Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

Direktur Pemberitaan : Kluget.Com

Menggugat Etika Politik Amin Rais

HL | 08 July 2013 | 17:38 Dibaca: 9926   Komentar: 98   52

13732797181067401543

(Amien Rais Sumber Photo : SejarahIndonesia.com)

Saat pemilihan Pilkada DKI 2012 kemarin Amin Rais sempat mengeluarkan pernyataan yang kontroversial mengenai Jokowi, prestasi Jokowi yang luar biasa di Solo dilabur habis oleh ucapan Amin Rais, saat Pilkada 2012 Partai Amin sedang mengusung Foke sebagai bagian gabungan Partai Koalisi yang menggempur Jokowi dan Ahok.

Ucapan Amien yang terkenal pedas itu menohok perasaan pendukung  Jokowi sampai ke ulu hati :

“Selama periode Jokowi, angka kemiskinan meningkat. Masih banyak daerah kumuh seperti di Kota Solo seperti di daerah Nusukan,” kata Amien di sela-sela silaturahim dengan keluarga besarnya di Bekonang, Sukoharjo, Selasa (21/8/2012).

(Amien Rais : Predikat Walikota Menyesatkan, Kompas.com)

Saat itu ucapan Amien Rais seakan-akan menjadi mesiu yang luar biasa untuk menghajar Jokowi yang berlanjut pada serangan tanpa dasar Akun Twitter @Trio_Macan2000. Lalu bagaimana sebuah etika politik diusung pada tokoh yang di jaman reformasi 1998 gembar-gembor disana sini tentang : High Politics, tentang Politik yang penuh etika?

Di saat dukungan Jokowi tidak terbendung dimana-mana, gairah rakyat menjadikan Jokowi mesin atas kemenangan politik 2014. Amien separuh mengemis dengan menempatkan jagoannya hanya untuk kursi : “Wakil Presiden”.

Lihatlah ucapan Amien Rais yang melakukan penawaran politik tanpa tahu malu yang saya kutik di detik.com :

“Kita membayangkan, bagaimana jika duet Prabowo-Hatta atau Jokowi-Hatta, atau juga sebaliknya ya (Hatta-Prabowo atau Hatta-Jokowi),” ucap Amien usai acara silaturahmi dengan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Moeldoko di Balai Kartini, Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Senin (8/7/2013).

(Detik.com : Amien Rais Soal Capres)

Bila ucapan ini diucapkan politisi kelas rendahan bagi saya tidak apa-apa, masalahnya ucapan ini dikatakan oleh Politisi kelas tinggi yang punya pengaruh luar biasa, menyejarah dan pernah dipercaya besar oleh rakyat pada masa penggulingan Suharto 1998 dan menjadi tokoh utama terhadap pengkhianatan Gus Dur di tahun 2001 yang mendekeng Megawati sebagai tokoh yang pernah ia blokir dengan Poros Tengahnya pada tahun 1999.Sikap Amien Rais yang opportunis itu semakin menjelaskan kenapa Reformasi 1998 kemarin tidak memiliki warna tegasnya, tidak memiliki alur jelasnya, karena pernah di korlap oleh pemimpin yang amat tidak memegang etika konsistensi dalam bersikap.

Konsistensi sikap adalah milik politisi yang jujur, Politik memang seni bermain kesempatan tapi dalam politik harus ada fatsoen, harus ada etika. Inilah yang Amien Rais tidak punya dan dibuktikan oleh sejarah.

Mungkin Amien Rais harus membaca lagi satu garis ucapan Pramoedya Ananta Toer tentang kejujuran dalam salah satu novelnya “Bumi Manusia” :

“Seorang terpelajar patutnya harus sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”…..

(Anton DH Nugrahanto)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

18 April; Saatnya Cari Tahu Soal Diabetes …

Listhia H Rahman | | 18 April 2015 | 16:17

Ramadhan Semakin Dekat, Stasiun TV Wajib …

Nahariyha Dewiwiddi... | | 18 April 2015 | 16:55

Blog Competition “Penyelamatan Sumber …

Kompasiana | | 16 April 2015 | 14:57

Memotret Hujan …

Ashira Darissa | | 18 April 2015 | 13:09

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi akan Mengganti Ridwan Kamil? …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Menpora Batal Hadiri KLB PSSI di Surabaya …

Hery | 8 jam lalu

Kongres Luar Biasa, Netizen Serukan Menpora …

Hasto Suprayogo | 8 jam lalu

Sesat Pikir Direktur Migrant …

Teguh Suprayogi | 10 jam lalu

Jokowi Ternyata Menitip Sesuatu pada Kapolri …

Aris Try Andreas Pu... | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: