Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Pemuda Bermain Peran dalam “Panggung Demokrasi”

OPINI | 19 June 2013 | 22:34 Dibaca: 238   Komentar: 2   0

Tak dapat dipungkiri, sejak era sebelum kemerdekaan, pasca kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, sampai Orde Reformasi, partisipasi pemuda dalam menyuarakan demokrasi sangat mendominasi perjalanan panjang sejarah dunia perpolitikan dan perjuangan di Indonesia. Proses perjungan dalam ruang dan waktu tersebut, kini telah menjadi sebuah catatan yang memperlihatkan eksistensi para pemuda dalam mencetuskan, mengawali, mengiringi setiap langkah perjuangan hingga mencapai kemerdekaan. Sumpah pemuda yang dikumandangkan 1928, proklamasi kemerdekaan 1945, dan reformasi 1998, menunjukkan bahwa peran pemuda dalam kebangkitan bangsa memang begitu kuat.

Sejarah banyak mencatat bagaimana para pemuda mewarnai perjalanan kemerdekaan hingga kini, dalam konteks perjungan yang tidak lagi berperang melawan penjajah, melainkan perjungan masa modern yang berfokus pada peran pemuda dalam 3 kategori yaitu sebagai Iron stock, director of changes, dan social control. Hal inilah yang kemudian menjadi panduan dari setiap langkah para pemuda dalam mengambil langkah maupun strategi dalam mendukung kemajuan Negara Indonesia dari segala aspek.

Perlu disadari bahwa salah satu aspek terpenting dan skenario terbesar dalam mendukung terciptanya kemerdekaan di atas kemerdekaan adalah ‘panggung demokrasi’ pemilihan Presiden yang pada hari ini justru banyak ditinggalkan oleh mayoritas pemuda. Padahal jika ditarik garis besar dalam dunia pergerakan dan perjungan bangsa ini adalah adanya sosok-sosok kepemimpinan yang dapat melahirkan bangsa yang kuat dan sadar akan pentingnya kemerdekaan dari penjajah.

Banyak pemuda yang merasa bahwa kini tidak ada lagi pemimpin yang dapat dipercaya, dan akhirnya mengambil jalur pintas dengan cara keluar dari perannya sebagai ‘pemuda’. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya menjadi ‘Golput’ sejatinya merupakan tindakan dan sikap apatisme terhadap masalah-masalah yang memang sedang diderita oleh bangsa ini. Jika pemudanya saja pasrah, kemudian melarikan diri, lalu kemana Negara ini akan dibawa?

Adanya ‘panggung demokrasi’ dalam dunia perpolitikan di Indonesia, sudah seharusnya dapat disikapi secara bijaksana oleh para pemudanya. Salah satu tindakan nyatanya adalah terbuka lebarnya kesempatan bagi para pemuda untuk menunjukkan perannya dalam PEMILU 2014 yang sudah ada di depan mata. Sudah saatnya para pemuda merapatkan barisan mereka, kemudian memainkan peran sebagai dokter bagi negeri yang sedang sakit ini.

PEMILU 2014, akan menjadi penentu apakah negeri ini akan semakin sakit ataupun berjalan menuju kesembuhan dan kebangkitannya setelah sekian lama dalam ‘penjajahan era lama’ maupun ‘penjajahan modern’ saat ini.

Peran pemuda sejatinya merupakan nahkoda kapal, yang dapat menentukan kemana kapal ini akan berlayar. Peran pemuda juga merupakan bahan bakar yang tidak pernah ada habisnya dalam mengiringi perjalanan kehidupan bangsa.

Yang diharapkan dari PEMILU 2014 yang akan menjelang adalah adanya konsep dan strategi matang dari para pemudanya untuk cerdas dalam menggunakan hak pilihnya, cermat dalam memilih dan merakyat dalam pilihannya maka rakyat akan berbicara, satu suara.

Semua akan kembali kepada pergerakan pemuda Indonesia. Masihkah sanggup menyaksikan kemerdekaan bangsa yang ‘tak bernyawa’. Karena sesungguhnya berdirinya Negara Indonesia bukanlah untuk mencapai kata ‘Merdeka’, melainkan untuk mensejahterahkan kehidupan bangsa sesuai dengan UUD 1945.

Pemuda dalam peran, berpacu dalam waktu dan ruang. Ditangan merekalah terletak nasip dan arah bangsa_ _

Jikalau Soekarno mengatakan “berikan aku 10 pemuda,” maka mari sama-sama kita katakan, “berikan negeri ini seluruh jiwa muda Indonesia, maka negeri ini akan mengguncang dunia”.

_Farah Novia_

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 11 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | 7 jam lalu

Si Bintang yang Pindah …

Fityan Maulid Al Mu... | 8 jam lalu

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | 8 jam lalu

Jokowi Mirip Ahmadinejad …

Rushans Novaly | 8 jam lalu

Alternatif Solusi Problem BBM Bersubsidi …

Olivia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: