Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Zaenal Abidin

Orang Biasa yang ingin terus berkarya

Dewan Penipu Rakyat

OPINI | 09 July 2013 | 07:22 Dibaca: 365   Komentar: 2   1

foto: www.2mindshare.com

foto: www.2mindshare.com

Kata-kata indah, janji-janji manis keluar begitu ringannya dari mulut para caleg itu. Semuanya untuk rakyat. Bahkan mereka akan siap mati demi membela kepentingan rakyat. Satu hal yang diminta oleh caleg tersebut agar janji-janjinya dapat terwujudkan. Rakyat harus memillihnya untuk menjadi anggota Dewan yang terhormat. Duduk manis di kursi empuk senayan. Rakyatpun terpesona dengan kata-kata manis para caleg tersebut. Rakyat berharap suara yang disumbangkannya untuk caleg tersebut bisa membawa perubahan. Mengangkat kehidupan rakyat yang selama ini tenggelam dalam kesengsaraan, kemiskinan, ketidak-adilan dan penindasan.

Caleg pun yang telah begitu bernafsu duduk di kursi nyaman dan empuk senayan. Berjanji dan berjanji. Demi tuhan dan demi apapun ia lontarkan untuk membuat rakyat yakin bahwa mereka para caleg akan membawa perubahan, kesejahteraan dan kadilan bagi rakyat. Rakyat tersenyum bahagia melihat janji Caleg yang tampak begitu tulus. Bahkan sempat meneteskan air mata dan mengutip beberapa ayat suci bahwa benar mereka para Caleg akan membawa perubahan pada kehidupan rakyat yang selama ini dalam kemiskinan dan kesengsaraan.

Rakyat yang berhati mulia dan pemaaf pun, akhirnya melupakan kejadian masa lalu, saat berkali-kali telah ditipu oleh para Caleg. Dengan mata berkaca-kaca dan segunung harapan, rakyat bersuara pada para Caleg,

“Berkali-kali kami berharap dan percaya pada Anda, namun berkali-kali pula kami ditipu dan dikhianati. Tapi kami tak peduli, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kami melihat kesungguhan Anda untuk menjadi wakil kami. Yang akan Membawa kami pada kesejahteraan. Kami melihat kesungguhan itu. Anda menangis tatkala berbicara mengenai penderitaan kami. Anda mengutip ayat-ayat suci yang menyejukkan hati kami. Jidat Anda hitam pertanda Anda giat dalam beribadah kepada sang Pencipta. Anda adalah orang-orang yang dermawan. Membagi-bagikan uang kepada kami. Tanpa meminta imbalan apapun kepada kami kecuali hanya satu saja memberikan suara kami kepada Anda. Percayalah kami akan memberikan suara kami kepada Anda.”

Kata demi kata, kalimat demi kalimat yang tulus dan dari hati yang terdalam meluncur dari mulut rakyat begitu saja. Mereka sangat dan sangat berharap apa yang mereka lakukan untuk mendukkung caleg bisa membawa pada perubahan kehidupan mereka. Caleg pun menangis, entah tangis haru, sedih, bahagia hanya para Caleg yang tahu. Dengan meyakinkan Caleg berkata,

“Nyawa kami sebagai taruhannya, tuhan menyaksikan ini. Kami akan berjuang untuk mensejahterahkan rakyat.”

Mendengar kalimat sederhana namun tegas dan dirasa berbobot itu, rakyat pun menangis haru dan bahagia. Mungkin inilah akhir penantian panjang itu. Bahwa kemiskinan, penderitaan, kesengsraan dan ketidak-adilan akan segera berakhir. Pemilu telah dekat, dan harapan itu kembali bersinar. Hidup dalam kesejahteraan.

Hari itu datang juga, PEMILU. Dengan tawa dan semangat penuh harap, rakyat memberikan suaranya untuk Caleg. Akhirnya caleg itu pun terpilih. Tawa senang menghiasi hampir di penjuru wajah caleg. Akhinrya tercapai juga. Duduk manis di kursi senayan untuk bekerja dan berjuang mensejahterahkan rakyat. Hari demi hari, bulan berganti tahun pun berganti, wajah Caleg tak pernah muncul bertatap dengan rakyat. Rakyat berteriak menagih janji-janji wakil mereka yang telah duduk empuk di Senayan, namun entah tersumbat apa, teriakan lantang yang membahana dari Sabang sampai Mirauke, dari Jogja sampai Rote hanya dianggap angin lalu saja oleh para wakil mereka di Senayan.

Wakil mereka setiap hari sibuk rapat, plesiran bahkan dengan alasan ini dan itu pergi keliling dunia. Rakyat pun semakin marah dan gerah dengan ulah wakil mereka yang menggunakan uang mereka untuk plesiran. Gaji besar, segala kebutuhan, fasilitas dan tunjangan terpenuhi, namun tak ada sesuatu yang dihasilkan berdampak pada kesejahteraan rakyat, yang ada rakyat justru semakin dibuat tumbal untuk memuaskan nafsu bejat kekuasaan.

Rakyatpun marah. Kemarahan yang tak lagi bisa dibendung. Mereka mencaci habis-habisan wakil meraka yang duduk di senayan. Di hati rakyat tak ada lagi Dewan Perwkilan rakyat, yang ada adalah Dewan Penipu Rakyat. Rakyat menangis, sementara tawa-gembira terlihat di wajah-wajah pendusta wakil-wakil. Sekarang tak ada lagi kepercayaan di hati rakyat untuk wakil-wakil mereka itu. Mereka mengatakan wakil rakyat namun pada hakekatnya mereka adalah wakil dari nafsu mereka sendiri dan kelompok atau partai yang mengusungnya. Agama mereka gadaikan untuk mengibuli rakyat. Julukan ustadz melekat. Namun akhlak sungguh bejat. Omong besar, omong kosong, sering terlontar dari mulut tak beradab para wakil rakyat. Rakyat sudah bosan, muak, jengkel dan entah kata apa lagi untuk menggambarkan kebencian pada wakil-wakil yang telah mengkhianati janji-janji pada rakyat………

Salam Perubahan

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: