Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Zen Muttaqin

AKU BUKAN APA-APA DAN BUKAN SIAPA-SIAPA. HANYA INSAN YANG TERAMANAHKAN, YANG INGIN MENGHIDUPKAN MATINYA KEHIDUPAN selengkapnya

Kecerdasan Spiritual Jokowi sebagai Pemimpin, Pindahkan PRJ ke Monas

REP | 23 June 2013 | 12:29 Dibaca: 5633   Komentar: 32   27

13719639821748425669

sumberfoto,www.merdeka.com

.

Pindahnya PRJ Ke Monas, Menunjukkan Kecerdasan Spiritual Jokowi Sebagai Pemimpin.

.

Ajang Pesta Rakyat Jakarta Dibuka di Silang Monas

.

Ahok menyatakan Pekan Raya Jakarta (PRJ) akan jadi pasar rakyat dengan memindahkan PRJ ke lapangan silang Monas. PRJ juga akan diambil alih pemprov DKI dari JIExpo yang biasa menyelenggarakan tiap tahunnya di Kemayoran Jakarta, dan melarang penggunaan logo dan nama PRJ.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok usai membuka Pekan Produk Kreatif Daerah (PPKD) Jakarta 2013 di Lapangan Silang Monas Jakarta Jumat malam (14/6) menjelaskan, untuk tahap awal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hanya menargetkan adanya kesempatan bagi pelaku usaha kecil serta produk kreatif bisa memasarkan produknya tanpa bayar alias gratis.

Untuk target selanjutnya tambah Ahok, Pemprov DKI Jakarta ingin merangkul para Pedagang Kaki Lima, supaya tidak berjualan di badan jalan sehingga  memacetkan arus lalu lintas. Pemprov DKI menurut Ahok berencana akan membuka areal Monas untuk pedagang kecil berjualan gratis.

“Monas harus dibuka sepanjang tahun setiap hari. Tahun ini kita pelajari sekaligus men-design, kira-kira gimana kalau kita buka toko-toko di bawah tanah. Jika selesai tahun ini maka tahun depan dimulai pembangunan parkiran dan toko-toko dibawah Monas. Baru namanya rakyat Jakarta bisa menikmati pesta rakyat. Ini kita khususnya buat pedagang kecil. Tapi kalau dia sudah mampu, kita persilakan keluar dan beri kesempatan buat yang lain,” kata Ahok.

Melegakan, Jokowi Tak bisa diperhitungkan gerakannya, dan tidak pernah terbersit sedikitpun selama ini, seluruh masyarakat seolah terbawa oleh irama gendang yang menina bobokkan sehingga mampu menjerumuskan kejurang gegar budaya.

Bukan gerakan sederhana dan begitu saja, seolah gerakan yang hanya menentang pebisnis yang rakus, dan menentang peristiwa Budaya yang sudah melekat, karena setiap tahun terselenggara, tanpa ada sedikitpun yang menggugat keberadaannya.

Sejak PRJ dipindahkan dari Monas ke Kemayoran, seolah peristiwa yang mengangkat keberadaan Betawi, namun justru semakin meneggelamkan kebudayaan local kedalam jurang kehancuran, dan membawanya kesuasana yang sama sekali beda dan lain, seolah memindahkan dan menggerus kebudayaan local dan menghilangkannya sama sekali tak ada bekasnya.

Ini tidak hanya berakibat terhadap hilangnya Betawi dan kebudayaan lokal, namun juga telah mencerabut serta menghilangkan tali rasa masyarakat Jakarta, terhadap masa lalu dan sejarahnya, serta asal muasalnya.

Jakarta menjadi kehilangan jati diri dan hilang begitu saja dari benak dan hati masyarakat jakarta, sebagai tanah kelahiran yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Jakarta yang juga ikut serta berjuang menciptakan kemerdekaan bumi ini dari penjajah dan penindasan, untuk menuju cita cita menjadi masyarakat yang bermartabat, memperoleh kesejahteraan dan terjaganya kebudayaan masa lalu.

Arus budaya yang ada selama ini, Bukan hanya sekedar menghilangkan dan menggusur warga betawi, namun lebih dari itu, bahkan telah menciptakan kesenjangan masyarakat Jakarta terhadap tanah kelahirannya, beserta sejarah yang membentuk dan melahirkannya.

Kehilangan pegangan kebudayaan bagi masyarakat yang terlahir di Jakarta dari akar budaya dan sejarah tanah kelahirannya, merupakan salah satu bentuk penghilangan identitas dan jati diri warga kelahiran Jakarta, mencabut dan memutus hubungan dengan masa lalunya..

Jokowi memiliki talenta yang tak bisa dikaji dan ditiru, memang sudah dari sononya begitu, dengan hanya menghirup suasananya saja seolah dirinya sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Dengan kecerdasan spiritual yang dimiliknya yang sangat langka dimiliki masyarakat Indonesia bahkan pemimpin yang ada selama ini,

Semangat dan Tekad mengembalikan PRJ ke Monas adalah salah satu bentuk kecerdasan spiritual yang dimiliki Jokowi.

Mengembalikan semangat PRJ ke Monas adalah satu langkah kecil namun memiliki Nilai spiritual yang sangat besar, terhadap keberadaan Jakarta dan jati dirinya sebagai Tanah kelahiran yang melahirkan masyarakat Jakarta, dan sebagai habitat untuk tumbuh dan berkembang.

Mengembalikan semangat dan keberadaan Jakarta merupakan milik seluruh masyarakat terutama masyarakat Grass Root Jakarta.

Tidak ada yang lebih setia dan terikat dan merekat terhadap tanah air Jakarta, selain masyarakat Grassroot Jakarta. Apapun yang terjadi mereka akan terus ada dan mempertahankan keberadaan Jakarta dalam keadaan apapun juga sampai akhir zaman.

Kesetiaan untuk mempertahankan Jakarta sebagai tanah kelahiran dan tanah tumpah darah yang melahirkannya, serta menjaga dan merawat Jakarta sebagai tanah tumpah darah yang harus dipelihara dan dicintainya.

Trimakasih Jokowi yang telah memulai gerakan mengembalikan Jakarta kepada pemilik aslinya, yaitu masyarakat Grass root yang terlahir di Jakarta,

Dari sini Insya Alloh semua akan terkuak dan menyadarkan seluruh masyarakat Jakarta untuk bersama sama membangun kehidupan dan habitat yang layak dan patut menjadi kebanggaan masyarakat Jakarta dimanapun berada.

Teruskan wawasan budaya Jakarta, menjadi budaya yang benar2 eksis didalam masyarakatnya.

.

Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !

.

Jakarta, 23 Juni 2013

.

Zen Muttaqin

.

.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | | 30 August 2014 | 00:43

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 13 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 13 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 17 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 20 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 23 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepenggal Kisah dari Laut …

Adi Arwan Alimin | 8 jam lalu

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Media Baru: Jurnalistik Online …

Adi Arwan Alimin | 8 jam lalu

Hotel Beraroma Jamu Tradisional …

Teberatu | 8 jam lalu

Menanti Pagi Di Kintamani …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: