Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Syifa Nurul Nisa

UNJ/FBS/Pendidikan Bahasa Jepang :)))

Pemuda Golongan Putih dalam Pemilu

OPINI | 19 June 2013 | 21:04 Dibaca: 122   Komentar: 2   0

Pemuda Golongan Putih dalam Pemilu

‘Pilih sesuai hati nurani!’ begitulah tagline yang selalu beredar di tengah tengah pesta demokrasi rakyat, pemilu. Pada waktu pelaksanaan pemilu rakyat dibebaskan untuk memilih satu diantara kandidat yang wajahnya terpampang di kertas suara. Kandidat yang mendapat suara terbanyak umumnya adalah mereka yang dengan gencar berkampanye disana sini, maupun yang sudah lama berkecimpung di dunia politik. Banyak sekali partai-partai politik yang mengirim perwakilannya untuk maju dan mencoba peruntungannya dalam perebutan kursi pemimpin Negara.

Berbagai daya dan upaya mereka kerahkan demi mendapatkan simpati serta dukungan rakyat. Macam-macam cara pun mereka halalkan dari mulai Money politik, Tim sukses, Black Campaign, dsb. Parpol-parpol tersebut tentulah tahu betul siapa yang akan menjadi sasaran mereka. Mirisnya, karena di Indonesia orang orang yang memiliki kesadaran politik jumlahnya belum terlalu mendominasi, maka dari jutaan penduduk di nusantara ini mereka banyak mengincar rakyat rakyat kecil yang terkesan awam akan dunia perpolitikan. Bahkan mereka rela mendatangi daerah daerah terpencil yang jarang terjamah demi mengharapkan dukungan para simpatisan. Caranya, apalagi kalau bukan politik uang.

Bagi orang orang yang melek politik tentulah mereka berpegangan teguh pada ideologinya sendiri dan menentang segala bentuk politik yang berdebu, maka dari itu lahirlah golongan golongan putih atau yang lebih popular dengan istilah GOLPUT. Bagi sebagian orang, golput merupakan langkah menuju jurang kehancuran politik di Indonesia, namun sejatinya golput merupakan perwujudan dari apa yang dikatakan orang orang mengenai ‘pilih sesuai hati nurani’. Golput di dominasi oleh kaum kaum muda di Indonesia, dan istilah ini pun pertama kali tercetus oleh Arief Budiman, pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap pemilu 1971.

Seiring berjalannya waktu, pemuda-pemuda pun banyak yang memilih golput daripada harus memilih yang tidak sesuai dengan hati nurani. Kalau sudah begini, rasanya sah saja jika pemilu diwarnai oleh golongan putih yang melek akan hukum daripada para pemilih yang memilih berdasarkan kepentingan pribadi yang justru bisa membawa Indonesia ke ambang kehancuran. Bayangkan akan menjadi apa bangsa Indonesia jika kebebasan ideologinya terkungkung dalam suatu keterbatasan yang menjadikan mereka seorang awam yang hanya bisa bergantung pada janji janji manis calon pemimpin? Akankan mereka jauh lebih baik dari si golput? Ataukah si golput adalah calon-calon penerus yang akan meluruskan perpolitikan Indonesia? Jawabannya ada di dalam jiwa para pemuda Indonesia. Hidup pemuda! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 8 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 10 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 11 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 12 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: