang lain melakukan perbuatan “setan” dengan menggunakan cara-2 “setan”…?

Negeri ini sebenarnya sudah cukup banyak jumlah pembohongnya. Pejabat korup pun akan terus berbohong dan menyangkal perbuatannya itu korup dan kekayaannya diperoleh bukan dari hasil korupsi,walau publik sudah mengatahui dan tidak mungkin dengan pendapatannya si pejabat itu bisa memperoleh kekayaan yang “adzubillah”…mereka tetap saja senang melakukan penyangkalan dengan berbohong. Untung saja untuk kasus korupsi ini,publik tidak melakukan cara-2 “setan” dalam menindak perbuatan “setan”….! Atau publik yang gemas dengan pejabat korupttif mau menyewa ormas yang bisa bertindak dengan cara-2 “setan” untuk menggantung “setan”…?

Sekarang didalam benak masyarakat Indonesia hanya ada satu pertanyaan yang masih tersisa,”Kenapa pimpinan negeri ini tidak berani bertindak membubarkan ormas yang melakukan tindakan anarkis…? ataukah karena pemimpin negeri ini juga sudah berbohong,bahwa tidak ada yang anarkis di negeri ini…?”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

Keputusan KPU Tetapkan Jokowi-JK sebagai …

Yusril Ihza Mahendr... | | 23 July 2014 | 14:21

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Mengapa IRT Perlu Memiliki Penghasilan …

Ella Zulaeha | | 23 July 2014 | 14:53

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 4 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 5 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 9 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 9 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: