Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Wira Wiri

seorang yang senangnya wirawiri alias jalan-jalan or traveling

Koalisi Jahanam Militer Mesir dan Golongan Oposisi Membantai Rakyat

OPINI | 08 July 2013 | 19:20 Dibaca: 875   Komentar: 70   2

oleh: Taura Taufikurahman

Sejarah demokrasi Mesir yang baru berumur setahun telah dihancurkan oleh koalisi jahanam militer Mesir dan golongan oposisi yang pada hari rabu 3 Juli 2013 yang lalu telah mengkudeta Presiden Mursi. Kendati pihak militer dan oposisi menolak aksi mereka disebut sebagai kudeta, karena itu kata yang sejatinya merupakan tindakan yang memalukan bagi mereka, tokh tidak ada kata lain yang lebih tepat menggambarkan pencabutan kekuasaan dari seorang Presiden yang terpilih secara demokratis setahun yang lalu itu selain sebagai KUDETA.

Koalisi tersebut sangat layak disebut koalisi “jahanam” karena dampak yang ditimbulkan dari hal tersebut adalah korban jiwa rakyat Mesir pendukung Presiden Mursi yang saat jumlahnya sudah mencapai sekitar 50 jiwa, yang ditembak secara membabi buta oleh militer Mesir saat para demonstran tersebut sedang melaksankan shalat subuh. Sungguh itu merupakan tindakan yang keji dan terkutuk.

Tuduhan golongan liberal-sosialis-koptik Mesir terhadap Presiden Mursi dan IkhwanulMuslimin (IM) adalah bahwa Mursi dan IM akan membawa Mesir menjadi Negara Teokratis seperti Iran, atau negara Islam (Islamic state), dan mereka kaum opisisi sangat anti terhadap hal tersebut. Mereka ingin Mesir modern yang liberal, pluralistik yang mengakomodasi semua golongan termasuk Kristen Koptik. Lebih lanjut mereka juga menuduh Mursi hanya mementingkan IM saja dalam menunjuk pejabat termasuk para menteri dan Gubernur.

Tuduhan-tuduhan tersebut sangat tidak beralasan, karena ketika Mursi menjadi Presiden dia juga mengajak orang Kristen Koptik untuk menjadi menteri dalam kabinetnya, demikian juga dari berbagai golongan yang lain. Presiden Mursi telah mengajak dan merangkul semua golongan untuk membangun Mesir setelah kondisi perekonomiannya tercabik-cabik selama 60an tahun berada dibawah rezim militer. Jika mereka bilang bahwa Presiden Mursi telah gagal membawa perbaikan perkonomian Mesir slama menjabat sebagai Presiden, ini juga tuduhan yang telalu karena masa satu tahun sangat jauh dari cukup bagi Presiden Mursi untuk menjalankan program-program reformasinya, mengingat selama waktu itu juga beliau dirongrong oleh berbagai tuntutan kaum oposisi dan militer.

Tuduhan yang lebih lucu lagi yang dilontarkan oleh golongan oposisi adalah mereka tidak menginginkan Mursi karena Mursi di back-up oleh Amerika. Poster-poster wajah Mursi dan pemimpin Amerika yang wajahnya dicoret serta spanduk-spanduk yang bertulisan penolakan terhadap intrervensi Amerika yang dilakukan via IM jelas merupakan tuduhan yang difabrikasi. Bagaimana mungkin Amerika mem-back up IM? Sejak dahulu apa yang diinginkan oleh Amerika adalah kestabilan wilayah dan pimpinan (raja) yang mudah disetir oleh Amerika. Orang-orang IM jelas bukan tipe orang yang mudah disetir oleh Amerika atau kekuatan asing lainnya. Jadi tuduhan itu sebetulnya seperti “maling teriak maling”.

Amerika memiliki hubungan yang sangat baik dengan militer Mesir semenjak perjanjian Camp David. Ada bantuan yang telah disepakati oleh Amerika terhadap militer Mesir setiap tahun dalam jumah yang besar. Dengan cara seperti ini intervensi Amerika terhadap Mesir sebetulnya yang paling mungkin adalah melalui militer Mesir, dan tidak mungkin melalui IM yang bagi Amerika IM merupakan organisasi yang layak dicurigai sangat sebagai potensial mendidik teroris.

Golongan oposisi yang dipimpin oleh El Baradei telah gagal dalam pemilihan legislatif (yang 50% diraih oleh IM) dan pemilihan Presiden tahun 2012 lalu. Kekalahan itu sangat menyakitkan bagi mereka, apalagi ditangan IM yang menurut mereka secara ideologis berseberangan dengan mereka. Pada sisi lain militer yang tahun lalu juga kehilangan power ketika rezim militer dictator Husni Mubarok ditumbangkan oleh rakyat juga mencari cara bagaimana agar militer kembali memegang kekuasaan kunci atau puncak di negeri itu dan bias mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh menjadi Presiden Mesir.

Kongkolingkong antara oposisi dan militer ini, dan kemungkinan besar di back up oleh Israel dan Amerika, menghasilkan makar yang inkonstitusional dan sangat memalukan dalam sejarah Mesir, makar yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan demokrasi yang baru setahun dibangun di Mesir, yakni militer atas nama “rakyat” (lebih tepatnya golongan oposisi yang terdiri dari liberal-sosialis-koptik) mencabut kekuasan Mursi secara paksa dan memberikan kursi kepresidenan kepadabonekanya, Mostashar Adly Mansur yang menurut Dr. Ahmad Mansur dari Aljazeera, Adly Mansur adalah seorang yahudi dari sekte sabtiyah.

Militer dan golongan oposisi melakukan selebrasi di Tahrir square dengan kembang api dan pesta-pora di jalan, ditingkahi dengan atraksi pesawat militer dengan melakukan selebrasi di udara. Sebuah kebodohan (kejahilan) yang luar biasa telah dipertontonkan oleh golongan oposisi yang diback-up oleh militer Mesir. Pada saat yang sama militer menahan Presiden legitimate Mursi dan para pemimpin IMdan menuduh mereka dengan tuduhan keji yakni menghasut rakyat untuk melakukan pembunuhan. Militer kemungkinan juga akan membekukan IM sebagaimana yang telah merkakukan sebelumnya. Sekarang siappun tahu bahwa militer Mesir lah yang telah membantai 50 jiwa pendukung Mursi, melukai 1000 orang dan 200 diantaranya dalam kondisi kritis.

Pastinya rakyat Mesir yang telah memilih Mursi sebagai Presiden pada pemilu tahun lalu bersama IM yang telah terdzlimi, akan melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan hingga pihak militer mengembalikan Mursi sebagai Presiden Mesir. IM telah menolak tawaran pemimpin transisi yang merupakan boneka militer itu untuk ikut serta dalam pemerintahan transisi.

Sejak ba’da jum’atan yang lalu lautan rakyat Mesir pendukung Presiden Mursi turun kejalan dengan mengambil pusat di dekat Cairo Univeristy, ini untuk mencegah bentrokan dengan para golongan oposisi para pendukung kudeta yang masih menguasaiTahrir square. Militer sendiri tampaknya menginginkan terjadinya bentrokan antar kedua kubu ini, sehingga mereka semakin merasa memiliki legitimasi untuk mengontrol Mesir atas nama keamanan negara # (Taura Taufikurahman/Kompasiana/8 Juli 2013)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 6 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 8 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Terapi Cahaya PINK di Rosereve Plaza …

Mila Vanila | 8 jam lalu

Menanti …

Rizki Fujiyanti | 8 jam lalu

Let’s Do Together …

Ayumulya | 8 jam lalu

Jokowi: Buah Demokrasi atau Kegagalan Total …

Jaka Pujiyono | 8 jam lalu

Banjir Melanda SMP Rehoboth Formasi …

Jurnalis Warga Samb... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: