Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Tak Ada “Jokowi” di Pilkada Padang

OPINI | 06 July 2013 | 22:00 Dibaca: 1118   Komentar: 26   5

Kota Padang akan melaksanakan pesta demokrasi pemilihan walikota dan wakil walikota tanggal 30 Oktober 2013 mendatang. Untuk itu, KPU Kota Padang telah menutup pendaftaran pasangan calon, Jumat (5/7/2013) kemaren.

Sampai hari terakhir masa pendaftaran pasangan calon tersebut, tepat pukul 16.00 Wib, telah mendaftar 10 pasangan calon, 3 dari jalur partai dan 7 dari jalur independen, masing-masing adalah:

Mahyeldi-Emzalmi (PKS-PPP), Maigus Nasir-Armalis M (independen), Indra Jaya-Yefri Hendri Darmi (independen), Kandris Asrin-Indra Dwipa (independen), Desri Ayunda-James Helliward (independen), Syamsuar Syam-Nardi Gusman (independen), Asnawi Bahar-Surya Budhi (independen), Emma Yohanna-Wahyu Iramana Putra (Golkar-PBB), Ibrahim-Nardi Gusman (independen) dan M. Ichlas El Qudsi-Januardi Sumka (Demokrat-PAN).

Dari ke-10 calon walikota tersebut, menurut pendapat penulis, tidak ada satu pun “Jokowi”. Kebanyakan diantaranya telah berkiprah di bidang masing-masing sebelum mereka mendaftar dan dari kiprahnya itu kurang menonjol sehingga mampu memberi harapan bagi kota ini.

Satu pasangan, tak perlu disebut namanya, bahkan memiliki tingkat “kecanduan agama” yang parah. Padahal, pemimpin politik apapun kalau sudah “kecanduan agama” tak bisa diharapkan lagi.

Setelah memimpin ia akan sibuk mengurusi hal-hal berkaitan dengan agama, moral, jadi polisi moral, polisi agama, dst. Otomatis mendiskriminasi dan melupakan aspek keadilan. Lupa pada tugas membenahi ekonomi, budaya kewargaan yang setara, dan wajah kota.

Selebihnya adalah pensiunan birokrat, pengusaha yang tak jelas keberpihakannya pada rakyat kecil, dan anggota DPR dan DPD yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang menonjol. Karena itu diyakini persaingan akan sangat ketat.

Apapun itu, mudah-mudahan pemenangnya nanti mampu mengubah wajah kota ini menjadi lebih baik. Ya, siapa tahu saja pemenangnya seolah “satrio piningit” yang sebelumnya tak diperhitungkan. Namun setelah terpilih sanggup buat gebrakan yang mencengangkan. Siapa tahu.

Sepuluh tahun dipimpin oleh Fauzi Bahar, kota Padang tak nampak perubahan secara berarti, malah lebih berantakan tak karu-karuan dibanding sepuluh tahun lalu. Bisa ditebak, Fauzi Bahar tipe pemimpin yang menonjol lakukan politisasi agama. Jualan andalannya adalah “Asmaul Husna”.

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengintip Penambangan Batu Mulia Indocrase …

Syukri Muhammad Syu... | | 01 February 2015 | 11:47

Bedanya Menyisihkan dengan Menyisakan (Uang) …

Rokhmah Nurhayati S... | | 01 February 2015 | 09:26

Telisik Dirilah saat Anak Membangkang! …

Muhammad Armand | | 01 February 2015 | 14:14

Mengejar Jodoh Ala Anak Muda Saudi …

Mariam Umm | | 31 January 2015 | 19:56

Catatan Kecil untuk Kinan …

Swazta Priemahardik... | | 01 February 2015 | 02:38


TRENDING ARTICLES

Mantan Penyidik KPK Akan Ungkap Borok …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Jokowi Lompat Pagar “Rumah Gelap Mega” …

Imam Kodri | 8 jam lalu

CNN: Siapa Jokowi Sesungguhnya? …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu

Mitologi Jawa dalam Kepemimpinan Jokowi …

Musri Nauli | 20 jam lalu

Sebab Senyapnya KMP di Kegaduhan …

Pebriano Bagindo | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: