Adrian Susanto

| 18 July 2013 | 15:40



261
Dibaca
0
Komentar
1
Rating

Bagaimana agar Tidak Salah Pilih Caleg?


Tak lama lagi, tahun 2014, Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi dalam acara pemilihan umum. Pemilihan umum saat ini akan terjadi dua jenis, yaitu pemilihan calon legislatif dan pemilihan presiden. Sejak orde reformasi, gaya pemilihan kita sudah berubah. Presiden tidak lagi dipilih oleh anggota dewan hasil pemilihan legislatif, melainkan langsung oleh rakyat. Anggota dewan pun bukan lagi dipilih partainya saja, melainkan langsung wajah anggota dewannya.

Dalam pemilihan calon legislatif, pemilih akan berhadapan dengan kertas yang memuat foto wajah calon legislatif dan asal partainya. Pemilih diminta untuk mencoblos wajah calon dan partainya. Dengan cara ini pemilih diharapkan sudah mengenal wakilnya di DPR nantinya, karena sudah melihat foto wajahnya. Dengan sistem ini, maka pemilih tidak lagi memilih kucing dalam karung.

Kebanyakan orang mengira bahwa dengan sistem tersebut, maka selesailah sudah masalah. Memang, sistem ini dapat membantu pemilih untuk kenal wakilnya, namun masih sebatas wajah. Sistem ini belum menjamin para pemilih untuk mengenal siapa wakilnya. Sistem ini sudah dipraktekkan sejak PEMILU 2004. Tapi apakah ada perubahan drastis pada wajah negeri kita?

Bukan berarti sistem ini tidak bagus. Akan tetapi janganlah sistem ini dijadikan satu-satunya acuan dalam memilih wakil kita. Harus ada cara lain. Cara lain itu tak lain adalah benar-benar mengenal. Bagaimana kita bisa mengenal? Yesus pernah berkata, “Jika suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” (Matius 12: 33).

Karena itu, selain kenal wajahnya, kita juga harus memperhatikan “buah” yang telah dihasilkan calon wakil kita ini. Namun, berkaitan dengan “buah” ini, kita harus juga memperhatikan kriterianya. Memang “buah” itu selalu diidentikkan dengan manfaat. Jadi, di sini ada asas manfaat. Berkaitan dengan asas manfaat ini ada hal yang harus diubah dalam mental kita.

Selama ini, seringkali orang berpikir bahwa tolok ukur asas manfaat ini adalah saya atau kami. Orang seringkali menuntut kepada calon legislatif untuk membuktikan janjinya dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya atau kelompoknya. Misalnya, pengaspalan jalan atau  pemasukan aliran listrik, dll. Jadi, terlihat bahwa para pemilih hanya masih memikirkan kepentingan dirinya sendiri, bukan kepentingan umum. Pemilih hanya memikirkan kepentingan sesaat saja, bukan untuk lima tahun ke depan.

Sebuah contoh, di sebuah kampung, penduduk sudah sepakat untuk memilih Anu dari Partai Una, hanya karena ia sudah mengaspal jalan masuk ke kampung itu dan menghadiahkan 3 mesin traktor untuk pertanian. Istri Anu adalah pegawai dari dinas pertanian.

Mari kita berpikiran negatif sebentar. Anu ini orang lama di pemerintahan atau mengetahui banyak hal di pemerintah. Bisa saja dia buat proyek untuk “kesejahteraan” masyarakat, lalu membuat proposal ke pemerintah. Mungkin juga, dalam lobi ini dia sudah kongkalikong dengan pejabat pemerintah terkait, sehingga keluarlah dana pengaspalan, yang dilihat warga sebagai kemurahan hati Anu. Hal yang sama juga dengan mesin traktor. Bisa saja sang istri membuat proyek yang isinya mesin traktor. Mungkin untuk “bukti” itu Anu hanya mengeluarkan dari kantong pribadinya sekitar 50%, selebihnya dari pemerintah. Dan jika dari pemerintah, artinya dari rakyat juga; karena uang pemerintah sebagian besar dari dari pajak rakyat.

Dan bagaimana jika ia akhirnya terpilih? Ingat, Anu hanya berani melakukan hal itu, jika dari kalkulasinya, kampung itu memiliki banyak suara pemilih. Dan jika ia sudah terpilih, bisa saja ia akan mengucapkan selamat tinggal kepada warga kampung dan ia enak-enakan saja menikmati fasilitas sebagai anggota dewan. Sementara warga kembali kepada situasi yang itu-itu saja.

Karena itu, jangan begitu cepat percaya. Jangan begitu mudah terpikat. Sering orang hanya berpikir jangka pendek dan hanya untuk kepentingan sendiri atau kelompok. Memanfaatkan momen pemilu ini, kita harus berpikir global, yaitu demi kepentingan bersama, dan untuk jangka panjang, yaitu selama lima tahun ke depan, bahkan seterusnya. Pola pikir seperti ini harus diganti. Kita harus memakai metode Yesus: mengenal pohon dari buahnya. Bagaimana caranya?

Pertama-tama harus dibedakan antara janji dengan “buah”. Janji itu bukanlah “buah”. Dalam dunia tumbuhan, janji dapat diidentikkan dengan bunga. Memang buah itu berasal dari bunga. Dan bunga itu selalu indah. Demikian pula dengan janji yang selalu dilontarkan calon legislatif. Janji itu selalu indah, sehingga membuat orang terbuai. Tapi musti diingat bahwa bunga bukanlah buah, dan tak selamanya bunga itu menjadi buah. Maka, sekalipun pohon itu berbunga lebat dan indah, tapi bila tidak menghasilkan buah, pohon itu tidak baik. Buah adalah hasil dari pohon yang selalu ditunggu orang. Bunga hanya menimbulkan harapan, sedangkan buah mendatangkan kegembiraan.

Tentulah, penilaian atas pohon baik atau tidak, bukan dilihat dari awal penanaman pohon. Artinya, ketika kita menanam sebuah pohon, kita tak bisa langsung mengatakan bahwa ini adalah pohon yang baik. Sebuah pohon dikatakan baik karena dia pernah menghasilkan buah yang baik. Dan cap “baik” ini akan terus mengiringinya dengan buah-buah yang selalu dihasilkannya.

Maka, untuk benar-benar mengenal wakil kita yang akan duduk di dewan nanti, kita tak cukup hanya mengandalkan janji manis mereka. Kita juga tak boleh hanya melihat apa yang sudah mereka lakukan saat ini untuk segelintir orang saja. Kita perlu rekam jejak calon legislatif ini lalu dikaitkan dengan janjinya. Apakah janji yang diucapkannya sudah sejalan dengan hidupnya selama ini?

Sebagai contoh. Si Polan, ketika berkampanye, menjanjikan Indonesia yang bersih dari korupsi, menghargai pluralitas, meningkatkan kesejahteraan buruh dan memajukan pendidikan. Kini warga harus melihat rekan jejaknya sebelum mencalonkan diri jadi wakil rakyat ini. Mungkin si Polan sebelumnya sudah anggota dewan. Coba perhatikan, apakah selama menjadi anggota dewan dia sudah mewujudkan janjinya tadi? Atau mungkin si Polan aktif di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Warga harus melihat apakah selama bekerja di LSM itu dia menunjukkan perhatiannya pada masalah-masalah di atas?

Sebagai perbandingan, kita dapat bercermin dari Jokowi dan Ahok. Mereka datang ke Jakarta dan berjanji akan mengubah wajah Jakarta: kesehatan, pendidikan, transportasi, birokrasi, dll. Apakah pada saat kampanye mereka melakukan sesuatu pada rakyat untuk membuktikan janjinya? TIDAK! Warga langsung melihat rekam jejak mereka. Warga melihat Jokowi ketika ia masih menjabat Walikota Solo, dan Ahok ketika ia menjabat Bupati Belitung Timur. Warga melihat ada kesesuaian antara janji dengan “buah” yang sudah dihasilkan Jokowi dan Ahok, sehingga warga percaya bahwa kelak mereka akan mewujudkan janji mereka. karena itu, warga sama sekali tidak terpancing dengan isu agama atau isu money politic.

Tinggal beberapa bulan lagi kita akan memilih. Berusahalah mengenal wakil Anda. Jangan terbuai dengan janji manisnya. Jangan pula berpikir sempit, hanya melihat kepentingan kelompok sendiri dan kepentingan sesaat. Nasib bangsa dan daerah Anda ada di tangan Anda, yang dipercayakan kepada para wakil rakyat.

Selamat mengenal!!!

Tags: kotaksuara pileg2014

Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..

Kotak Suara 2014 berisi berita dan opini warga seputar hiruk-pikuk Pemilu 2014 dengan tag "pileg2014", "pilpres2014",atau "serbaserbipemilu"

Tulis Tanggapan Anda
Guest User