Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Kadek Suandewi Suandewi

Kehidupan adalah perjalanan. Banyak cerita yang bisa dikisahkan dalam Tulisan. Mengabadikan Cerita dalam tulisan adalah selengkapnya

Suwirta-Kasta Cabup Klungkung yang “Bejo”

OPINI | 23 July 2013 | 23:42 Dibaca: 357   Komentar: 0   0


Orang bodoh memang mengalahkan orang pintar. Tetapi dalam hidup dan kehidupan pintar saja tidak cukup. Karena orang pintar bisa dikalahkan orang yang beruntung. Ini telah dibuktikan dengan Pilkada DKI Jakarta tempo lalu, antara Jokowi-Ahok dan Foke. Walaupun tidak bergelar professor, Jokowi membuktikan bahwa dengan bersih , jujur dan ojo dumehnya “Bejo” Jokowi menang diputaran ke-2 Pilkada DKI. Hal ini tampaknya akan juga berlaku dengan Pilkada Klungkung untuk memilih calon Bupati dan wakil Bupati Klungkung untuk masa 2013 – 2018. Pasangan I Nyoman Suwirta -Mangku Kasta akan juga demikian. Didukung Partai Gerindra, PNBK, Nasdem , Suwirta Kasta yang notabena icon Koperasi Pasar Sri Nadi yang sudah merakyat tampaknya akan memenangi Pilkada Klungkung ini. Hal ini bukannya tanpa alasan, banyak sebab yang logis mengapa Suwirta memenangi Pilkada Klungkung kali ini.

Alasan pertama : secara geopolitik Suwirta adalah orang Nusa Penida yang mempunyai jumlah suara yang terbesar ke dua setelah Kecamatan Klungkung. Ini bisa kita contohkan kemenangan Mangku Pastika di Pilgub yang baru lewat karena menang telak di Buleleng. Demikian Juga Nyoman Suwirta dan Mangku Kasta akan meraup suara yang besar di pulau Nusa Penida ini. Dibandingkan dengan Pilkada dulu tahun 2008, Kandidat dari Nusa Penida jumlahnya 3 orang. Sehingga suara di Nusa Penida terpecah belah. Sedangkan pada kali ini, di Pilkada 2013 ini, suara masyarakat dipastikan akan diraup setidaknya 70% dari 37 ribuan suara di Nusa Penida. 70% perolehan suara dari masyarakat Nusa Penida juga tanpa alasan, ini dikarenakan data kemenangan Mangku Pastika saja di Nusa Penida 67,8%. Apalagi Nyoman Suwirta yang Notabena “ayam” aduannya masyarakat Nusa Penida, tentunya perolehan 70% bukan angka karangan semata. Persentase 70% Ini bisa kurang kalau masyarakat Nusa Penida mudah di pecah belah, di “beli” dengan janji-janji muluk. Masyarakat Nusa Penida mudah di pecah belah, di “beli” dengan janji-janji muluk itu kemungkinan sangat kecil mengingat Nusa Penida sudah lama merasa dianak tirikan. Ini bisa terlihat dari jalan, air dan pelabuhan yang masih sangat jauh dari harapan. Sehingga dipastikan masyarakat Nusa Penida memilih orang yang bisa merasakan kepahitan hidup di Pulau Nusa Penida, dan Nyoman Suwirta merasakan hal ini.

Alasan yang kedua adalah calon Puri Klungkung pecah dua yaitu Tjok Bagus dan Tjok Raka. Sehingga suara pemilih di klungkung pecah dua pada kandidat itu. Padahal kalau Puri bersatu dipastikan dia akan menang, tetapi yang namanya bejo Suwirta-Kasta ibarat kuda hitam yang melesat mengambil keuntungan dari pecah kongsi kandidat Puri ini. Terlebih Suwirta lama hidup dan berkembang di Klungkung selaku praktisi Koperasi Pasar Sri Nadi sehingga bisa dimaklumi suara masyarakat Klungkung akan lebih lari ke Suwirta-Kasta yang telah membuktikan dengan ekonomi kerakyatan, tidak sekedar janji-janji muluk. Keberuntungan ketiga, Suwirta juga dikarenakan PDIP selaku Partai penguasa di Klungkung dengan kandidatnya Anom Regeg tidak begitu popular. Hanya  mengandalkan orang Partai yang berlambang moncong putih ini. Sedangkan kiprahnya Anom Regeg hanya sebagai anggota dewan yang kinerjanya masih dipertanyakan. Sebagai Partai yang berkuasa PDIP sekarang diserang berbagai isu terkait mangkraknya Dermaga Gunaksa, dan sejumlah kapal ikan di Kusamba. Sehingga Hal inilah yang semakin menguatkan mengapa Suwirta Kasta yang notabena dari pulau terkecil Ceningan, menggerakan ekonomi kecilmelalui Koperasi kalau diberikan kesempatan oleh masyarakat dipastikan Klungkung akan berkembang menjadi daerah yang akan diperhitungkan di Bali dengan pertumbuhan ekonomi yang baik. Idiom mengubah yang besar harus memulai dari yang kecil Suwirta Kasta akan membuktikan kepada Masyarakat Klungkung. Itu sudah ia lakukan melalui Koperasi selama 27 tahun

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 15 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 15 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 19 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 22 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 29 August 2014 11:50


HIGHLIGHT

Apa amyotrophic lateral sclerosis? …

Ahmed Ridho | 8 jam lalu

Twitter : Kami Menghormati Hukum Pornografi …

Reidnash Heesa | 9 jam lalu

Menjadi Pejalan Cerdik …

Anjas Prasetiyo | 9 jam lalu

Lukisan Kabut …

Gunawan Wibisono | 9 jam lalu

Sepenggal Kisah dari Laut …

Adi Arwan Alimin | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: