Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Syifa Nurul Nisa

UNJ/FBS/Pendidikan Bahasa Jepang :)))

Pemuda Golongan Putih dalam Pemilu

OPINI | 19 June 2013 | 21:04 Dibaca: 124   Komentar: 2   0

Pemuda Golongan Putih dalam Pemilu

‘Pilih sesuai hati nurani!’ begitulah tagline yang selalu beredar di tengah tengah pesta demokrasi rakyat, pemilu. Pada waktu pelaksanaan pemilu rakyat dibebaskan untuk memilih satu diantara kandidat yang wajahnya terpampang di kertas suara. Kandidat yang mendapat suara terbanyak umumnya adalah mereka yang dengan gencar berkampanye disana sini, maupun yang sudah lama berkecimpung di dunia politik. Banyak sekali partai-partai politik yang mengirim perwakilannya untuk maju dan mencoba peruntungannya dalam perebutan kursi pemimpin Negara.

Berbagai daya dan upaya mereka kerahkan demi mendapatkan simpati serta dukungan rakyat. Macam-macam cara pun mereka halalkan dari mulai Money politik, Tim sukses, Black Campaign, dsb. Parpol-parpol tersebut tentulah tahu betul siapa yang akan menjadi sasaran mereka. Mirisnya, karena di Indonesia orang orang yang memiliki kesadaran politik jumlahnya belum terlalu mendominasi, maka dari jutaan penduduk di nusantara ini mereka banyak mengincar rakyat rakyat kecil yang terkesan awam akan dunia perpolitikan. Bahkan mereka rela mendatangi daerah daerah terpencil yang jarang terjamah demi mengharapkan dukungan para simpatisan. Caranya, apalagi kalau bukan politik uang.

Bagi orang orang yang melek politik tentulah mereka berpegangan teguh pada ideologinya sendiri dan menentang segala bentuk politik yang berdebu, maka dari itu lahirlah golongan golongan putih atau yang lebih popular dengan istilah GOLPUT. Bagi sebagian orang, golput merupakan langkah menuju jurang kehancuran politik di Indonesia, namun sejatinya golput merupakan perwujudan dari apa yang dikatakan orang orang mengenai ‘pilih sesuai hati nurani’. Golput di dominasi oleh kaum kaum muda di Indonesia, dan istilah ini pun pertama kali tercetus oleh Arief Budiman, pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap pemilu 1971.

Seiring berjalannya waktu, pemuda-pemuda pun banyak yang memilih golput daripada harus memilih yang tidak sesuai dengan hati nurani. Kalau sudah begini, rasanya sah saja jika pemilu diwarnai oleh golongan putih yang melek akan hukum daripada para pemilih yang memilih berdasarkan kepentingan pribadi yang justru bisa membawa Indonesia ke ambang kehancuran. Bayangkan akan menjadi apa bangsa Indonesia jika kebebasan ideologinya terkungkung dalam suatu keterbatasan yang menjadikan mereka seorang awam yang hanya bisa bergantung pada janji janji manis calon pemimpin? Akankan mereka jauh lebih baik dari si golput? Ataukah si golput adalah calon-calon penerus yang akan meluruskan perpolitikan Indonesia? Jawabannya ada di dalam jiwa para pemuda Indonesia. Hidup pemuda! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 6 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 11 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 17 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Basah di Mata (Puisi) …

Eko Zetialism | 8 jam lalu

Pasang Surut Seni Jarang Kepang Di Ponorogo …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Jokowi Butuh Rp 265 Triliun (7) …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Alphard dan Underpass Permata Hijau …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Torres, Sejarah Tragis Pemain Spanyol dan …

Garin Prilaksmana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: