Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Apartheid, Mandela dan Indonesia

OPINI | 15 July 2013 | 22:10 Dibaca: 358   Komentar: 0   0

Apa arti dari Apartheid?  Apartheid berasal dari bahasa afrikans, bahasa Jermanik Barat yang dituturkan di Afrika Selatan dan Namibia, berasal dari 2 suku kata yaitu apart berarti terpisah dan heid yang berarti sistem. Sistem ini pertama kali dicanangkan di Afrika Selatan dengan pemisahan koloni Inggris dan Afrika.  Apartheid ini juga sering dikenal dengan “separate development” yang menjadi legal melalui Population Registration Act pada tahun 1950 yang memisahkan antara Bantu ( Afrika berkulit hitam), Coloured (campuran), dan suku bangsa berkulit putih dimana selanjutnya bertambah dengan kategori Asia. Klasifikasi ini didasarkan kepada  penampilan, penerimaan sosial, dan keturunan.. Sebelumnya berlaku pula undang-undang Apartheid pada tahun 1948 , dimana undang-undang ini menyentuh setiap aspek kegiatan sosial seperti larangan pernikahan kulit putih dan berwarna dan klasifikasi pekerjaan yang hanya diperuntukkan untuk masyarakat kulit putih.

Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan merupakan tokoh paling identik dengan  kisah perjuangan terhadap Apartheid ini. Pada survey tahun 1978 terlihat jelas perbedaan perlakuan untuk masyarakat kulit hitam dan putih di Afrika Selatan. Kulit hitam dengan jumlah populasi 19 juta berbanding 4,5 juta kulit putih justru hanya mendapat 13 persen alokasi tanah dan kurang dari 20 persen dari pendapatan nasionalnya.

Nelson Mandela mulai aktif dalam perjuangan ini pada umur 20an. Beliau akhirnya mendapat nobel perdamaian dalam perjuangan melawan apartheid pada tahun 1993, pada saat beliau berumur sekitar 75an.  Mandela sudah mengalami perlakuan rasis tersebut sejak ia masih balita, dimana ayahnya terbuang dari tanah kelahirannya karena perlakuan kolonial di tanah kelahirannya, sebuah desa kecil bernama Mvezo.

Kisah mengenai Apartheid ini dipelajarinya sejak berada di bangku sekolah, dimana beliau mempelajari tentang sejarah kehidupan orang Afrika di zaman dulu yang damai, sebelum bangsa kulit putih dating, dimana setelah itu kulit berwarna saling berbagi tanah, air kepada bangsa kulit putih, sedangkan kulit putih menggunakannya untuk diri sendiri.

Mandela semakin aktif menjadi penjuang Apartheid ketika ia bergabung dengan African National Congress,ia menjadikan ANC sebagai alat perjuangannya menghadapi ketidakpersaan hak yang diberlakukan oleh rejim yang berlaku saat itu. Nelson Mandela selama 20 tahun mengarahkan arah perjuangan tanpa kekerasan. Mandela ditangkap pada tahun 1956 karena kebijakan politik mereka yang tidak populis saat itu.

Tapi pada akhirnya Mandela sadar bahwa hanya dengan perjuangan bersenjata, masyarakat kulit berwarna dapat berjuang hingga ia memimpin  serangan yang belakangan dinamakan.  “ a three-day national workers’ strike” , yang tentunya berakhir dengan menginap di hotel prodeo selama 5 tahun. Setelah keluar pun ia memimpin pemberontakan lagi dan akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup. Pada tahun 1985, Presiden menawarkan pembebasan untuk Mandela dan tawanan lain dengan syarat perhentian perjuangan tanpa senjata yang akhirnya ditolak oleh tawanan. Akhirnya beliau dibebaskan oleh Presiden  De Klerk yang sekaligus perhentian hukuman untuk ANC. Presiden De Klerk dan Mandela akhirnya mendapat nobel perdamaian dan pada tahun 1994 Afrika Selatan melaksanakan pemilu  demokrasi pertamanya dan memilih Mandela sebagai presidennya.

Mandela selanjutnya mengubah paradigma dengan mendasarkan pada peraturan kulit hitam. Lalu mengapa Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan kemarin erat kaitannya dengan Mandela dan akhirnya menjadikan beliau sebagai tamu kehormatan? Tak lain adalah karena beliau memang mempropagandakan olahraga sebagai alat rekonsiliasi, dengan mendorong warga negara  kulit hitam mendukung tim rugby nasionalnya yang saat itu dibenci karena dikuasai ras kulit putih.

Bagaimana dengan negara kita Indonesia? Apakah Apartheid pernah terjadi? Apartheid dibawa oleh kolonial Belanda saat mereka datang ke negara kita, dimana mereka memisahkan golongan eropa sebagai masyarakat kelas 1, asia timur sebagai warga kelas 2 dan pribumi sebagai masyarakat kelas 3. Bahkan di Batavia orang harus hidup di perkampungan menurut daerah asalnya dan dipersulit jika masuk ke perkampungan lain. Hal ini akhirnya diperjuangkan oleh golongan Cina yang meminta Gubernur saat itu untuk mendapat perlakuan dan ruang hidup lebih.

Bagaimana dengan saat ini? Dengan kulit berwarna yang banyak terdapat di Indonesia Tmur, kita bisa melihat jelas terjadi kesenjagan di segala aspek kehidupan terutama sangat kontras dengan kekayaan alam yang dimiliki saudara kita tersebut. Selama bangsa Indonesia sebagai minoritas di kehidupan berbangsa di dunia hanya mementingkan perutnya sendiri tidak mempedulikan apa yang terjadi pada keturunan kita 10,20,50 atau 100 tahun mendatang, maka selama itu pula bangsa asing memecah belah kita. Bekerja sama dengan petinggi-petinggi daerah setempat untuk mengeksplorasi kekayaan alamnya.

Dengan dalih bahwa ketersediaan SDM yang memadai belum cukup untuk mengolah sumber daya , dengan dalih bahwa akan terjadi transfer ilmu terhadap penduduk lokal tanpa adanya budget atau fasilitas pendidikan yang memadai. Maka selama itu pula, saudara-saudara kita di sana merasakan bahwa nilai nominal mereka jauh lebih rendah daripada nilai riilnya. “tidak akan ada yang menunggangi kita jika kita tidak membungkuk terlebih dahulu.” Ironisnya manusia-manusia yang memikirkan perutnya sendiri menyerahkan punggung masyarakat lokal di sana dan mereka bersama-sama dengan pihak penjajah menungganginya tanpa rasa bersalah.

Seperti yang diungkapkan Mandela “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Seperti juga diungkapkan oleh bos di kantor saya, “Kesuksesan dan uang bisa datang kapan saja jika dicari, tapi pendidikan adalah soal harga diri.” Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa semua itu bisa diubah melalui pendidikan, membuka cakrawala dan berbakti kepada negeri adalah hakikat kita sebagai warga Negara Indonesia. Jika itu tidak terjadi, jika anggaran pendidikan untuk daerah di Timur tidak sebesar yang ada di pulau Jawa misalkan, bukankah kita sudah melakukan politik apartheid itu dengan tools “angka di APBN” tersebut. We should to think it first. Semua itu harus dimulai dengan “man in the mirror.” Judul lagu yang dinyanyikan oleh Michael Jackson, penyanyi yang justru hakikat hidupnya mengingkari perjuangan terhadap “Apartheid” itu sendiri.

Sekian, bravo Indonesia Raya

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 3 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 4 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 6 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 9 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Trans TV, Raffi Is Not Our Prince! …

Gilang Parahita | 8 jam lalu

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | 8 jam lalu

Koalisi Akal Sehat Mengawal Pelantikan …

Effendi Siradjuddin | 8 jam lalu

Selamat Bertugas Pak Jokowi …

Toni Pamabakng | 8 jam lalu

Misteri Hantu Rumah Tua …

Raphael Jose Riberu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: