Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Peran Pemuda dalam Pemilu 2014

OPINI | 19 June 2013 | 19:59 Dibaca: 247   Komentar: 1   0

Masih teringat jelas tragedi ’98, perubahan peta politik Indonesia dilakukan oleh para mahasiswa. Mereka menggulingkan rezim orde baru yang dipimpin oleh presiden Soeharto. Pada saat itu, mereka melakukan pergerakan besar-besaran yang ditandai dengan pendudukan gedung DPR MPR. Hal ini membuktikan bahwa golongan muda masih mempunyai kekuatan besar dalam ranah politik Indonesia.

Presiden Soekarno pernah berkata dalam salah satu pidatonya “Berikan aku 10 pemuda dan aku akan ku guncang dunia”.  Penyataan Soekarno ini masih membekas dalam benak para pemuda, khususnya yang peduli pada dunia politik di Indonesia. Pemuda memiliki idealis yang kuat, ditambah pada usianya, pemuda memiliki sikap kritis yang mampu membuka pikiran bangsa dalam melihat Indonesia. Tidak heran jika kini banyak partai politik yang membentuk barisan pemuda. Kader-kader pun dilantik dengan harapan para pemuda, yang notabene akan menjadi penerus idealisme partai, akan memperkuat kekuatan politik partai. Dilema pun muncul di tengah fenomena para aktivis, dalam konteks ini mahasiswa, menjadi kader sebuah partai politik.Para aktivis adalah golongan yang dengan vokal memperjuangkan kepentingan rakyat, sedangkan sebagian besar aktivis percaya bahwa pemimpin dari suatu partai politik pasti ditunggangi kepentingan politiknya, bukan kepentingan rakyat. Itu adalah sebagian kecil contoh peran golongan muda dalam ranah politik Indonesia.

Berbicara tentang politik tidak pernah lepas dari demokrasi yang diaplikasikan dalam pemilihan umum. Beribu pamflet dan spanduk dipasang di sudut-sudut kota dimana potret kesenjangan sosial masih bertebaran. Senyum manis para calon pemimpin menghiasi kesibukan kampanye yang gencar dilancarkan jauh sebelum pemilu berlangsung. Disini, pemuda berperan penting. Terlepas dari posisi golongan muda tersebut, baik netral ataupun kader sebuah partai politik, mereka adalah mesin penggerak suara. Pemikiran kritis dengan gaya khas pemuda mampu mengubah sudut pandang rakyat tentang pemimpin atau partai politik tertentu. Apalagi, banyak kaum apatis yang tiba-tiba menjadi demokratis menjelang pemilu. Ini adalah celah yang dimaksud, bagi  para pemuda untuk membuka pikiran mereka, dalam membentuk pengaruh yang berkekuatan besar. Pemuda mempunyai semangat yang besar. Pemuda mempunyai waktu yang banyak. Pemuda mempunyai keberanian yang tidak dimiliki oleh golongan tua. Maka,  itu lah pemuda, dalam bingkai politik Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Beginilah, Bila Sesama Tunanetra Saling …

Gapey Sandy | | 23 May 2015 | 07:51

Kisah Penghapusan Skripsi di Perguruan …

Muhammad Armand | | 23 May 2015 | 07:07

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48

Keyboard Komputer yang Kita Pakai …

Herman R. Soetisna | | 23 May 2015 | 05:55

Blog Competition: Kotaku Kota Cerdas! …

Kompasiana | | 27 April 2015 | 01:52


TRENDING ARTICLES

Favorit Bule, PSK Eksotis Indonesia dibayar …

Riana Dewie | 7 jam lalu

Dihantui Rasa Bersalah ,Tehnisi QZ8501 Bunuh …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Deadline FIFA Seminggu Lagi, PSSI justru …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Belajar dari Jokowi memilih 9 Wanita …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Jokowi Merekrut Orang Gila Agar Bisa Tetap …

Ahmad Maulana S | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: