Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Kupret El-kazhiem

Pelarian, Pengangguran, Soliter, Serabutan, Penduduk Bumi

Jangan Bubarkan FPI!

OPINI | 23 July 2013 | 18:54 Dibaca: 2411   Komentar: 24   12

13748223481133485040

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=613172778703362&set=gm.633956179956988&type=1&theater

Dahulu pernah ada yang cerita sama saya jika FPI dibentuk atau diprakarsai pendiriannya oleh salah satu Jenderal yang kini sedang mempersiapkan diri melangkah ke kursi presiden 2014. Di tahun 1998, FPI sengaja dibentuk untuk mengimbangi kekuatan “kiri” Indonesia yang disinyalir waktu itu akan bangkit kembali setelah selama puluhan tahun diberangus oleh Orde Baru. Ada pula yang mengatakan bahwa FPI adalah bentukan BIN yang berguna untuk mengalihkan isu nasional ketika pemerintah tengah menjadi sasaran isu dan kritik. Entah kabar ini benar atau tidak, tapi saya pribadi tidak setuju jika FPI dibubarkan walau sering mengkritik FPI.

Mengapa demikian? Apabila FPI dibubarkan, nanti mereka bisa berkilah bahwa nasib mereka tak ubahnya PKI di zaman Orde Baru yang dicap sebagai partai terlarang, atau seperti organisasi-organisasi non partai lainnya yang juga sempat diberangus atas dasar subversif. Biarkan saja FPI diberi tempat, tapi setiap warga harus mau melakukan perlawanan ketika FPI yang juga sejatinya warga sipil ternyata merusak ruang publik atas nama agama dengan tindakan-tindakan kekerasan, razia, dan sweepingnya. Warga sipil lainnya harus menyadari bahwa FPI tidak berhak dan tidak punya wewenang atas semua aksi tersebut.

Melawan tapi tidak membumihanguskan. Itulah prinsipnya. Sekarang lihat saja setiap kali FPI berulah, pemerintah pasti cuma basa-basi, silat lidah, dan tidak becus menanganinya. Ketika UU Ormas telah disahkan pun, pemerintah juga pasti tidak jauh berbeda dalam menangani ormas-ormas semacam FPI. Berapa korban dari FPI yang meninggal, cacat seumur hidup, dll? Berapa banyak FPI menghina saudara setanah air yang berbeda keyakinan? Berapa banyak arogansi FPI yang merugikan uang negara. Berapa banyak kotbah petinggi-petinggi FPI yang mengajak anggotanya mengangkat senjata untuk menghakimi siapapun yang berseberangan dengan mereka, dan masih banyak lagi. Jika memang apa yang dikerjakan FPI merupakan suatu hal positif kenapa mereka tidak pernah mengajak untuk saling menghargai dan membangun NKRI yang sudah dari dulu multikultur? Kenapa memaksakan hukum 1 agama di negara yang multi etnis dan agama ini?

Akan tetapi andaikan FPI dibubarkan, tidak ada yang bisa menjamin bahwa mereka tidak akan bangkit kembali. Mungkin pemerintah bisa membubarkan mereka, tapi mereka juga bisa berganti topeng, nama, atau kedok saja. Lagi pula jika FPI semakin dibiarkan bertindak semaunya maka akan semakin kelihatan jelas siapakah jati diri FPI sebenarnya di mata masyarakat. Selain itu, pada puncaknya perang sipil segera terwujud, dan tentu lebih besar daripada kejadian di Kendal. Kalau sekarang ini FPI masih bisa berdalih macam-macam. Namun nanti jika perang sipil terjadi antara FPI dan konco-konconya melawan warga sipil yang sudah cerdas mengenal betul siapa FPI, maka kejadian seperti Mesir akan terjadi.

Ya, mirip bentrokan antara yang pro dan kontra Mursi, fase seperti itu tampaknya harus terjadi di Indonesia. Bisa jadi antara FPI dkk plus partisipannya vis-a-vis warga negara lain yang kontra terhadap mereka. Setelah mencapai titik kulminasi tersebut maka secara massal tiap individu akan bisa menilai bahwa kita sebagai bangsa memang tak pernah mau belajar dan selalu memaksakan apa saja yang menurut kita pribadi paling benar. Tiap individu akan menyadari bahwa konflik demi konflik yang terjadi bukan disebabkan karena azab Tuhan, tetapi karena ulah tangan manusia yang memang sewenang-wenang bak wakil Tuhan. Kemudian pasca kekacauan itu, perlahan keadaannya berangsur pulih. FPI akan tergerus dengan sendirinya meski benih-benih mereka tetap menjual ayat Tuhan untuk menjaring pengikut.

Jadi tolong jangan bubarkan FPI

Tags: bentrokfpi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

Ahokrasi, Tepat dan Harus untuk Jakarta …

Felix | 8 jam lalu

Norman K Jualan Bubur, Tampangnya Lebih Hepi …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 11 jam lalu

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 12 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

“Aku Bukan untuk Si Kaya, Tapi untuk …

Muhammad Samin | 7 jam lalu

Pemandangan di Tepian Sungai Batanghari …

Aryani_yani | 7 jam lalu

Fitur-fitur Wireshark …

Haidar Erdi | 7 jam lalu

Monolog Kebaikan …

Ari Dwi Kasiyanto | 7 jam lalu

Nasib Rakyat Negeri Keledai …

Asmari Rahman | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: