Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Peran Pemuda dalam Pemilu 2014

OPINI | 19 June 2013 | 19:59 Dibaca: 215   Komentar: 1   0

Masih teringat jelas tragedi ’98, perubahan peta politik Indonesia dilakukan oleh para mahasiswa. Mereka menggulingkan rezim orde baru yang dipimpin oleh presiden Soeharto. Pada saat itu, mereka melakukan pergerakan besar-besaran yang ditandai dengan pendudukan gedung DPR MPR. Hal ini membuktikan bahwa golongan muda masih mempunyai kekuatan besar dalam ranah politik Indonesia.

Presiden Soekarno pernah berkata dalam salah satu pidatonya “Berikan aku 10 pemuda dan aku akan ku guncang dunia”.  Penyataan Soekarno ini masih membekas dalam benak para pemuda, khususnya yang peduli pada dunia politik di Indonesia. Pemuda memiliki idealis yang kuat, ditambah pada usianya, pemuda memiliki sikap kritis yang mampu membuka pikiran bangsa dalam melihat Indonesia. Tidak heran jika kini banyak partai politik yang membentuk barisan pemuda. Kader-kader pun dilantik dengan harapan para pemuda, yang notabene akan menjadi penerus idealisme partai, akan memperkuat kekuatan politik partai. Dilema pun muncul di tengah fenomena para aktivis, dalam konteks ini mahasiswa, menjadi kader sebuah partai politik.Para aktivis adalah golongan yang dengan vokal memperjuangkan kepentingan rakyat, sedangkan sebagian besar aktivis percaya bahwa pemimpin dari suatu partai politik pasti ditunggangi kepentingan politiknya, bukan kepentingan rakyat. Itu adalah sebagian kecil contoh peran golongan muda dalam ranah politik Indonesia.

Berbicara tentang politik tidak pernah lepas dari demokrasi yang diaplikasikan dalam pemilihan umum. Beribu pamflet dan spanduk dipasang di sudut-sudut kota dimana potret kesenjangan sosial masih bertebaran. Senyum manis para calon pemimpin menghiasi kesibukan kampanye yang gencar dilancarkan jauh sebelum pemilu berlangsung. Disini, pemuda berperan penting. Terlepas dari posisi golongan muda tersebut, baik netral ataupun kader sebuah partai politik, mereka adalah mesin penggerak suara. Pemikiran kritis dengan gaya khas pemuda mampu mengubah sudut pandang rakyat tentang pemimpin atau partai politik tertentu. Apalagi, banyak kaum apatis yang tiba-tiba menjadi demokratis menjelang pemilu. Ini adalah celah yang dimaksud, bagi  para pemuda untuk membuka pikiran mereka, dalam membentuk pengaruh yang berkekuatan besar. Pemuda mempunyai semangat yang besar. Pemuda mempunyai waktu yang banyak. Pemuda mempunyai keberanian yang tidak dimiliki oleh golongan tua. Maka,  itu lah pemuda, dalam bingkai politik Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

7 Perilaku Buruk Berlalu-lintas di Tiongkok …

Aris Heru Utomo | | 21 December 2014 | 09:10

Blusukan ke Pasar Pengalengan, Pasar Sayur …

Thamrin Sonata | | 20 December 2014 | 23:42

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 3 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 4 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Aburizal Bakrie Disandera Jokowi ? …

Adjat R. Sudradjat | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: