Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Febrian Qomarullah

Seseorang yang hanya ingin berbagi untuk yang lain nya

Kebijakan Menaikan BBM dan BLSM

OPINI | 22 June 2013 | 14:33 Dibaca: 149   Komentar: 0   0

Semalam Resmi Bahan Bakar Minyak bersubsidi naik sekitar 40% menjadi Rp.6500 untuk Jenis premium dan Rp. 5500 untuk solar. mungkin untuk segelintir kalangan naiknya harga bbm tidak berpengaruh karena stabil nya keuangan dan pendapatan yang dihasilkan. merujuk data bps bahwa indonesia berhasil menekan laju kemiskinan pada tahun 2005-2009 (KIB jilid 1) dan hanya berkisar di 0.8%  dan pada tahun 2012 kemaren menurut  FITRA angka kemiskinan di indonesia berada pada presentase 22.8%. sedangkan menurut bappenas anggka kemiskinan per maret 2012 berada di kisaran 11.96 persen. apa yang menyebabkan terjadi selisih perhitungan antara FITRA dan bappenas. ya indonesia menurunkan standar pendapatan perkapita nya guna menekan nilai kemiskinan secara angka.

kembali ke masalah kenaikan bbm. melihat komposisi apbn yang di dirancang oleh pemerintah. sektor belanja masih memegang porsi terbanyak dalam apbn tahun ini. Subdidi BBM di APBN 2013 hanya Rp 193,8 triliun atau sekitar 12% dari total APBN. Faktanya, anggaran untuk membiayai aparatus negara mencapai 79% dari APBN. Sementara untuk membayar gaji pegawai mencapai 21%. artinya jika saja pemerintah mau sedikit memangkas anggaran belanja nya, mungkin opsi menaikan harga bbm bukan salah satu pilihan yang harus di ambil.dan setiap tahun APBN juga dibebani oleh pembayaran cicilan utang dan bunganya. Untuk tahun 2012, porsi pembayaran utang mencapai Rp 113,2 triliun. Pada APBN 2013, anggaran pembayaran utang mencapai 21%. Padahal, sebagian besar utang itu tidak pernah dinikmati oleh rakyat.

dan merujuk data bps tentang BLT . Data BPS memperlihatkan angka kemiskinan kenaikannya yang signifikan. Tahun 2006 Rumah Tangga Miskin (RTM) 19,1 juta (sekitar 76,4 jt jiwa). Tahun 2011 terjadi penambahan RTM 25,2 juta (100,8 jt jiwa). Artinya, dua tahun setelah BBM dinaikkan dan BLT disalurkan jumlah orang miskin bertambah 24,4 juta jiwa. dengan kenaikan bbm kali ini bukan tidak mungkin akan memicu peningkatan RTM.

okelah..nasi telah menjadi bubur..kebijakan untuk menaikan bbm sudah di putuskan dan dijalankan. saat ini rakyat menunggu efek domino dari kebijakan itu. jika memang kebijakan menaikan bbm itu menyelamatkan anggaran saya pun berusaha menerima dengan lapang dada.

tapi ada satu harapan bahwa pemerintah serius menyikapi persoalan bbm sehingga nilai jual nya tidak perlu naik setiap tahun nya. Ingat indonesia negara yang kaya akan SDA namun hampir 90 sudah di kuasai pihak asing. roduksi minyak Indonesia sebagian besar dikuasai oleh produksi asing. Data Kementerian ESDM tahun 2009 menyebutkan, pertamina hanya hanya memproduksi 13,8%. Sisanya dikuasai oleh swasta asing seperti Chevron (41%), Total E&P Indonesie (10%), Chonoco-Philips (3,6%) dan CNOOC (4,6%). Data ini tidak berbeda jauh dengan temuan Indonesian Re­sour­ce Studies (IRESS), bahwa Pertamina memproduksi hanya 15 persen dan 85 persen diproduksi oleh asing.apalagi lifting minyak yang terus menurun pada tahun 2004 masih berkisar 1,4 juta barel perhari. Namun, pada akhir 2011 lalu, produksi minyak Indonesia hanya 905.000 barel perhari. Bahkan, pada tahun 2012 ini, produksi minyak cuma berkisar 890.000 barel perhari. Menasionalisasikan sumber”kekayaan alam atau melakukan renegoisasi tentang kebijakan pembagian hasil nampak nya perlu dilakukan. untuk menyelamatkan kekayaan bangsa ini.

konsumen BBM bersubsidi bukan hanya sektor transportasi. Dalam Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2012 Tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis Bahan Bakar Tertentu, antara lain, disebutkan: pengguna BBM bersubsidi juga meliputi nelayan dan pembudi daya ikan skala kecil, usaha pertanian kecil dengan luas maksimal 2 hektar, usaha mikro (UMKM), dan pelayanan umum seperti krematorium. Artinya, jika BBM dinaikkan, sektor usaha kecil ini akan ambruk.

mengenail BLSM. mengapa dana yang disiapkan pemerintah untuk BLSM dan dana hasil pemotongan subsidi tidak dialihkan untuk pengembalian atau nasionalisasi sektor pertambangan minyak di indonesia dan juga mendukung sektro ukm agar tetap beroperasi pasca kenaikan harga bbm ini..



Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 10 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 15 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

V2 a.k.a Voynich Virus (Part 21) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 11 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: